Oleh Nabila Kartika Luthfa
Pernahkah kalian berjalan santai di kompleks perumahan yang sepi pada jam sembilan pagi, mendengar gemerincing spatula beradu dengan wajan, atau sayup-sayup suara tangis balita yang sedang ditenangkan ibunya?
Di balik dinding-dinding rumah yang tampak tenang itu, ada sebuah realitas sunyi yang jarang masuk dalam infografis kesuksesan modern. Di balik rutinitas harian menyiapkan bekal, mendampingi anak belajar dan memastikan rumah tetap hangat, ada dialog batin yang kerap disembunyikan tentang kerinduan untuk mengaktualisasikan diri dan rasa cemas bahwa waktu miliknya perlahan habis.
Ada jutaan perempuan di sekitar kita yang hari ini berhenti berkarya. Bukan karena mereka bodoh, bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka tidak memiliki kemewahan bernama pilihan.
Di sudut kota, seorang mantan lulusan terbaik universitas kini sibuk memilah cucian kotor. Di sudut lain, seorang perempuan paruh baya terpaksa mengajukan surat pengunduran diri demi menyuapi orang tuanya yang sedang sakit.
Di tempat berbeda, seorang single parent harus mengubur ambisi naik jabatan karena tidak ada yang menjaga anaknya saat jam lembur tiba. Bagi mereka, slogan-slogan penyemangat seperti “Kejar mimpimu!” atau “Perempuan harus mandiri secara finansial!” tidak terdengar seperti motivasi. Slogan itu terdengar seperti sebuah privilege, sebuah hak istimewa yang hanya bisa dibeli oleh sebagian orang.
Ilusi Menjadi “Tokoh Utama”
Dunia modern senang sekali merayakan perempuan yang berhasil berdiri tegak di puncak karier. Mereka dipuji di atas panggung, diwawancarai media, dan dijadikan simbol emansipasi abad ini. Namun, industri dan narasi sosial kita sering kali menutup mata dari satu pertanyaan krusial: Siapa yang menanggung beban domestik di belakang kesuksesan mereka?
Faktanya, tidak semua perempuan lahir dengan sistem pendukung (support system) yang kuat. Tidak semua orang mampu membayar pengasuh anak (nanny) yang andal, menyewa asisten rumah tangga, atau memiliki keluarga besar yang siap sedia mengulurkan tangan kapan saja.
Ketika seorang perempuan memutuskan untuk menurunkan egonya, melipat ijazahnya, dan mengubur ambisinya demi mengurus anak yang sakit atau merawat orang tua yang menua, dunia modern kerap melihatnya sebagai “kemunduran”. Padahal, keputusan itu bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah sebuah pengorbanan raksasa yang sayangnya, tidak pernah masuk dalam metrik penilaian kesuksesan versi korporat maupun media sosial.
Dunia menuntut perempuan untuk bisa melakukan segalanya. Menjadi ibu yang sempurna, anak yang berbakti, sekaligus individu yang produktif secara ekonomi. Namun, struktur sosial kita jarang memberikan jaring pengaman bagi pilihan-pilihan sulit tersebut.
Kepasrahan yang Dibungkus Kata “Pilihan”
Pada akhirnya, apa yang dunia sebut sebagai “pilihan” sering kali bukanlah kebebasan memilih, melainkan sebuah kepasrahan yang dipaksakan oleh keadaan.
Saat seorang perempuan memutuskan tinggal di rumah dan melepaskan kariernya, ia tidak sedang memilih antara dua opsi yang sama-sama nyaman. Ia sedang melakukan kalkulasi darurat: siapa yang harus ia selamatkan terlebih dahulu di dalam keluarganya? Dan dalam kalkulasi itu, ego serta masa depan pribadinya hampir selalu menjadi tumbal pertama.
Menjadi seorang ibu, merawat orang tua yang sakit, atau berjuang sendirian membesarkan anak adalah rentetan takdir yang teramat berat. Di balik keputusan-keputusan itu, ada sebuah “ruang tunggu” panjang yang pengap, berisi mimpi-mimpi masa muda yang sengaja diistirahatkan atau dalam skenario paling melankolis, dimakamkan secara perlahan.
Mendefinisikan Ulang Arti “Berkarya”
Sudah saatnya kita berhenti memandang pilihan domestik ini dengan sebelah mata, seolah-olah mereka yang memilih menjaga rumah telah kalah dalam kompetisi kehidupan. Berhenti menghakimi pencapaian seorang perempuan hanya dari lembar ijazah, nominal gaji, atau posisi jabatannya di kantor.
Dilema Kepercayaan: “Kalau Bukan Aku, Siapa Lagi?”
Di luar faktor ketiadaan jaring pengaman, ada satu beban psikologis besar yang sering kali mengunci langkah perempuan di ruang domestik: krisis kepercayaan terhadap pengasuhan orang lain. Di zaman di mana berita tentang kelalaian pengasuh, kekerasan pada anak, hingga renggangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak begitu mudah berseliweran, menyerahkan buah hati ke tangan orang lain bukanlah perkara mudah.
Bagi seorang ibu, anak bukanlah aset yang bisa dititipkan begitu saja saat jam kerja dimulai. Ada ketakutan emosional yang nyata. Ketakutan bahwa nilai-nilai kebaikan yang ingin ditanamkan akan meleset, atau ketakutan bahwa momen-momen emas tumbuh kembang anak akan hilang tanpa sempat mereka saksikan.
Akhirnya, muncul sebuah kesimpulan yang lahir dari rasa cinta sekaligus kecemasan: *”*Aku harus mengurusnya sendiri, karena aku tidak bisa memercayakan masa depan anakku pada siapapun.”
Ketika keyakinan ini mengetuk hati, seketika itu pula perdebatan tentang karier selesai. Perempuan tersebut memilih untuk turun tangan langsung, mengawasi setiap jengkal tumbuh kembang darah dagingnya, meskipun ia tahu harga yang harus dibayar adalah melipat ijazah dan menaruh mimpinya di laci paling bawah.
Pilihan ini bukan karena mereka posesif, melainkan wujud dari naluri protektif tertinggi seorang ibu yang merasa bahwa peran pengasuhan tidak akan pernah bisa didelegasikan kepada orang asing, seberapapun mahalnya bayaran mereka.
Justru dalam setiap keputusan untuk mendahulukan kehidupan orang lain di atas ambisi pribadi, ada ketangguhan luar biasa yang sedang dipraktikkan. Panggung berkarya seorang perempuan tidak pernah dibatasi oleh sekat-sekat ruang kantor. Jauh di dalam rumah, dalam kesunyian yang tidak terekam kamera, mereka sedang menciptakan karya terbesar yang tak ternilai harganya: menjaga keutuhan sebuah kehidupan.










Leave a Reply
View Comments