Generus Indonesia
Gaya Hidup Ini Diam-Diam Bikin Keuangan Gen Z Berantakan. Gambar: Generus

Gaya Hidup Ini Diam-Diam Bikin Keuangan Gen Z Berantakan

Oleh Fitri Utami

Ada satu kalimat yang belakangan sering berseliweran di media sosial: “In this economy…”

Biasanya kalimat itu dipakai saat seseorang mengeluh karena harga makanan naik, biaya hidup makin mahal, atau gaji terasa numpang lewat. Memang, kondisi ekonomi saat ini membuat banyak anak muda harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apakah dompet kita benar-benar tipis karena keadaan ekonomi? Atau jangan-jangan, ada kebiasaan kecil yang selama ini diam-diam ikut menguras isi rekening?

Bukan berarti kita nggak boleh menikmati hidup. Gen Z memang dikenal sebagai generasi yang menghargai pengalaman, self reward, dan hidup yang seimbang. Namun, kalau semua keinginan selalu dianggap kebutuhan, keuangan bisa ikut kewalahan.

Nah, coba cek, jangan-jangan lima kebiasaan ini juga masih sering kamu lakukan.

1. Malu Jadi Outfit Repeater

    Media sosial membuat kita merasa harus selalu tampil berbeda di setiap kesempatan. Baru sekali dipakai, baju rasanya “udah pernah muncul di feed“. Akhirnya setiap ada acara, solusi paling mudah adalah beli outfit baru.

    Padahal, kenyataannya orang lain tidak terlalu memperhatikan baju yang kita pakai sebanyak yang kita bayangkan. Justru orang yang benar-benar cerdas secara finansial tahu bahwa pakaian adalah aset yang seharusnya dipakai berkali-kali. Mengulang outfit bukan berarti nggak mampu beli baru, tetapi tanda bahwa kita menghargai apa yang sudah dimiliki. Kalau masih layak dipakai, kenapa harus beli lagi?

    2. Lifestyle Creep Setelah Mulai Punya Penghasilan

      Masih ingat waktu pertama kali menerima gaji?

      Rasanya ingin membalas semua keinginan yang dulu tertunda. Upgrade gadget, makan di tempat yang lebih mahal, langganan berbagai aplikasi, sampai membeli barang yang sebelumnya hanya masuk wishlist.

      Masalahnya, ketika penghasilan naik, pengeluaran sering kali ikut naik lebih cepat.

      Fenomena ini disebut lifestyle creep. Semakin besar pendapatan, semakin tinggi pula standar hidup yang kita anggap “normal”. Akibatnya, meski gaji bertambah, tabungan tetap tidak bertambah. Kalau setiap kenaikan penghasilan langsung habis untuk menaikkan gaya hidup, kapan kesempatan kita membangun dana darurat dan investasi?

      3. Belanja Karena Keracunan Konten

        “Racun banget!”

        Kalimat ini mungkin sudah jadi bahasa sehari-hari di TikTok atau Instagram.

        Melihat seseorang mencoba produk baru, review yang meyakinkan, ditambah promo terbatas, membuat kita merasa harus ikut membeli. Padahal lima menit sebelumnya kita bahkan tidak tahu barang itu ada.

        Konten memang dirancang untuk memengaruhi keputusan kita. Karena itu, sebelum checkout, coba beri jeda satu atau dua hari. Tanyakan pada diri sendiri, “Aku benar-benar butuh, atau cuma FOMO?” Sering kali keinginan itu hilang setelah emosinya reda.

        4. Cashless Bikin Uang Keluar Nggak Terasa

          Bayar tinggal scan QR, satu klik, selesai.

          Praktis memang. Namun kemudahan ini juga membuat kita kehilangan “rasa sakit” saat mengeluarkan uang.

          Berbeda ketika membayar tunai dan melihat lembaran uang berpindah tangan, transaksi digital terasa seperti sekadar angka di layar. Akhirnya jajan Rp25 ribu, ongkir Rp15 ribu, kopi Rp35 ribu, camilan Rp20 ribu terasa sepele. Padahal kalau dijumlahkan dalam sebulan, nominalnya bisa mencapai jutaan rupiah.

          Cashless bukan masalahnya. Yang perlu dijaga adalah kesadaran terhadap setiap transaksi yang kita lakukan.

          5. Daily Coffee Jadi Kebutuhan, Padahal Awalnya Cuma Keinginan

            Kopi bukan lagi sekadar minuman. Bagi sebagian anak muda, kopi sudah menjadi bagian dari identitas dan rutinitas. Rasanya ada yang kurang kalau belum mampir ke coffee shop sebelum bekerja.

            Sesekali tentu tidak masalah. Namun ketika segelas kopi Rp35.000 menjadi pengeluaran harian, dalam sebulan jumlahnya bisa mendekati satu juta rupiah.

            Bayangkan kalau sebagian uang itu dialihkan untuk dana darurat, investasi emas, atau tabungan pendidikan. Bukan berarti harus berhenti ngopi. Yang perlu diubah adalah frekuensi dan prioritasnya.

            Bijak Mengelola Rezeki Adalah Bentuk Syukur

            Dalam Islam, kita diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan. Allah SWT berfirman:

            وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

            “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
            (QS. Al-A’raf: 31)

            Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa harta adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, setiap rupiah yang kita keluarkan sebaiknya membawa manfaat, bukan sekadar memenuhi gengsi atau dorongan sesaat.

            Di tengah kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, kemampuan mengelola uang bukan lagi sekadar keterampilan, tetapi bekal hidup. Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa besar gaji kita. Yang menentukan masa depan adalah seberapa bijak kita mengelolanya.

            Jadi, kalau hari ini masih sering berkata, “In this economy…”, mungkin bukan hanya ekonomi yang perlu disalahkan. Bisa jadi, saatnya kita juga mengevaluasi gaya hidup sendiri.

            Sebab hidup sederhana bukan berarti tidak mampu. Justru itu tanda bahwa kita sedang menyiapkan masa depan dengan lebih matang.