Oleh Fitri Utami
Pernah nggak sih kamu ngerasa, dulu waktu masih kuliah uang Rp50 ribu bisa dipakai seharian. Sekarang, baru keluar rumah sebentar, saldo e-wallet sudah berkurang ratusan ribu. Padahal kalau dipikir-pikir, kebutuhan hidupmu sebenarnya nggak berubah drastis.
Atau mungkin kamu pernah bilang, “Nanti kalau gajiku naik, pasti bisa nabung banyak.” Tapi anehnya, setelah benar-benar dapat kenaikan gaji, tabungan tetap segitu-segitu aja. Malah kadang masih nunggu tanggal gajian sambil berharap saldo bertahan beberapa hari lagi.
Kalau relate, bisa jadi kamu sedang mengalami lifestyle creep.
Istilah ini memang sedang sering dibahas di dunia finansial, terutama karena banyak dialami generasi muda. Sederhananya, lifestyle creep adalah kondisi ketika penghasilan naik, tapi gaya hidup ikut naik. Akibatnya, uang tambahan yang seharusnya bisa ditabung atau diinvestasikan malah habis untuk memenuhi standar hidup baru.
Jadi masalahnya bukan karena gajimu kurang. Bisa jadi karena setiap kali penghasilan bertambah, pengeluaranmu juga ikut “naik level”.
Awalnya Cuma Self Reward, Lama-Lama Jadi Kebutuhan
Nggak ada yang salah dengan self reward. Setelah kerja keras dari Senin sampai Jumat, sesekali beli makanan favorit atau ngopi di coffee shop memang bisa jadi cara mengapresiasi diri.
Masalahnya muncul ketika sesuatu yang awalnya hanya sesekali berubah jadi rutinitas. Dulu ngopi di coffee shop cuma pas lagi ketemu teman. Sekarang, rasanya setiap pagi harus beli kopi dulu baru bisa kerja.
Dulu naik transportasi umum nggak masalah. Setelah punya penghasilan tetap, mulai merasa harus selalu naik ojek online. Dulu satu layanan streaming sudah cukup. Sekarang langganan tiga atau empat platform sekaligus karena takut ketinggalan film terbaru.
Semuanya kelihatan kecil kalau dilihat satu per satu. Tapi kalau dikumpulkan selama sebulan? Nominalnya bisa bikin kaget. Yang lebih bahaya, kita mulai menganggap semua itu sebagai “kebutuhan”, padahal dulu kita baik-baik saja tanpa itu.
Gaji Naik = Standar Hidup Ikut Naik?
Coba flashback sebentar.
Waktu pertama kali diterima kerja, mungkin targetmu sederhana. Yang penting punya pemasukan tetap, bisa bantu orang tua, dan mulai nabung.
Lalu beberapa bulan kemudian gaji naik. Harusnya kabar baik, kan? Tapi tanpa sadar, mulai muncul pikiran seperti:
“Kayaknya sudah saatnya ganti HP.”
“Masa sudah kerja masih pakai tas yang lama?”
“Sekarang kan sudah mampu, sesekali makan di restoran mahal nggak apa-apa.”
“Kayaknya sudah waktunya upgrade gym membership.”
Semua keputusan itu mungkin masuk akal kalau dilihat satu per satu. Tapi kalau semuanya dilakukan bersamaan, kenaikan gaji yang tadi terasa besar langsung habis begitu saja. Akhirnya muncul pertanyaan yang sering bikin bingung:
“Kok gajiku naik, tapi hidupku rasanya tetap pas-pasan ya?”
Jawabannya sederhana. Karena yang naik bukan cuma penghasilanmu, tapi juga pengeluaranmu.
Media Sosial Bikin Kita Ngerasa Harus Ikut
Jujur aja, media sosial punya pengaruh besar terhadap cara kita melihat gaya hidup.
Setiap hari kita disuguhi konten orang-orang yang liburan ke luar negeri, unboxing gadget terbaru, nongkrong di kafe estetik, ikut kelas pilates, sampai belanja barang-barang yang sedang viral.
Lama-lama semua itu terasa normal. Padahal, belum tentu itu realitas semua orang.
Yang kita lihat di Instagram atau TikTok hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Kita nggak tahu apakah barang itu hasil nabung bertahun-tahun, hasil kerja sama dengan brand, atau bahkan dibeli pakai cicilan.
Sayangnya, otak kita sering lupa soal itu.
Yang muncul justru pikiran, “Kalau teman-teman sudah punya, aku juga harus punya.”
Di sinilah lifestyle creep sering dimulai. Bukan karena benar-benar butuh, tapi karena takut tertinggal.
Hati-Hati, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Besar
Lifestyle creep jarang datang dalam bentuk satu pembelian yang mahal. Justru biasanya muncul dari pengeluaran-pengeluaran kecil yang terasa sepele.
Tambah Rp20 ribu buat kopi. Tambah Rp50 ribu buat langganan aplikasi. Tambah Rp100 ribu buat upgrade membership. Tambah Rp200 ribu buat makan di tempat yang lebih fancy.
Kalimatnya selalu sama:
“Ah, cuma segini.”
Padahal kalau kata “cuma” itu diulang berkali-kali setiap bulan, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah. Ironisnya, kita sering lebih pusing memikirkan investasi daripada mengontrol kebiasaan kecil yang justru paling sering menguras dompet.
Naik Gaji Boleh, Tapi Jangan Langsung Naik Lifestyle
Kalau suatu hari nanti kamu mendapat kenaikan gaji, coba jangan langsung mengubah semua kebiasaanmu. Misalnya sebelumnya kamu bisa hidup nyaman dengan pengeluaran Rp4 juta, lalu gajimu naik menjadi Rp5 juta. Bukan berarti pengeluaranmu juga harus ikut menjadi Rp5 juta.
Justru selisih itulah yang bisa menjadi awal dana darurat, tabungan menikah, modal usaha, investasi, atau bahkan memperbanyak sedekah.
Ingat, kenaikan penghasilan adalah kesempatan untuk memperbaiki kondisi finansial, bukan alasan untuk menaikkan gengsi. Karena semakin tinggi gaya hidup yang kita bangun hari ini, semakin sulit juga mempertahankannya di masa depan.
Islam Mengajarkan Hidup Seimbang, Bukan Berlebihan
Sebagai muslim, kita diajarkan untuk menikmati rezeki yang Allah berikan. Namun, Islam juga mengingatkan agar kita tidak menjadikan harta sebagai ajang berlebihan atau sekadar mengikuti hawa nafsu.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.”
(QS. Al-Furqan: 67)
Ayat ini relevan banget dengan kehidupan kita hari ini. Islam tidak melarang menikmati hasil kerja keras. Tapi Islam juga mengajarkan agar kita tidak menghabiskan rezeki hanya demi mengejar gaya hidup atau validasi dari orang lain.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa setiap harta yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban, dari mana kita mendapatkannya dan untuk apa kita membelanjakannya. Itu artinya, setiap keputusan finansial yang kita ambil bukan hanya berdampak pada kondisi rekening, tetapi juga menjadi bagian dari amanah yang harus dijaga.
Di era media sosial, kita sering sibuk mengejar next upgrade. Upgrade HP, upgrade outfit, upgrade tempat nongkrong, upgrade kendaraan, atau upgrade gaya hidup. Padahal ada satu upgrade yang jauh lebih penting, yaitu upgrade cara berpikir.
Belajar mengelola uang, menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar, membangun dana darurat, mulai investasi, dan memperbanyak sedekah mungkin memang tidak se-aesthetic konten unboxing di TikTok. Tapi justru itulah yang akan membuat hidupmu lebih tenang beberapa tahun ke depan.
Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar “kaya” bukanlah mereka yang terlihat paling mewah di media sosial. Melainkan mereka yang tetap tenang saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, karena sudah terbiasa hidup sesuai kemampuan.
Jadi, kalau nanti gajimu naik, rayakan secukupnya. Boleh self reward, boleh menikmati hasil kerja keras. Tapi jangan lupa, naiknya penghasilan seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun masa depan, bukan sekadar menaikkan gaya hidup. Sebab, dompet yang sehat jauh lebih keren daripada gaya hidup yang dipaksakan.










Leave a Reply
View Comments