Generus Indonesia
Bukan Gajimu yang Kecil, Tapi Rasa Syukurmu yang Kurang Luas. Foto: Unplash

Bukan Gajimu yang Kecil, Tapi Rasa Syukurmu yang Kurang Luas

Oleh Nabila Kartika Luthfa

Pernahkah kita terbangun di pagi hari, melihat angka di rekening atau amplop gaji, lalu menghela napas panjang dan berbisik dalam hati, “Kenapa cuma gajiku segini? Kapan ya bisa cukup?”

Hampir setiap hari kita terjebak dalam perlombaan yang tidak ada garis finishnya. Kita menyamakan “rezeki” hanya dengan “gaji”. Kita menghitung kebahagiaan lewat nominal. Hingga akhirnya, sebuah tamparan lembut singgah di benak kita: “Mungkin bukan gajimu yang kecil, tapi rasa syukurmu yang masih sangat kecil.”

Kita sering berpikir, “Kalau nanti gaji saya naik dua kali lipat, saya pasti akan bahagia dan tenang.” Namun faktanya, ketika angka itu benar-benar naik, gaya hidup kita ikut melompat, dan anehnya, rasa “kurang” itu tetap ada di sana.

Mengapa? Karena gaji adalah perkara angka, sementara kepuasan adalah perkara hati. Angka bisa dihitung, tapi keinginan manusia tidak ada batasnya.

Jika kita meletakkan kebahagiaan pada nominal, maka sebanyak apa pun yang kita terima, rasanya akan selalu kurang. Kita sibuk melihat ke atas, melihat pencapaian orang lain di media sosial, hingga mata kita buta untuk melihat apa yang sudah ada di dalam genggaman sendiri.

Mari kita luangkan waktu sejenak untuk menghitung hal-hal yang sering kita anggap gratisan dan luput dari kalkulator hidup kita:

  • Nikmat Sehat: Berapa biaya yang harus dikeluarkan jika hari ini kita harus menyewa tabung oksigen hanya untuk bernapas?
  • Nikmat Rasa: Berapa banyak orang kaya yang punya uang untuk membeli makanan mewah, tapi lidahnya sudah tidak bisa lagi merasakan nikmatnya makanan karena penyakit?
  • Nikmat Waktu dan Kedamaian: Bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa cemas, pulang ke rumah bertemu keluarga yang sehat, bukankah itu juga rezeki?

Gaji yang kita keluhkan “kecil” itu, mungkin adalah impian terbesar dari seorang pengangguran yang sudah mengirimkan ratusan surat lamaran kerja. Gaji yang kita sebut “tidak cukup” itu, ternyata adalah berkah yang menghidupi dan menyekolahkan anak-anak kita hingga hari ini.

Rezeki itu seperti air hujan. Jika wadah yang kita siapkan kecil, maka air yang tertampung pun sedikit, sisanya akan tumpah sia-sia. Wadah itu adalah hati dan syukur kita. Ketika rasa syukur kita besar, gaji yang terlihat kecil pun akan terasa lapang, berkah, dan mencukupi segala kebutuhan.

Sebaliknya, jika wadah syukur kita sempit, aliran rezeki sebesar sungai pun tidak akan pernah cukup memuaskan dahaga keserakan kita.

Mulai hari ini, mari kita ubah narasinya. Saat menerima hasil jerih payah kita, mari dekap dengan penuh rasa cinta dan ucapkan:

“Ya Allah, Alhamdulilahirobbilalamin, terima kasih atas ketetapan-Mu hari ini. Tolong cukupkan hatiku dengan apa yang Engkau beri, dan berkahilah setiap rupiahnya agar menjadi kebaikan untuk diri dan keluargaku.”

Gaji yang besar memang bisa membeli kenyamanan, tetapi hanya rasa syukur yang luas yang bisa membeli ketenangan dan kebahagiaan yang sejati.