Generus Indonesia
Hal-Hal Menyebalkan Tentang Menjadi Manusia. Gambar: Generus

Hal-Hal Menyebalkan Tentang Menjadi Manusia

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Menjadi manusia adalah sebuah kutukan yang dibungkus dengan pita merah muda yang rapi. Kita lahir tanpa pernah dimintai persetujuan, dilemparkan ke sebuah panggung sandiwara duniawi, lalu dipaksa menghafal naskah yang ditulis oleh ekspektasi orang lain.

Hal paling menyebalkan pertama dari menjadi manusia adalah kerapuhan wadah bernama tubuh ini. Kita adalah makhluk yang mengklaim diri sebagai puncak evolusi, namun kita bisa lumpuh seharian hanya karena salah posisi tidur—sebuah tragedi konyol yang kita sebut “salah bantal”. Kita menciptakan teleskop untuk menembus batas galaksi, tetapi mata kita sendiri buram jika kekurangan cairan seharga beberapa ribu rupiah. Tubuh ini adalah mesin biologis yang cerewet. Ia menuntut makan tiga kali sehari, meminta tidur sepertiga dari seluruh sisa usianya, dan jika kita berani mengabaikannya sedikit saja, ia akan mogok bekerja dengan mengirimkan sinyal pusing atau flu. Sungguh sebuah desain yang tidak praktis untuk makhluk yang katanya ingin menaklukkan alam semesta.

Namun, jika kerapuhan fisik bisa dimaafkan, kontradiksi dalam isi kepala kita jauh lebih menyebalkan. Pikiran manusia adalah sebuah labirin yang dihuni oleh monster bernama ego dan kecemasan. Kita adalah satu-satunya makhluk di bumi ini yang bisa meracuni kebahagiaan kita sendiri dengan sesuatu yang belum tentu terjadi: masa depan. Hewan buruan berlari hanya saat singa mengejarnya, sementara manusia bisa gemetar ketakutan di atas kasur yang empuk hanya karena membayangkan skenario terburuk dari sebuah obrolan esok hari.

Kita sering kali terperangkap dalam penjara nostalgia yang melankolis atau kecemasan yang neurotik. Lebih parah lagi, kita dikutuk dengan kemampuan membandingkan. Kita melihat keluar jendela digital kita, menyaksikan kilasan hidup orang lain yang tampak tanpa celah, lalu membiarkan rasa iri menggerogoti rasa syukur yang baru saja kita bangun pagi ini. Mengapa menjadi manusia harus se-melelahkan ini? Mengapa otak kita bekerja seperti kurator yang rajin mengumpulkan semua kesalahan masa lalu dan memutarnya kembali tepat saat kita mencoba untuk memejamkan mata?

Belum lagi jika kita bicara tentang komunikasi. Bahasa verbal yang kita banggakan ini sebenarnya adalah alat yang cacat. Berapa banyak perang, patah hati, dan persahabatan yang hancur hanya karena jarak antara apa yang dimaksud oleh hati dan apa yang keluar dari mulut? Kita sering kali harus menyaring kejujuran demi sopan santun, atau sebaliknya, menyembunyikan kerapuhan di balik topeng ketegaran yang palsu. Menjadi manusia berarti bersiap untuk sering kali merasa tidak dipahami, bahkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Menjadi manusia adalah seni menanggung rindu pada hal-hal yang tidak pernah kita miliki, dan meratapi hal-hal yang belum sempat kita lepaskan.

Kita berjalan di atas bumi dengan membawa sekeranjang penuh beban eksistensial. Kita dipaksa mencari “makna hidup” di tengah rutinitas komuter yang bising, tagihan bulanan yang mencekik, dan segelas kopi yang buru-buru diteguk demi mengejar absensi pagi. Kita adalah debu kosmik yang entah bagaimana diberikan kesadaran untuk merasa kesepian di tengah keramaian.

Sisi Lain dari Koin yang Sama

Tetapi, mari kita balik koin yang penuh karat ini. Di balik semua absurditas dan kepedihan yang menyebalkan itu, bukankah ada keindahan yang luar biasa dari menjadi manusia?

Justru karena tubuh kita rapuh, setiap pelukan hangat terasa begitu berharga. Justru karena hidup kita dibatasi oleh waktu dan kematian, setiap detik pertemuan dengan orang-orang tersayang menjadi sebuah kemewahan yang magis. Hewan mungkin tidak tahu rasanya patah hati, tetapi mereka juga tidak akan pernah mengerti getaran hebat di dada saat jatuh cinta untuk pertama kalinya, atau rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuh ketika mendengar gelak tawa sahabat di malam yang dingin.

Kita dikutuk dengan air mata, tetapi air mata pulalah yang membasuh jiwa kita agar kembali peka setelah gersang dihantam kenyataan. Menjadi manusia berarti memiliki kapasitas tak terbatas untuk merasakan. Kita bisa terenyuh hanya karena melihat kuncup bunga yang merekah di sela-sela beton jalanan, atau merasa utuh kembali hanya karena mendengarkan sebait lagu lama yang melintasi rungu.

Pada akhirnya, menjadi manusia memang melelahkan, rumit, dan sering kali menyebalkan. Namun, di dalam semua kerapuhan dan kontradiksi itu, kita diberikan kemampuan luar biasa untuk bangkit, menertawakan konyolnya hidup, lalu memilih untuk mencintai lagi keesokan harinya. Menjadi manusia adalah sebuah petualangan rasa yang paling megah, dan saya rasa, saya tidak akan menukarnya dengan apa pun di alam semesta ini.