Generus Indonesia
Kuli Bangunan. Gambar: Generus

Kuli Bangunan

Oleh: Anton Kuswoyo

Hari itu, pengumuman kelulusan SMA baru saja keluar.

Teman-temanku sibuk merayakannya. Ada yang jalan-jalan, ada yang berkumpul bersama sahabat, ada pula yang mulai membayangkan kehidupan sebagai mahasiswa.

Aku berbeda.

Beberapa hari setelah dinyatakan lulus, aku justru memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas yang sudah kusam. Tak ada koper, tak ada perlengkapan mewah. Hanya pakaian secukupnya dan sebuah harapan yang kusimpan rapat-rapat dalam dada.

Dengan sepeda motor tua keluaran tahun 1980-an, aku berangkat menuju sebuah kampung terpencil di pedalaman Kalimantan Tengah.

Namanya Desa Manusup.

Perjalanan ke sana terasa sangat panjang. Dari Kuala Kapuas menuju Palingkau, lalu melewati kawasan eks proyek lahan sejuta hektare. Setelah itu jalanan berubah menjadi jalur tanah yang membelah hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi di kiri dan kanan. Kadang aku merasa seperti satu-satunya manusia yang sedang melintas di tengah kesunyian alam.

Setelah berjam-jam berkendara, tibalah aku di sebuah kampung sederhana di pinggir sungai. Rumah-rumah kayu berdiri berjajar. Sebagian besar penduduknya adalah Suku Dayak Kalimantan Tengah, sebagian lainnya Suku Banjar.

Di kampung itulah aku bekerja sebagai kuli bangunan.

Kami sedang membangun sebuah puskesmas yang berdiri di samping satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut.

Sebagai pekerja paling muda, aku mendapat pekerjaan yang paling menguras tenaga. Mengangkut semen. Mencangkul tanah untuk pondasi. Mengangkat pasir. Memotong besi. Mengaduk semen. Mengangkat berbagai material bangunan dari pagi hingga petang.

Setiap hari matahari terasa begitu dekat dengan bumi.

Panasnya membakar kulit.

Keringat mengalir deras dari kepala hingga kaki. Baju yang kupakai selalu basah sebelum tengah hari. Terkadang semen menempel di tangan yang sudah kasar. Debu masuk ke mata. Nafas terasa berat.

Namun pekerjaan harus terus berjalan.

Aku bekerja di atas semak-semak berduri yang belum sepenuhnya dibersihkan. Duri-duri tajam menembus telapak kaki. Mula-mula hanya satu atau dua. Lama-kelamaan jumlahnya tak terhitung lagi.

Kakiku bengkak.

Luka-luka kecil memenuhi telapak dan jari-jari kaki.

Setiap malam, saat berbaring untuk beristirahat, rasa nyeri itu baru terasa sepenuhnya.

Tetapi anehnya, aku hampir tidak pernah menangis.

Aku juga tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Sebab setiap kali tubuh terasa lelah, pikiranku selalu terbang ke masa depan.

Dua bulan lagi.

Hanya dua bulan lagi.

Aku akan menjadi mahasiswa.

Kalimat itu terus berputar dalam kepalaku seperti mantra yang memberiku kekuatan.

Saat mengangkat sak semen yang berat, aku membayangkan ruang kuliah.

Saat mencangkul tanah untuk pondasi, aku membayangkan mengenakan jaket almamater.

Saat pundakku terasa nyeri karena memikul material bangunan, aku membayangkan suatu hari nanti bisa membanggakan orang tua.

Mungkin bagi sebagian orang, menjadi mahasiswa adalah hal biasa.

Namun bagiku saat itu, kuliah adalah mimpi besar.

Mimpi seorang anak kampung yang sedang berdiri di bawah terik matahari sambil memegang sekop dan cangkul.

Kadang kami harus lembur hingga malam.

Tubuh rasanya seperti diperas habis-habisan. Namun pekerjaan tidak mengenal rasa lelah. Target harus tercapai. Bangunan harus selesai.

Aku menjalani semuanya.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Sesekali aku harus pergi ke Kuala Kapuas untuk mengurus berbagai keperluan. Kadang aku juga ke Banjarbaru untuk mencari tempat kos menjelang kuliah.

Semua perjalanan itu kulakukan seorang diri dengan sepeda motor tua yang sama.

Warga kampung sering merasa heran.

“Berani sekali kamu pergi sendirian,” kata mereka.

Saat itu aku tidak terlalu memahami maksud mereka.

Baru belakangan aku mengetahui bahwa jalur hutan yang kulewati ternyata dikenal rawan begal. Bahkan pernah terjadi perampokan dan pembunuhan.

Aku terdiam mendengarnya.

Aku membayangkan kembali perjalanan-perjalanan yang kulakukan seorang diri menjelang malam.

Sepeda motor tua.

Jalan sunyi.

Hutan gelap.

Tak ada sinyal telepon.

Tak ada teman perjalanan.

Dan ternyata, ada bahaya yang selama ini tidak kuketahui.

Seketika aku sadar bahwa selama ini bukan hanya keberanian yang menemaniku di jalan.

Ada doa-doa orang tua yang diam-diam menjagaku.

Ada pertolongan Tuhan yang tak terlihat namun nyata.

Waktu terus berjalan.

Akhirnya dua bulan itu selesai.

Puskesmas yang kami bangun mulai berdiri kokoh. Dinding-dindingnya telah tegak. Atapnya telah terpasang. Bangunan itu kelak akan digunakan masyarakat desa untuk berobat.

Sementara aku bersiap meninggalkan kampung itu.

Meninggalkan cangkul.

Meninggalkan sekop.

Meninggalkan sak-sak semen yang selama dua bulan menjadi bagian dari keseharianku.

Beberapa waktu kemudian, aku resmi menjadi mahasiswa.

Pada hari pertama kuliah, aku duduk di dalam ruang kelas bersama ratusan mahasiswa lainnya.

Mereka tampak rapi.

Mereka tampak percaya diri.

Sementara aku masih menyimpan bekas-bekas perjalanan yang panjang.

Kakiku masih bengkak.

Luka-luka kecil akibat duri belum sepenuhnya sembuh.

Telapak tanganku masih kasar karena pekerjaan bangunan.

Aku menunduk memandangi kedua tanganku.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang mengetahui cerita di balik senyumku.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa minggu sebelumnya tangan yang sama masih mengaduk semen di sebuah desa terpencil.

Tidak ada yang tahu bahwa kaki yang sama pernah berdarah karena duri-duri hutan.

Tidak ada yang tahu bahwa untuk sampai di bangku kuliah itu, aku harus lebih dulu menjadi seorang kuli bangunan.

Hari itu aku belajar sebuah pelajaran yang tidak pernah diajarkan di dalam kelas.

Bahwa mimpi tidak selalu datang melalui jalan yang mudah.

Kadang ia harus dibayar dengan peluh yang menetes setiap hari.

Kadang ia harus dibayar dengan kaki yang terluka.

Kadang ia harus dibayar dengan rasa lelah yang hampir membuat menyerah.

Tetapi ketika mimpi itu akhirnya tercapai, semua luka terasa berubah menjadi cerita.

Cerita yang akan selalu mengingatkanku bahwa sebelum menjadi sarjana, sebelum menjadi dosen, sebelum menjadi siapa pun hari ini, aku pernah menjadi seorang kuli bangunan yang bekerja di bawah terik matahari sambil memeluk mimpi setinggi langit.