Generus Indonesia
Mencari Tuhan di Sela-Sela Jam Lembur. Gambar: Generus

Mencari Tuhan di Sela-Sela Jam Lembur

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Bab 1: Surat yang Mengetuk Pintu Pagi

Hari itu dimulai seperti hari-hari biasanya—abu-abu, lembap, dan tergesa-gesa. Namun, bagi Baskara, ada sesuatu yang patah tepat pukul sembilan pagi. Sebuah amplop putih dengan logo perusahaan logistik multinasional mendarat di mejanya. Isinya ringkas, ditulis dengan bahasa hukum yang dingin dan sopan, tetapi intinya hanya satu: Efisiensi. Kata itu adalah eufemisme modern untuk kalimat yang lebih jujur: “Kami tidak lagi membutuhkan tenagamu, silakan pergi.”

Baskara menatap kubikelnya. Lima tahun dihabiskan di ruangan berukuran dua kali dua meter ini, menyusun angka-angka spreadsheet yang tidak pernah benar-benar ia pahami maknanya bagi kemanusiaan. Dan dalam satu ketukan palu manajerial, semuanya menguap.

Saat itulah, di tengah kepalanya yang mendadak bising oleh hitungan sisa saldo tabungan dan cicilan kontrakan, sebuah pikiran absurd muncul: Ia ingin mencari Tuhan.

Bukan Tuhan yang ada di dalam khotbah-khotbah hari Minggu atau mimbar-mimbar Jumat yang megah dan ber-AC. Baskara menginginkan Tuhan yang mau diajak duduk bersama di emperan toko, Tuhan yang barangkali tahu bagaimana rasanya kehilangan pegangan hidup dalam hitungan detik. Maka, dengan tas ransel yang terasa tiga kali lebih berat dari biasanya, Baskara melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu, memulai sebuah ziarah yang aneh di tengah belantara beton.

Bab 2: Liturgi Mesin Fotokopi

Tujuan pertama Baskara bukanlah tempat ibadah. Entah mengapa, langkah kakinya justru membawanya ke sebuah kios fotokopi kecil yang terselip di gang sempit dekat kawasan perkantoran. Tempat itu selalu ramai oleh para pekerja magang, mahasiswa, dan kurir yang napasnya memburu.

Baskara masuk, duduk di kursi plastik yang salah satu kakinya diganjal potongan kardus. Di depannya, sebuah mesin fotokopi tua bermerek Canon sedang bekerja keras. Suaranya berirama: nguung… ceklek… nguung… ceklek. Cahaya hijau neon dari mesin itu bergerak maju-mundur, memindai lembaran-lembaran kertas berisi kurikulum vitae baru yang baru saja ia susun secara kilat.

Ia menatap lampu hijau yang bergerak itu dengan pandangan kosong.

“Jika Tuhan memelihara burung-burung di udara, apakah Dia juga memelihara pekerja kontrak yang masa baktinya habis?” batin Baskara.

Ia mencoba mencari tanda-tanda kehadiran yang sakral di sana. Di atas mesin yang hangat oleh panas listrik, di dalam kepulan aroma toner yang menyengat hidung, atau mungkin pada jari-jari lincah si abang tukang fotokopi yang menata kertas dengan kecepatan mesin. Baskara berharap ada semacam keajaiban—mungkin selembar kertas keluar dengan tulisan langsung dari langit yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, tidak ada apa-apa. Yang ada hanya salinan surat lamaran kerja yang menumpuk rapi, siap untuk ditolak kembali oleh sistem algoritma HRD di tempat lain. Mesin itu terus memuntahkan kertas dengan ketidakpedulian yang mutlak. Tuhan tidak ada di mesin fotokopi. Dia tidak sedang menggandakan harapan di sana.

Bab 3: Punggung-Punggung yang Tak Menoleh

Matahari mulai menggelincir turun, menyisakan semburat jingga yang kotor oleh polusi kota. Baskara melanjutkan perjalanannya menuju halte bus Trans-Kota. Jam pulang kantor telah tiba.

Halte itu adalah potret sempurna dari api pencucian dosa modern. Ratusan orang berjejal, berhimpitan hingga batas tubuh mereka menjadi samar. Bau keringat bercampur minyak wangi murah, asap knalpot, dan keputusasaan yang menggantung di udara.

Baskara berdiri di tengah pusaran itu. Pandangannya tertuju pada punggung orang-orang yang berjalan cepat. Mereka bergerak seperti robot yang diprogram untuk satu tujuan: pulang, tidur, lalu mengulangi hal yang sama besok pagi. Punggung-punggung itu tegak, kaku, dan bergerak maju tanpa pernah menoleh ke kiri atau ke kanan. Jangankan untuk melihat Baskara yang sedang hancur, untuk melihat sesama mereka yang tersandung di eskalator pun mereka enggan.

“Permisi, Mas, jangan menghalangi jalan,” sebuah suara ketus menegurnya dari belakang. Seorang pria bermata lelah dengan kemeja yang keluar sebagian menyenggol bahu Baskara tanpa menatap wajahnya.

Baskara mundur satu langkah. Ia menatap punggung pria itu yang segera hilang ditelan pintu bus yang terbuka otomatis. Di kota ini, menoleh ke belakang adalah sebuah dosa besar; itu berarti Anda memperlambat ritme, dan memperlambat ritme berarti Anda akan tergilas.

Ia mencari Tuhan di sela-sela pundak yang tegang itu. Ia mencari sebuah tatapan mata yang hangat, sebuah sentuhan di bahu yang mengatakan, “Aku tahu kamu lelah.” Namun, manusia-manusia di halte ini telah bertransformasi menjadi komponen-komponen mesin raksasa. Jika manusia yang diciptakan sebagai citra-Nya saja sudah kehilangan wajah kemanusiaannya, di mana lagi Tuhan bisa menyembunyikan diri?

Bab 4: Khotbah dari Tempat Sampah

Malam jatuh dengan berat. Bus demi bus berlalu, namun Baskara tidak juga naik. Ia memilih berjalan kaki tanpa arah, menyusuri trotoar yang retak-retak oleh akar pohon peneduh. Langkah kakinya melambat hingga akhirnya berhenti di sebuah sudut jalan yang temaram, tepat di samping sebuah tiang lampu yang mati lampunya.

Di bawah kakinya, kota ini menyisakan jejak-jejaknya yang paling jujur.

Baskara menunduk. Matanya menangkap selembar kertas parkir jatuh yang sudah lecek, tercetak angka digital yang menunjukkan biaya atas waktu yang telah terbuang. Di sebelahnya, tergeletak sebatang rokok separuh yang mati sebelum waktunya, menyisakan abu hitam di ujungnya—seperti sebuah rencana hidup yang mendadak dipadamkan oleh kenyataan.

Namun, yang paling menarik perhatian Baskara adalah sisa nasi bungkus di dalam kantong plastik transparan yang teronggok di dekat selokan.

Nasi itu sudah dingin, beberapa butirnya tumpah ke aspal. Sebungkus sisa makanan yang dibuang oleh pemiliknya yang kekenyangan, atau mungkin oleh seseorang yang terburu-buru. Di atas sisa makanan itu, beberapa ekor semut hitam mulai berdatangan, bekerja sama memindahkan butiran karbohidrat demi kelangsungan koloni mereka. Seekor kucing kurus mendekat, mengendus dengan khidmat, lalu mulai memakan sisa lauk yang tertinggal dengan ritme yang teratur.

Baskara terpaku. Ia merasakan sesuatu yang berdesir di dadanya.

Sisa nasi bungkus itu, dalam segala kehinaan dan kepasrahannya, tampak sedang menjalankan sebuah ritual yang amat sakral. Ia tidak mengeluh karena dibuang. Ia tidak protes karena menjadi sampah. Ia justru menyerahkan dirinya untuk menghidupi makhluk lain—semut-semut, kucing jalanan, tanah yang lembap.

“Sisa nasi bungkus ini,” bisik Baskara pada diri sendiri, suaranya parau, “tampak jauh lebih berdoa daripada aku.”

Sepanjang hari, doa Baskara hanyalah tuntutan: Kenapa aku? Kenapa sekarang? Mana keadilan? Doanya dipenuhi oleh ego dan ketakutan akan masa depan. Sementara sisa nasi bungkus itu adalah bentuk kepasrahan total kepada semesta. Ia menerima takdirnya menjadi rezeki bagi yang lain tanpa banyak tanya. Di sanalah keagungan yang ia cari sejak pagi justru menampakkan diri—bukan dalam kemegahan, melainkan dalam sisa-sisa yang terlupakan.

Bab 5: Ketika Iman Mengalami PHK

Baskara duduk di pembatas jalan, menyalakan korek api untuk membakar rokok separuh yang ia temukan (setelah membersihkannya sedikit, karena kemiskinan baru saja meruntuhkan gengsinya). Asap tipis membubung ke langit malam Jakarta yang tanpa bintang.

Ia merenungkan pencariannya. Mesin fotokopi yang dingin, halte yang egois, dan punggung-punggung tanpa wajah.

Mungkin, pikir Baskara, Tuhan memang sudah pindah tempat tinggal. Dia mungkin sudah bosan tinggal di kota-kota besar yang bising, di mana nama-Nya hanya disebut saat manusia butuh legitimasi atau saat mereka sedang ketakutan setengah mati di ruang ICU. Atau, skenario yang lebih buruk: Tuhan sudah menyerah menjelma. Dia lelah mengambil rupa menjadi pengemis, menjadi orang asing yang mengetuk pintu, atau menjadi nurani di dalam dada para bos korporat, karena manusia terlalu sibuk melihat layar ponsel mereka untuk menyadari kehadiran-Nya.

Baskara tersenyum getir. Sebuah tawa sinis yang ditujukan pada dirinya sendiri.

Ternyata, kapitalisme tidak hanya bisa merenggut pekerjaan, jaminan kesehatan, atau harga diri seorang manusia. Sistem ini begitu perkasa hingga mampu menyentuh wilayah paling privat dalam jiwa. Karena bahkan iman pun bisa kena PHK.

Saat seseorang kehilangan sumber pendapatannya, tiba-tiba saja struktur imannya ikut goyah. Keyakinan yang selama ini dipelihara lewat persembahan bulanan dan doa-doa syukur atas bonus akhir tahun, mendadak terasa seperti investasi bodong. Ketika dompet kosong, tiba-tiba Tuhan terasa seperti konsep abstrak yang diciptakan oleh orang-orang yang perutnya kenyang.

Namun, di tengah keputusasaan yang paripurna itu, Baskara merasakan sebuah kedamaian yang aneh.

Imannya memang telah di-PHK dari bentuknya yang lama—bentuk iman yang transaksional, yang menganggap Tuhan sebagai mesin ATM spiritual yang akan memberikan berkah jika kita rajin beribadah. Kini, di atas trotoar yang kotor, menghirup asap knalpot, dan berteman dengan sisa nasi bungkus, Baskara mendapati imannya lahir kembali dalam bentuk yang baru.

Iman yang tidak lagi meminta jaminan hari esok. Iman yang menerima bahwa hidup bisa menjadi sangat bajingan, namun menolak untuk berhenti berjalan.

Baskara berdiri, mengibas debu dari celana kainnya yang mulai longgar. Ia tidak menemukan Tuhan di halte atau di kantor lamanya. Namun, saat ia menatap punggungnya sendiri melalui bayangan kaca toko yang tutup, ia tahu ia tidak benar-benar berjalan sendirian.

Tuhan tidak pindah tempat tinggal. Dia hanya sedang menyamar menjadi kekuatan kecil di dalam lutut Baskara yang gemetar, memaksanya untuk melangkah satu demi satu, menembus malam kota yang panjang.