Oleh Anton Kuswoyo
Manusia ternyata tidak membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup. Kadang cukup sepucuk kail, beberapa batang korek api, dan keyakinan bahwa besok pasti ada rezeki.
Setiap kali melihat korek api di atas meja dapur, ingatanku selalu melayang ke sebuah rumah kayu di pinggir desa. Rumah sederhana yang lantainya masih papan, dindingnya mulai lapuk dimakan usia, dan di depannya terbentang kolam kecil yang menjadi tempat mandi di masa kecilku.
Di rumah itulah aku belajar arti lapar, sabar, dan harapan.
Saat itu aku masih duduk di kelas lima SD. Kakakku baru kelas tiga SMP. Demi menghidupi keluarga, Bapak dan Emak terpaksa merantau ke kota kabupaten.
Bapak bekerja sebagai pemborong bangunan kecil-kecilan. Tangannya yang kasar setiap hari mengangkat batu, pasir, dan semen. Sementara Emak memasak untuk puluhan kuli bangunan. Mereka tinggal di lokasi proyek dan hanya pulang sekali dalam sebulan.
Sebelum berangkat, Emak menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah kepada kami berdua.
“Ini buat makan kalian sampai Emak pulang.”
Kami mengangguk penuh percaya diri. Lima puluh ribu terasa sangat banyak bagi dua anak desa yang belum pernah menghitung biaya hidup.
Kesalahan pertama kami adalah menganggap uang itu tidak akan pernah habis.
Setiap siang terdengar suara lonceng dari ujung jalan.
“Ting… ting… ting…”
Penjual es keliling datang membawa box kayu yang dipenuhi es lilin dan es wadai warna-warni.
Kami selalu berlari menyambutnya.
Satu hari membeli dua. Besok membeli lagi empat. Kadang ditambah jajan kecil lainnya.
Nikmatnya dingin es di tengah panasnya siang membuat kami lupa bahwa setiap gigitan sedang mengurangi bekal hidup kami sendiri.
Sampai suatu malam kakakku membuka dompet kecil pemberian Emak.
Kosong.
Kami saling berpandangan tanpa sepatah kata.
Masih ada seminggu lagi sebelum orang tua pulang.
Kami memeriksa dapur.
Ada beras. Ada minyak tanah. Ada beberapa batang korek api.
Hanya itu.
Lauk sudah habis.
Pagi harinya sebenarnya masih tersisa sepotong ikan asin. Namun tikus lebih dulu berpesta daripada kami. Yang tertinggal hanya tulang dan bekas gigitan di atas rak dapur.
Aku mencoba mengais tempat bumbu.
Di sudut kaleng tua kutemukan beberapa butir bawang merah yang mulai bertunas dan sebungkus garam yang tinggal seperempat isinya.
Aku tersenyum.
“Masih bisa makan.”
Kakakku ikut tersenyum, meski aku tahu ia sedang menyembunyikan kecemasannya.
Tanpa menunggu lama aku berlari menuju kolam depan rumah. Di sana ada sepucuk kail yang sudah lama tidak digunakan.
Aku mengambilnya seperti seorang prajurit mengambil senjata terakhir sebelum berperang.
Di bawah pohon pisang aku menggali tanah mencari cacing.
Tanganku penuh lumpur, kukuku hitam oleh tanah basah, tetapi aku merasa sedang mempersiapkan sesuatu yang sangat penting.
Parit kecil di ujung desa menjadi tujuan.
Airnya tenang, hanya sesekali bergoyang diterpa angin.
Aku duduk di pematang sambil memandang pelampung kecil yang mengapung tanpa bergerak.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Empat puluh lima menit.
Perutku semakin lapar.
Ketika hampir menyerah, pelampung itu tiba-tiba tenggelam.
Aku menarik tali sekuat tenaga.
Seekor ikan gabus kecil meloncat-loncat di ujung kail.
Aku tertawa sendiri.
Tak lama kemudian seekor lagi berhasil kutangkap.
Hari itu aku merasa menjadi pemancing paling hebat di dunia.
Sesampainya di rumah, aku mengumpulkan ranting kering.
Masalah berikutnya adalah api.
Korek api tinggal beberapa batang saja.
Setiap batang harus berhasil menyalakan tumpukan ranting kayu pembakaran.
Aku meniup perlahan, menjaga bara agar tidak mati. Kalau gagal, berarti satu batang hilang sia-sia.
Api akhirnya menyala.
Kulit ikan mulai menghitam.
Lemak ikan menetes ke bara dan mengeluarkan suara kecil yang membuat perut kami semakin keroncongan.
Sementara itu kakakku mengiris bawang merah tipis-tipis. Ia menuangkan sedikit air ke dalam piring, lalu menaburkan garam secukupnya.
Setelah ikan matang, kami menyuwirnya dan mencampurnya dengan irisan bawang tadi.
Itulah lauk kami.
Kami menyebutnya cacapan.
Kalau sedang beruntung, cacapan diberi cabai, asam jawa, atau mangga muda.
Namun hari itu hanya ada bawang merah, air, dan garam.
Anehnya, rasanya luar biasa.
Mungkin memang rasa lapar adalah bumbu paling sempurna.
Hari-hari berikutnya kami menjalani rutinitas yang sama.
Pagi sekolah.
Siang mencari cacing.
Sore memancing.
Kadang dapat ikan gabus.
Kadang ikan betok.
Kadang tidak dapat apa-apa.
Pernah aku pulang dengan tangan kosong.
Aku memandangi kolam depan rumah.
Di sana berenang beberapa ikan cupang yang selama ini dibiarkan hidup bebas.
Dengan sedikit rasa bersalah, ikan-ikan kecil itu pun berubah menjadi lauk makan sore kami.
Sesekali aku mencari singkong di kebun.
Aku tidak mencabut seluruh pohonnya.
Aku menggali perlahan, mengambil sebagian umbi, lalu menimbunnya kembali agar pohon tetap hidup.
Mungkin tanpa kusadari sejak kecil aku sudah belajar bahwa mengambil dari alam harus secukupnya.
Suatu hari aku menemukan keladi liar.
Kubakar di atas bara tempurung kelapa.
Harumnya begitu menggoda.
Namun beberapa menit setelah memakannya, tenggorokanku terasa gatal seperti ditusuk ribuan jarum kecil.
Aku panik.
Kakakku hanya bisa menyuruhku minum berkali-kali sambil menahan tawa karena wajahku sudah merah dan mataku berair.
Kini kenangan itu terdengar lucu.
Tetapi saat itu kami benar-benar sedang berjuang melawan lapar.
Tubuhku kurus.
Kulitku legam.
Pakaianku lusuh dan kusut.
Kami tidak punya setrika.
Di kampung kami, memiliki setrika sama mewahnya dengan memiliki televisi berwarna.
Namun anehnya, aku tidak pernah merasa hidupku menyedihkan.
Aku masih bisa bermain di sungai.
Masih bisa memancing di parit.
Masih bisa memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya.
Masih bisa tertawa bersama kakakku.
Dan yang terpenting, aku masih percaya bahwa esok hari pasti ada makanan.
Seminggu kemudian, menjelang sore, terdengar suara langkah yang sangat kami kenal.
“Assalamu’alaikum…”
Aku dan kakakku langsung berlari keluar.
Emak berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa bungkusan.
Di dalamnya ada nasi, lauk, dan semangkuk kuah hitam pekat yang aromanya memenuhi seluruh rumah.
“Itu rawon,” kata Emak.
Aku belum pernah melihat makanan seperti itu.
Kuahnya hitam, dagingnya empuk, aromanya kaya rempah.
Suapan pertama membuatku terdiam.
Begitu lezat.
Aku menambah nasi berkali-kali sampai perutku benar-benar kenyang.
Hari itu aku bukan hanya mengenal rawon untuk pertama kalinya.
Aku juga menyadari sesuatu yang baru kupahami setelah dewasa.
Bukan uang lima puluh ribu yang membuat kami bertahan.
Bukan pula ikan di parit atau singkong di kebun.
Yang membuat kami selamat adalah keberanian untuk tidak menyerah, kecerdikan memanfaatkan apa yang ada, dan kasih sayang dua bersaudara yang saling menguatkan ketika orang tua sedang berjuang mencari nafkah.
Kini, puluhan tahun kemudian, hidup telah berubah.
Aku bisa membeli makanan apa pun yang kuinginkan.
Namun tidak ada hidangan mewah yang mampu mengalahkan kenangan tentang sepiring nasi hangat dengan cacapan ikan bakar, dimakan berdua bersama kakak, di sebuah rumah kayu sederhana.
Karena di sanalah aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kelimpahan.
Kadang ia lahir dari sepucuk kail, beberapa batang korek api, dan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah membiarkan hamba-Nya kelaparan selama mereka mau berusaha.
*) Diangkat dari kisah nyata masa kecil penulis










Leave a Reply
View Comments