Generus Indonesia
Akhir dari Era Kita yang Terlalu Online. Gambar: Generus

Akhir dari Era Kita yang Terlalu Online

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

“Pada akhirnya, kita harus membangun semacam benteng di dalam diri kita sendiri agar mampu menghadapi semua ini. Karena teknologi akan terus berkembang. Semakin canggih, semakin mudah diakses, semakin nyaman, dan semakin menyenangkan untuk menghabiskan waktu sendirian menatap layar yang dipenuhi gambar-gambar dari orang-orang yang sebenarnya tidak mencintai kita, mereka hanya menginginkan uang kita.”

— David Foster Wallace

Aku merasa kita sedang berdiri di ambang sebuah revolusi teknologi.

Dan anehnya, aku juga merasa era ketika hidup kita dipenuhi scrolling tanpa henti, mengonsumsi konten setiap menit, terus-terusan mengunggah sesuatu, menatap layar seharian, dan menjadi “terlalu online”, perlahan akan berakhir.

Semua ini adalah candu.

Awalnya memang terasa menyenangkan. Sama seperti kecanduan pada umumnya. Ada rasa penasaran, sensasi baru, dan keseruan yang membuat kita ingin terus kembali.

Tapi sekarang?

Kita sudah masuk ke fase buruknya.

Kita membuka media sosial tanpa sadar, me-refresh feed berkali-kali, berharap menemukan sesuatu yang baru padahal tidak tahu sedang mencari apa. Otak dipenuhi terlalu banyak informasi hingga mati rasa. Rasanya seperti tenggelam jauh di bawah permukaan air sambil terus berusaha mengejar semua hal yang katanya penting.

Email datang bertubi-tubi. Notifikasi tidak pernah berhenti. Setiap jeda dalam hidup langsung diisi oleh layar. Kita mati rasa, tetapi tetap berharap bahwa satu gesekan jempol berikutnya akan memberi sesuatu yang membuat kita merasa hidup lagi.

Ironisnya, kita justru merasa semakin jauh dari kehidupan yang sesungguhnya.

Seolah kehidupan nyata sedang terjadi di tempat lain. Bersama orang lain. Kita hanya menjadi penonton dari balik layar.

Lalu malam tiba.

Kita tetap berada di kamar, ditemani cahaya biru dari ponsel yang perlahan mengingatkan betapa sendirinya kita.

Seratus like, tetapi tetap merasa tidak dicintai.

Seribu followers, tetapi tidak punya satu orang pun yang bisa dihubungi ketika mobil mogok di tengah jalan.

Menonton jutaan video tentang perubahan dunia, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian aktor dari perubahan itu.

Coba berjalan di jalan raya.

Hampir semua kepala menunduk ke layar.

Tangan menggenggam ponsel seperti itu adalah bagian alami dari tubuh manusia. Semua orang selalu terhubung ke internet, tetapi justru semakin terputus dari dunia di sekitarnya.

Dampaknya ada di mana-mana.

Angka depresi meningkat.

Kesepian menjadi wabah baru.

Tempat-tempat yang dulu dipenuhi kehidupan seperti perpustakaan, taman bermain, atau tempat nongkrong kini semakin sepi.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak banyak orang yang benar-benar menikmati semua ini.

Semua terlihat lelah. Kehabisan tenaga. Jenuh.

Manusia sudah terlalu lama hidup di dunia maya. Dan aku percaya suatu hari nanti semuanya akan berbalik arah.

Sebagai sebuah budaya, kita akan sadar bahwa media sosial memang dirancang agar kita terus kembali. Terus memberi suntikan dopamin sedikit demi sedikit sampai akhirnya kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan hidup.

Lalu kita akan mulai melepaskan diri.

Kita akan kembali hidup.

Mungkin tidak sekaligus.

Perubahannya akan lambat.

Bertahap.

Tidak serempak.

Tetapi itu akan terjadi.

Karena rasanya semua ini sudah mencapai titik paling ekstrem.

Suatu hari nanti, hidup yang sepenuhnya berpusat pada benda kecil di genggaman tangan kita hanya akan dikenang sebagai sebuah masa dalam sejarah.

Sama seperti kebiasaan merokok di mana-mana, topi tinggi dan monocle, atau berbagai hal yang dulu terasa begitu dominan hingga orang sulit membayangkan dunia tanpa mereka.

Kini semua itu tinggal kenangan.

Dan mungkin setelah semuanya berlalu, barulah kita sadar betapa sakitnya masa ini.

Betapa media sosial membuat kita bingung, sedih, dan kehilangan arah.

Kita akan menoleh ke belakang dengan rasa iba kepada diri kita sendiri.

Menggelengkan kepala sambil bertanya,

“Kenapa dulu kita rela mengorbankan begitu banyak hanya demi hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu berarti?”

“Kenapa pendapat orang asing di internet pernah terasa begitu penting?”

Padahal…

Tanda-tanda itu sebenarnya sudah mulai muncul.

Semakin banyak orang yang mulai berbisik. Mulai merasa ada yang salah.

Mulai ingin merebut kembali hidup mereka. Mulai sadar bahwa menjadi manusia seharusnya lebih dari sekadar menjadi pengguna internet.

Dan proses itu…

Sudah dimulai.

Impian terbesarku sederhana.

Aku berharap kita kembali benar-benar hidup.

Menyadari bahwa dunia nyata jauh lebih luas, lebih indah, lebih hidup dibandingkan koneksi internet dan layar bercahaya.

Menyadari bahwa ada kebahagiaan yang justru terasa lebih manis ketika tidak dibagikan kepada siapa pun.

Bahwa pepohonan, bebatuan, sungai, angin, dan langit sebenarnya selama ini sedang menunggu kita kembali.

Aku percaya kita akan belajar.

Bahwa makan bersama keluarga jauh lebih menghangatkan daripada ribuan komentar.

Bahwa berjalan santai di tengah hutan lebih menenangkan daripada menonton vlog perjalanan orang lain ke Tokyo.

Bahwa berbicara langsung dengan ibu, ayah, atau sahabat jauh lebih bermakna daripada mendengarkan podcast berjam-jam dari orang yang bahkan tidak mengenal kita.

Bahwa dunia selalu terlihat lebih indah jika dipandang dengan mata sendiri, bukan melalui layar.

Jauh di dalam hati, manusia sebenarnya lapar akan pengalaman nyata.

Lapar untuk merasa takjub.

Untuk menemukan keajaiban.

Untuk membiarkan hidup tetap penuh misteri.

Kita mulai bosan melihat kehidupan orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa agar tampak sempurna.

Dan kita ingin berhenti menjalani hidup demi terlihat menarik di mata orang lain.

Kita ingin menjalani hidup karena memang terasa bermakna bagi diri sendiri.

Kita rindu pengalaman yang sederhana.

Berlari di padang rumput pada malam hari sambil membawa kembang api kecil.

Menyelam ke laut yang dingin.

Meringkuk di sofa dengan buku yang bagus, secangkir teh hangat, selimut tebal, dan suara kayu yang berderak di perapian.

Kita rindu menjadi seperti anak kecil.

Mengalami sesuatu hanya karena ingin mengalaminya.

Bukan untuk difoto.

Bukan untuk diunggah.

Bukan untuk dijadikan konten.

Terlalu sibuk menikmati hidup sampai lupa mengabadikannya.

Aku berharap suatu hari nanti orang akan memandang media sosial seperti kita memandang rokok sekarang.

“Masih scrolling terus? Serius? Memangnya kamu belum tahu seburuk apa dampaknya?”

Dan saat itu, smartphone kembali ke fungsi yang semestinya.

Sebagai alat yang membantu kehidupan.

Bukan sebagai dot digital yang terus menenangkan kegelisahan kita.


Tiga minggu terakhir aku tinggal jauh dari keramaian, di suatu Pedesaan.

Tanpa hiruk-pikuk internet.

Di tengah hutan.

Ditemani suara burung, aroma laut, dan Samudra Atlantik yang begitu dekat hingga sesekali paus bungkuk muncul ke permukaan, memperlihatkan punggungnya yang hitam mengilap sebelum kembali menghilang ke dalam air.

Sebagian besar hari kulewati tanpa menyalakan ponsel.

Laptop tetap tertutup.

Aku hanya membuka pesan dari keluarga pada malam hari dan sesekali menulis di pagi hari.

Hari-hari terasa lambat. Malam terasa panjang.

Aku membaca lebih banyak buku daripada sebelumnya.

Bekerja terasa menyenangkan. Berusaha tidak lagi terasa melelahkan.

Kami tidak pernah terburu-buru, tetapi justru menyelesaikan banyak hal.

Percakapan menjadi lebih hidup. Tidur lebih nyenyak.

Rasanya seperti mendapatkan kembali kendali atas hidup yang diam-diam pernah hilang.

Semakin sedikit teknologi yang kugunakan, semakin aku merasa menjadi manusia seutuhnya. Semakin hidup.

Aku belajar bahwa hidup memang seharusnya dialami melalui pancaindra. Bahwa kebahagiaan, ketenangan, dan kepuasan yang mendalam ternyata jauh lebih sederhana daripada yang selama ini kubayangkan.

Semuanya sebenarnya sudah ada.

Tepat di depan mata.

Aku hanya perlu berani meraihnya.

Lalu tersenyum kecil karena ternyata selama ini semua itu tidak pernah ke mana-mana.


Bisa saja aku sepenuhnya salah.

Mungkin era hidup yang terlalu online ini tidak akan berakhir.

Mungkin justru semakin cepat berkembang.

Mungkin sepuluh tahun lagi semua orang memakai kacamata pintar Apple, membeli apartemen virtual di metaverse menggunakan Ethereum, menyiarkan belanja mereka secara langsung, sementara AI menjalankan setengah perekonomian dunia dan menulis hampir semua buku yang kita baca.

Dalam jangka pendek, orang pesimis memang sering terlihat lebih realistis.

Tetapi orang-orang optimislah yang biasanya mengubah dunia.

Dan aku berharap…

Saat ini akulah yang terdengar bodoh.

Karena kalau itu berarti kita benar-benar kembali menjalani hidup yang nyata, aku rela salah.