Generus Indonesia
Menakar Cukup. Gambar: Generus

Menakar “Cukup” Mengapa Kita Begitu Sulit Berhenti Mengejar?

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Malam ini, setelah keriuhan berita tentang ratusan miliar rupiah dan tumpukan emas di rumah seorang pejabat mereda di layar ponsel, ruangan saya mendadak terasa terlampau sunyi. Ada kengerian yang aneh saat menyadari realitas ini: seseorang bisa menimbun materi begitu banyak, yang secara biologis bahkan tidak akan sanggup ia habiskan seumur hidupnya.

Manusia hanya punya satu tubuh. Kita hanya bisa tidur di satu kasur dalam satu waktu, makan beberapa piring sehari, dan memakai satu pakaian di satu tubuh. Lalu, mengapa kita bisa terjebak dalam kegilaan untuk terus menambah, menumpuk, dan menggenggam, seolah-olah kita akan hidup selamanya?

Satu hal yang pasti: ini bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan fisik. Ini adalah urusan jiwa yang kelaparan.

Anatomi Kekosongan: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Kejar?

Ketika seseorang tidak bisa berhenti mengumpulkan—baik itu harta, pencapaian, maupun tuntutan emosional—mereka sebenarnya sedang melakukan proyeksi luar dari sebuah kecemasan dalam (internal anxiety).

Ada tiga lubang menganga yang sering kali coba kita sumbat secara keliru:

  • Ketakutan akan Ketiadaan (Terror of Insignificance): Di lubuk hati yang paling dalam, manusia takut menjadi tidak berarti. Kita takut dilupakan, takut dianggap lemah, dan takut menghadapi kematian. Menimbun harta atau status adalah cara bawah sadar kita untuk membangun “monumen” ego. Kita keliru berpikir bahwa jika benteng materi kita cukup tinggi, kita menjadi tak tersentuh oleh kerapuhan hidup.
  • Kebutuhan Kontrol yang Ekstrem: Dunia ini acak, penuh ketidakpastian, dan sering kali kejam. Ketika seseorang merasa tidak punya kendali atas batinnya sendiri—mungkin karena trauma masa lalu atau rasa tidak aman yang akut—mereka mengalihkan kendali itu ke luar. Uang, aset, dan kepatuhan orang lain adalah hal-hal yang bisa dihitung dan dikuasai. Itu memberi makan ilusi bahwa “saya memegang kendali penuh atas hidup ini.”
  • Desesparasi Emosional yang Salah Alamat: Mengapa ada orang yang tidak pernah merasa cukup dicintai? Karena mereka meminta dunia luar untuk menyembuhkan luka yang hanya bisa disembuhkan oleh diri mereka sendiri. Mereka memperlakukan pasangan atau lingkungan seperti dispenser validasi yang harus terus mengalirkan rasa aman, tanpa sadar bahwa wadah di dalam diri mereka sendiri sebenarnya bocor.

Lensa Keseharian: Ketika Kita Adalah Pelakunya

Mudah untuk merasa suci saat kita melihat kasus korupsi raksasa di televisi. Namun, mari kita matikan televisi itu, matikan lampu kamar, dan mulailah jujur pada diri sendiri. Bukankah benih-benih “kelaparan” yang sama juga sedang menjangkiti kita?

1. Perlombaan Tanpa Garis Finis (Materi)

Kita tidak lagi membeli barang untuk fungsinya, melainkan untuk membeli persepsi orang lain tentang siapa kita.

Perhatikan bagaimana kita merasa cemas saat melihat lingkaran pertemanan kita memperbarui kendaraan, rumah, atau destinasi liburan mereka. Kita memaksakan diri masuk ke dalam cicilan yang mencekik, bukan karena kita butuh, tapi karena kita takut dianggap tertinggal. Kita sedang menimbun barang demi mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang sebenarnya bahkan tidak terlalu peduli pada kita.

2. Memperbudak Diri Sendiri (Kerja Keras)

Berapa banyak dari kita yang mengidap anxiety setiap kali akhir pekan tiba karena merasa “tidak produktif”? Kita telah mengadopsi keyakinan beracun bahwa harga diri kita setara dengan performa kerja kita. Kita mengorbankan kesehatan, mengabaikan ketukan pintu dari anak atau adik kita yang ingin bermain, hanya demi memburu angka indikator kinerja (KPI) atau validasi dari atasan yang bisa menggantikan posisi kita dalam hitungan hari jika kita tumbang.

3. Cinta yang Menuntut (Hubungan)

Kita sering kali menjadi “lintah” emosional bagi orang terdekat. Kita menuntut pasangan untuk selalu mengerti tanpa mau mengerti, marah besar jika pesan tidak dibalas dalam hitungan menit, atau selalu merasa kurang diperhatikan. Kita menguras energi orang lain untuk memuaskan ego kita yang haus akan perhatian, tanpa pernah bertanya: apakah saya sudah cukup memberi?

Efek Domino: Luka yang Kita Tularkan

Benang merah dari rasa tidak pernah cukup ini selalu berujung pada tragedi moral. Ketika rem dalam diri kita blong, kita mulai membenarkan segala cara.

Secara personal, pelakunya tidak akan pernah bisa menikmati hidup. Mereka hidup dalam paranoia konstan—takut kehilangan apa yang sudah dimiliki dan cemas tidak bisa mendapatkan apa yang belum ada di tangan. Mereka menjadi manusia yang mati rasa.

Secara sosial, dampaknya destruktif. Ketika seorang pejabat menimbun ratusan miliar, ada jutaan anak yang kehilangan akses pendidikan layak dan gizi baik. Ketika kita di rumah bersikap egois dan menuntut emosi tanpa batas, ada keluarga yang perlahan retak dan menciptakan trauma baru bagi generasi berikutnya. Ketidakmampuan kita untuk berkata “cukup” selalu dibayar mahal oleh kenyamanan atau hak orang lain.

Menemukan Jangkar Kembali

Menulis refleksi ini adalah tamparan bagi diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa melatih rasa cukup bukanlah tentang menyerah pada keadaan atau menjadi malas. Rasa cukup adalah keberanian untuk menarik garis batas yang tegas antara kebutuhan dan keserakahan ego.

Mungkin kita perlu belajar untuk sering-sering “pulang” ke dalam diri. Berhenti sejenak dari kegilaan dunia luar, menarik napas dalam-dalam, dan menyadari bahwa kedamaian batin tidak pernah dijual di toko barang mewah, tidak melekat pada jabatan, dan tidak bisa dipaksakan dari lengan orang lain.

Sebelum kita menuntut hidup memberikan lebih banyak lagi, ada baiknya kita melihat apa yang sudah ada di atas meja kita hari ini, lalu berbisik dengan tulus: “Ini sudah cukup, dan saya bersyukur.”