Generus Indonesia
Mujhid Muzhid. Gambar: Generus

Frugal Living? Kita Sudah Lama Menerapkan Mujhid-Muzhid!

Oleh Fitri Utami

Belakangan ini frugal living lagi ramai banget dibahas. Di TikTok, di podcast, di grup WhatsApp keluarga yang tiba-tiba ikut-ikutan. Intinya: hidup lebih hemat, lebih terencana, tidak gampang tergoda hal-hal yang tidak perlu. Banyak yang ngerasa ini sesuatu yang baru, sesuatu yang perlu dipelajari dari konten kreator luar negeri atau buku self-improvement impor.

Padahal kalau kamu Generus, kalau kamu pernah duduk di kajian, pernah denger ceramah tentang karakter seorang Muslim yang ideal, ada sesuatu yang harusnya langsung kamu kenali dari semua itu. Familiar banget. Karena sebenernya, nilai yang ada di balik frugal living itu sudah lama kita pegang. Sudah lama diajarkan. Namanya Mujhid-Muzhid.

Mujhid-Muzhid: prinsip yang mungkin kamu dengar tapi belum sadar betapa relevannya Mujhid-Muzhid adalah filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara dua hal: Mujhid — bekerja keras, giat, sungguh-sungguh dalam mencari rezeki. Dan Muzhid — hidup hemat, bersahaja, pandai menahan diri dan mengukur keinginan sesuai kemampuan.

Dua kata itu bukan dua hal yang terpisahm, namun menjadi satu paket. Dan kalau kamu perhatikan, itulah persis yang ada di balik frugal living yang lagi ramai itu — kerja keras yang serius, dibarengi gaya hidup yang tidak ikut-ikutan naik setiap kali penghasilan naik.

Bedanya cuma satu: frugal living adalah tren yang datang dari luar. Mujhid-Muzhid adalah nilai yang sudah ada di dalam, tinggal kita sadari, tinggal kita hidupkan lebih penuh.

Muzhid bukan pelit, Mujhid bukan gila kerja Penting untuk luruskan dua kesalahpahaman yang sering muncul soal prinsip ini.

Muzhid atau hidup hemat dan bersahaja bukan berarti pelit atau kikir. Orang yang Muzhid bukan orang yang menolak semua kesenangan dunia, atau yang merasa berdosa setiap kali beli sesuatu yang ia sukai. Muzhid adalah soal kesadaran: tahu mana yang benar-benar bernilai, dan mana yang hanya memenuhi impuls sesaat. Ia membeli dengan niat, bukan dengan refleks.

Begitu juga Mujhid. Bukan berarti workaholic, bukan berarti mengorbankan segalanya demi pekerjaan. Mujhid adalah soal kualitas usaha, sungguh-sungguh dalam apa yang kamu kerjakan, tidak setengah-setengah, tidak menunggu mood. Ia hadir penuh dalam prosesnya, bukan sekadar nampak sibuk.

Dua karakter ini, ketika dijalani bersama, menciptakan sesuatu yang langka: orang yang produktif tapi tidak tamak, hemat tapi tidak sempit, punya cukup tapi tidak dikendalikan oleh cukup itu. Kita hidup di zaman yang terus-terusan menawarkan lebih. Lebih banyak pilihan, lebih banyak godaan, lebih banyak standar gaya hidup yang dikemas seolah-olah itulah yang normal. FOMO bukan lagi sekadar perasaan namun sudah jadi tekanan sosial yang nyata, yang bikin banyak orang menghabiskan uang yang belum mereka punya untuk membeli hal yang tidak mereka butuhkan demi impresi yang tidak bertahan lama.

Di tengah tekanan itu, Mujhid-Muzhid bukan cuma prinsip spiritual yang indah didengar. Ia adalah tameng. Orang yang sudah menginternalisasi nilai ini tidak mudah terbawa arus, bukan karena tidak mau senang, tapi karena ia punya ukuran sendiri tentang apa yang cukup dan apa yang bermakna.

Dan ukuran itu tidak datang dari linimasa. Ia datang dari dalam.

Jadi, frugal living ala kita itu seperti apa? Bukan soal tidak pernah jajan. Bukan soal hidup paling minimalis se-Indonesia. Frugal living ala Mujhid-Muzhid itu lebih ke: setiap rupiah yang kamu keluarkan, kamu tahu kenapa. Setiap keputusan konsumsi punya kesadaran di baliknya, bukan impuls, bukan tekanan sosial, bukan sekadar karena lagi diskon.

Dan di sisi Mujhid-nya: kamu tidak hanya hemat dalam pengeluaran, tapi juga serius dalam usaha. Karena Muzhid yang tidak dibarengi Mujhid hanya menghasilkan orang yang hemat tapi stagnan, tidak ada yang tumbuh, tidak ada yang berkembang, tidak ada surplus yang bisa diarahkan ke hal yang lebih besar. Dunia sedang menemukan kembali sesuatu yang kita sudah lama tahu. Frugal living, intentional spending, mindful consumption, semua label baru itu menunjuk ke arah yang sama dengan Mujhid-Muzhid. Bedanya, kita tidak perlu menunggu tren untuk memulai. Kita tidak perlu mengimpor nilai dari luar untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.

Prinsip itu sudah ada. Sudah diajarkan. Sudah jadi bagian dari identitas kita sebagai Generus. Tinggal satu pertanyaan: sudah seberapa sungguh-sungguh kita menghidupkannya?