Oleh Fitri Utami
Dua tahun gue tinggal di Jakarta dan masih kaget. Bukan karena macetnya, itu sudah hafal. Bukan karena harganya, itu sudah terima. Yang bikin kaget adalah betapa cepatnya orang-orang di sini bergerak, betapa seriusnya mereka soal produktivitas, betapa hidupnya terasa seperti proyek yang terus dioptimasi: workout sebelum subuh, meal prep di akhir pekan, journaling sebelum tidur, dan entah bagaimana mereka masih sempat ikut kelas online jam 9 malam.
Lalu pulang kampung. Dan tiba-tiba semuanya melambat, drastis. Orang-orang ngobrol santai tanpa agenda, makan siang bisa sampai dua jam, tidak ada yang nanya soal “goals” atau “self-improvement.” Dan bukannya lega, tapi malah ngerasa… gelisah. Tangan refleks buka kalender. Otak mulai nyusun to-do list yang tidak ada deadlinenya.
Ada hal-hal dari Jakarta yang genuinely bagus dan perlu diakui. Ritme kota ini memaksa gue tumbuh — mau atau tidak. Gue di sini belajar disiplin bukan karena motivasi, tapi karena kalau tidak disiplin gue pasti akan tertinggal. Belajar menjaga kesehatan karena lingkungannya menormalisasi itu. Bahkan gue belajar bahwa waktu punya harga, bahwa effort punya konsekuensi, bahwa tidak ada yang datang sendiri tanpa usaha.
Tapi ada sisi lain yang jarang diakui: Jakarta juga bisa menjadi mesin kecemasan yang sangat canggih. Di sini, “cukup” tidak pernah terasa benar-benar cukup. Selalu ada level berikutnya, selalu ada versi diri yang lebih optimal yang bisa dicapai. Hustle culture dikemas jadi identitas, bukan sekadar kebiasaan — dan perlahan, tanpa sadar, gue mulai menilai diri sendiri dari seberapa produktif hari yang gue jalani.
Workaholic bukan prestasi. Addict to healthy lifestyle juga bisa jadi bentuk kontrol yang berlebihan kalau tidak dijaga. Mindfulness yang genuine harusnya membuat kamu lebih hadir — bukan lebih anxious soal apakah kamu sudah cukup hadir hari ini.
“Di Jakarta kamu belajar bahwa waktu punya harga. Di kampung kamu diingatkan bahwa hidup punya lebih dari harga.”
Sekarang sisi yang lebih susah untuk gue akui, karena menyangkut tempat yang gue rindukan.
Ada hal-hal di kampung yang Jakarta tidak akan pernah punya. Kebersamaan yang hadir begitu saja tanpa perlu dijadwalkan. Percakapan yang mengalir tanpa agenda. Cara orang-orang di sana menikmati hari tanpa merasa perlu membuktikan sesuatu kepada siapapun. Itu bukan kelemahan, itu kekayaan yang nyata, dan gue sungguh merindukan itu ketika tenggelam dalam ritme Jakarta yang tidak pernah berhenti.
Tapi gue juga harus jujur: ada perbedaan antara hidup yang tenang karena damai, dan hidup yang tenang karena tidak ada ruang untuk mempertanyakan apakah ada yang bisa bertumbuh lebih jauh. Keduanya terlihat sama dari luar. Tapi rasanya berbeda dan dampaknya juga berbeda dalam jangka panjang.
Ketika gue pulang dan ngerasa jomplang, gue sempat berpikir masalahnya ada di sana. Tapi lama-lama gue mulai sadar: sebagian dari gelisah itu bukan karena kampungnya yang kurang, tapi karena gue sudah terlalu terbiasa dengan kecemasan produktivitas sampai-sampai ketenangan pun terasa seperti sesuatu yang harus gue “perbaiki.”
Inilah yang paling bikin gue mikir lama: gue tidak cuma berpindah tempat selama dua tahun ini. Gue berpindah sistem nilai, tanpa benar-benar memilih secara sadar nilai mana yang mau gue pegang.
Jakarta punya standarnya: produktif, optimal, selalu bergerak. Kampung punya standarnya: hangat, santai, tidak perlu neko-neko. Keduanya punya hal yang bisa diapresiasi. Keduanya juga punya hal yang perlu dikritisi. Tapi gue, dan mungkin banyak perantau lain tidak pernah benar-benar duduk dan memutuskan: sebenernya gue mau pegang standar yang mana?
Akibatnya gue jadi cermin yang memantulkan lingkungan. Di Jakarta gue ngebut, di kampung gue melambat. Bukan karena dua tempatnya terlalu berbeda. Tapi karena gue sendiri belum punya definisi yang jelas tentang hidup yang gue mau jalani, yang bisa gue bawa ke mana pun gue pergi.
Gue tidak mau berakhir dengan kesimpulan yang klise: “ambil yang baik dari keduanya.” Karena itu kedengarannya mudah, padahal prosesnya tidak.
Yang sebenernya perlu dilakukan lebih dalam dari itu: duduk, dan tanya jujur ke diri sendiri, bukan “gue lebih cocok di mana,” tapi “gue mau jadi orang seperti apa?” Jawabannya itu yang harusnya jadi kompas, bukan lokasi tempat tinggal.
Dari Jakarta gue mau ambil disiplinnya, tapi bukan kecemasannya. Kesadaran bahwa waktu berharga — tapi bukan obsesi bahwa setiap detik harus dipertanggungjawabkan. Dari kampung gue mau ambil cara hadir dalam kebersamaan tanpa agenda, tapi tetap bawa semangat untuk terus bertumbuh.
Dua tahun di Jakarta dan masih kaget, sekarang gue mulai ngerti bahwa itu bukan tanda gagal adaptasi. Itu tanda bahwa gue masih punya cukup kesadaran untuk tidak menelan mentah-mentah semua yang ditawarkan kota ini. Dan kesadaran itu, sekecil apapun, perlu dijaga.
Karena perantau yang paling perlu diwaspadai bukan yang tidak bisa adaptasi. Tapi yang adaptasi total, sampai tidak ada sisa dirinya yang asli. Jomplang itu tidak nyaman. Tapi mungkin justru di sana gue paling jujur dengan diri sendiri.










Leave a Reply
View Comments