Generus Indonesia
Ini Bukan Tentang Kamu. Foto: Unplash

Ini Bukan Tentang Kamu

Oleh Nabila Kartika Luthfa

Hai sobat gen! Pernahkah kamu melewati sebuah repost galau, kutipan bijak tentang pengkhianatan, atau video pendek yang bernada sarkas di beranda medsosmu, lalu tiba-tiba dadamu berdegup kencang? Kamu langsung berpikir: “Ini pasti buat aku. Dia sengaja nyindir kejadian kemarin.”

Padahal, kenyataannya bisa jadi jauh berbeda.

1. Ilusi “Pusat Semesta” Digital

Ada sebuah istilah psikologi yang menarik, yaitu Egocentric Bias kecenderungan manusia untuk merasa bahwa segala hal yang terjadi di sekitarnya punya kaitan erat dengan dirinya. Di dunia nyata saja ini sering terjadi, apalagi di media sosial yang algoritmanya dirancang untuk terus menyuapi kita dengan konten.

Kita harus mulai menyadari tiga realitas besar ini:

  • Gak semua repost adalah sindiran: Kadang orang cuma suka lagunya, estetikanya, atau videonya lewat di For You Page (FYP) mereka tanpa mikir panjang.
  • Gak semua quote adalah kode: Banyak orang menyimpan kutipan hanya sebagai pengingat untuk diri mereka sendiri (self-reminder), atau sekadar suka dengan rima katanya.
  • Gak semua postingan punya target: Sebagian besar orang memposting sesuatu murni karena mereka sedang bosan, ingin berbagi, atau bahkan tanpa alasan sama sekali.

Dunia tidak berputar di sekeliling kita, dan begitu juga dengan algoritma beranda media sosial orang lain. Algoritma bekerja berdasarkan ketertarikan acak dan interaksi personal pemilik akunnya, bukan berdasarkan dinamika hubungan kita dengan mereka.

2. Mengapa Kita Begitu Mudah Merasa Tersindir?

Seringkali, reaksi kita terhadap postingan orang lain adalah cermin dari isi kepala dan rasa jenuh kita sendiri. Jika kita sedang merasa bersalah, tidak aman (insecure), atau sedang punya konflik yang belum selesai, otak kita secara otomatis akan mencari konfirmasi dari luar. Kita menyambungkan titik-titik yang sebenarnya tidak pernah ada hubungannya. Kita sibuk mencocokkan caption orang lain dengan drama hidup kita, seolah-missal kita adalah tokoh utama dalam cerita mereka.

Akibatnya, kita terjebak dalam labirin kecemasan yang kita bangun sendiri, melemparkan energi emosional pada asumsi-asumsi tanpa dasar. Setiap kalimat retoris orang lain berubah menjadi serangan personal, dan setiap gambar estetik yang mereka unggah seolah menjadi konspirasi untuk menjatuhkan mental kita. Sesungguhnya media sosial adalah pantulan dari ketakutan terbesar yang sedang kita sembunyikan dari diri kita sendiri

3. Belajar Melepaskan Diri dari “Drama Tak Terlihat”

Terlalu cepat merasa menjadi target dari setiap postingan lewat hanya akan menguras energi emosional secara sia-sia. Kita menjadi mudah curiga, hubungan pertemanan menjadi canggung, dan kita hidup dalam kecemasan yang kita ciptakan sendiri.

Mari kita sepakati satu hal untuk menjaga kesehatan mental kita: Jika seseorang punya masalah dengan kita, dan mereka tidak mengatakannya secara langsung, maka masalah itu tidak ada.

Kita tidak perlu menjadi detektif untuk menebak isi hati orang lewat sebaris kalimat di story mereka. Menghabiskan waktu dengan menganalisa pilihan kata, mencari waktu unggahan dengan konflik terakhir kita, hanya akan menguras energi waras secara cuma-cuma.

Jika seseorang memang memiliki masalah yang tulus ingin diselesaikan dengan kita, mereka akan mencari ruang privat untuk berbicara, bukan melempar teka-teki di ruang publik. Lagipula, hidup ini sudah terlalu penuh dengan urusan nyata yang menyita perhatian, membiarkan diri kita terjebak dalam tebak-tebakan digital hanya akan membuat hidup dalam kecurigaan yang tidak perlu. Lebih baik menutup aplikasi, meletakkan ponsel dan mengembalikan fokus pada kedamaian diri kita sendiri.

Menyadari hal ini adalah bentuk kedewasaan digital. Sebuah pengingat, agar kita bisa menurunkan ego dan berhenti menciptakan drama tidak terlihat di dalam kepala kita sendiri.

Mulai hari ini, saat melihat postingan yang terasa “menyentil”, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada diri sendiri: “Ini bukan tentang aku.” Dunia akan terasa jauh lebih damai ketika kita berhenti merasa menjadi pusat dari setiap cerita yang lewat di beranda.