Tas ransel yang dibawa Faqihu Sholih sebagai petugas haji, sebenarnya nggak penuh-penuh amat. Isinya cuma air minum, camilan, obat-obatan, dan perlengkapan kerja saja. Namun ketika matahari mulai terik, saat perjalanan menuju lokasi lontar Jumrah Aqabah di Mina, isi tasnya habis. Bukan karena dipakai sendiri, melainkan dibagikan satu per satu kepada jemaah.
Ada yang kehausan. Ada yang kelelahan. Ada yang bingung mencari jalan. Baru beberapa langkah berjalan, ada yang bertanya, “Pak, Terminal Ajyad lewat mana?”
Belum selesai menjawab, muncul lagi pertanyaan lain. “Pak, WC nomor 9 di sebelah mana?”
Lalu ada jemaah yang kehabisan air minum. Ada juga yang terlihat lemas dan butuh makanan ringan.
“Pas menuju Jumrah Aqabah, saya berhenti lebih dari tiga kali untuk membantu jemaah. Sampai bekal di tas saya habis,” kenang Faqih.
Perjalanan yang seharusnya cepat justru dipenuhi banyak pemberhentian kecil. Tapi justru dari momen-momen sederhana itu, Faqih merasa menemukan arti sebenarnya menjadi petugas haji. “Ternyata, melayani tamu Allah nggak selalu harus melakukan hal besar. Kadang cukup berhenti sebentar, mendengarkan, menunjukkan arah, atau sekadar memberikan sebotol air,” ungkap Faqih.
Berawal dari Anak Petani
Banyak yang gak tau, kalau Faqih yang saat ini bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH) Daerah kerja Makkah itu lahir dari keluarga petani.
Sawah keluarganya hanya sekitar seperempat hektare. Saat usianya baru 15 tahun dan baru lulus SMP, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu hidup berubah total.
Di saat teman-temannya mulai memakai seragam SMA, Faqih justru harus membantu ibunya menghidupi tiga adiknya. Mulai dari bekerja sebagai buruh tani, menggembala sapi, dan melakukan apa saja demi keluarganya tetap bertahan.
Bisa dibilang, semasa sekolah Faqih termasuk siswa berprestasi dan pernah masuk kelas unggulan. Tapi kenyataan hidup membuat cita-citanya harus tertunda. Meski begitu, satu hal yang nggak pernah hilang adalah harapan dan doa.
Sekarang Faqih bekerja sebagai pewarta di DPP LDII Senayan, Jakarta. Sebenarnya rutinitas yang dilakukan sederhana. Pagi membantu mengurus anak di rumah, lalu berangkat kerja setelah istrinya yang berprofesi sebagai guru pulang mengajar.
Faqih sama sekali nggak pernah membayangkan suatu hari akan bertugas di Tanah Suci. Saat ditanya apa rahasia bisa sampai di Makkah sebagai petugas haji, jawabannya sederhana. “Saya nggak tahu doa tahun berapa yang Allah kabulkan,” kata Faqih
“Mungkin ini yang disebut doa adalah senjatanya orang iman, manusia hanya bisa berencana, namun hasil akhirnya tetap milih Allah,” lanjutnya.
Tangisan yang Datang Lagi Setelah Bertahun-tahun
Faqih mengaku bukan orang yang gampang menangis. Terakhir kali ia menangis hebat adalah saat ayahnya meninggal dunia. Bertahun-tahun kemudian, air mata itu kembali jatuh…
Bukan karena sedih, bukan juga karena bahagia, melainkan ketika pertama kali berdiri di depan Ka’bah, “Saya merasa sangat kecil di hadapan Allah,” ujar Faqih
Di depan Ka’bah, semua terasa sama.
Nggak ada jabatan.
Nggak ada status sosial.
Nggak ada ukuran sukses versi dunia.
Yang ada hanyalah seorang hamba yang datang membawa segala kekurangannya.
Momen yang Paling Berkesan Bukan Saat Beribadah
Banyak orang mengira pengalaman paling indah di Tanah Suci adalah ketika beribadah. “Tapi bagi saya, momen paling berharga adalah ketika bisa membantu para jamaah,” ungkap Faqih.
Mulai dari mengantar jemaah yang tersesat, membantu membuka pintu hotel, memperbaiki AC, menjelaskan kartu kendali, sampai menenangkan lansia yang takut naik kursi roda.
Hal-hal kecil itu justru yang paling dibutuhkan. Tidak hanya itu, yang paling membuatnya tersentuh adalah semangat para jemaah lansia.
Ada yang berjalan tertatih-tatih.
Ada yang harus menggunakan kursi roda.
Namun semangat ibadah mereka luar biasa.
“Saya sangat mengapresiasi seluruh jemaah Indonesia yang telah mengikuti arahan petugas. Berkat kedisiplinan mereka, pelayanan bisa berjalan lebih baik.” Ujar faqih.
Di akhir masa tugasnya, Faqih bahkan memilih meminta maaf kepada seluruh jemaah apabila selama bertugas masih ada pelayanan yang kurang maksimal. Baginya, melayani manusia selalu menyisakan ruang untuk terus belajar menjadi lebih baik.
Haji Mengubah Cara Pandangnya
Pengalaman di Tanah Suci membuat pemahaman Faqih tentang haji ikut berubah. Menurutnya, haji mabrur bukan hanya soal selesai menjalankan semua rangkaian ibadah, “Ada yang jauh lebih penting ialah perubahan setelah pulang. Menjadi pribadi yang lebih baik, rendah hati, peduli kepada orang lain. Karena sejatinya, kita sama di hadapan Allah, yang beda hanya hati yang selalu tunduk dan amal yang diterima-Nya,” ujar Faqih.
Saat ditanya apa yang sebenarnya ia cari di Tanah Suci, jawabannya begitu sederhana.”Saya datang ke Tanah Suci untuk mencari ridha Allah lewat pelayanan kepada para tamu-Nya,” ungkap Faqih.
Perjalanan Faqih, dari seorang anak petani yang pernah menggembala sapi hingga akhirnya dipercaya melayani jutaan tamu Allah, menjadi bukti bahwa hidup sering membawa seseorang ke tempat yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Dan mungkin memang benar…
Tidak ada doa yang benar-benar hilang.
Bisa jadi, doa-doa yang pernah dipanjatkan bertahun-tahun lalu hanya sedang menunggu waktu terbaik untuk dikabulkan.










Leave a Reply
View Comments