Kamu pernah tidak, merasa acara televisi atau serial streaming sekarang rasanya makin membosankan dan makin “sampah”?
Menjelang ajang penghargaan bergengsi seperti Emmy Awards, ulasan dan kritik media soal industri televisi selalu memuncak. Inti dari mayoritas kritikan tersebut sama: industri hiburan layar kaca sedang menuju kehancurannya.
Memang sulit untuk memungkiri bahwa kita sedang hidup di era brain rot—masa ketika konten dangkal bertahta dan rentang perhatian (attention span) manusia berada di titik terendah sepanjang sejarah. Bayangkan, banyak orang sekarang lebih memilih menonton film durasi dua jam yang dipotong-potong menjadi 100 klip TikTok berkecepatan 2x lipat daripada duduk tenang di bioskop.
Namun, mari kita cermati sudut pandang yang berbeda: klaim mengenai “kematian kualitas hiburan” sebenarnya bukan hal baru. Setiap kali medium baru lahir, kepanikan moral yang sama selalu berulang. Bahkan, sosiolog Walter Benjamin pada tahun 1936 sudah pernah menyinggung bahwa ketika sebuah karya seni diproduksi secara massal melalui teknologi, aura dan keotentikannya perlahan memudar. Dunia hiburan seolah selalu berada di ambang kehancuran, tetapi lucunya, kita tetap saja terhibur.
Maka, pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan hari ini bukanlah “Apakah kualita tayangan TV sekarang makin buruk?”, melainkan “Jangan-jangan, cara kita menontonnya yang makin parah?”
Menonton Tanpa Benar-Benar Menonton
Coba ingat kembali era sebelum platform streaming menjamur, saat orang masih menyewa DVD atau menunggu jam tayang di TV analog. Dulu, televisi sering dipandang sebelah mata oleh aktor-aktor papan atas Hollywood. Sekarang? Batas antara bioskop dan layar kaca sudah lebur. Aktor kelas A berlomba-lomba membintangi serial TV, anggaran produksinya mencapai jutaan dolar, dan kita disuguhi deretan karakter ikonik yang bertahan selama puluhan tahun.
Bukan cuma itu, akses kita terhadap hiburan hari ini tidak terbatas. Kita bisa menonton hampir semua tayangan yang pernah dibuat dalam sejarah manusia. Namun, keberlimpahan (overload) konten ini justru memicu decision fatigue—kita lelah hanya untuk memilih apa yang mau ditonton.
Lalu, bagaimana kebiasaan kita saat akhirnya menemukan tayangan yang bagus?
Gawai hampir pasti menempel di tangan. Mata terbagi antara layar TV dan layar ponsel yang terus menampilkan guliran video pendek, sementara pikiran melayang memikirkan daftar tugas harian. Ketika penonton memproses tayangan setengah hati seperti ini, tidak adil rasanya jika kualitas acaranya yang disalahkan.
Para eksekutif media pun sadar akan hal ini. Karena tahu perhatian penontonnya terpecah akibat bermain gim ponsel atau membalas pesan, produser mulai merancang jalan cerita yang makin formulaik dan dialog yang sangat gamblang agar penonton tidak bingung. Industri media hanya merespons pasar: jika tontonan terasa makin dangkal, itu adalah cerminan dari selera dan tingkat konsentrasi masyarakat sendiri.
Penurunan Daya Kritis dan Kebisingan Media Sosial
Masalah ini juga sejalan dengan fenomena penurunan tingkat literasi dan pemahaman bacaan (reading comprehension) di media digital. Ketika seseorang kesulitan memahami nuansa, latar belakang, serta perkembangan karakter dalam teks tertulis, kecil kemungkinannya mereka bisa menangkap pesan tersirat ketika cerita tersebut divisualisasikan ke dalam layar.
Di samping itu, cara kita menikmati hiburan makin diperkeruh oleh riuhnya wacana di media sosial. Dibandingkan mendengarkan ulasan dari kritik profesional, masyarakat hari ini lebih sering menyerap opini dari pembuat konten TikTok yang sengaja memicu kemarahan demi algoritma.
Begitu sebuah serial menjadi populer, media sosial akan memerasnya dari segala sudut hingga menjadi viral, sebelum akhirnya membuat orang muak karena overekspos. Hukum kapitalisme digital bekerja cepat: sesuatu yang populer akan dipaksa hadir di mana-mana sampai semua orang bosan.
Pada akhirnya, pertanyaan itu kembali pada diri kita sendiri: Apakah kualitas tayangannya yang makin buruk, atau kita yang sudah tidak mampu menikmatinya dengan bijak?










Leave a Reply
View Comments