Generus Indonesia
Kita Start dari Mana. Gambar: Generus

Kita Start dari Mana?

Oleh Safauziana

Kita sering mendengar kalimat, “Kalau mau sukses, ya kerja keras.” Nggak salah. Kerja keras memang penting. Disiplin penting. Kemampuan juga penting. Tapi coba berhenti sebentar dan pikirkan: Apakah semua orang benar-benar memulai dari titik yang sama?

Bayangkan dua orang yang sama-sama ingin kuliah, yang satu tumbuh dalam keluarga yang mampu, punya akses pendidikan yang baik, laptop, internet, bahkan punya ruang untuk gagal dan mencoba lagi. Sementara yang lain setelah sekolah harus membantu ekonomi keluarga. Untuk membeli laptop harus berpikir berkali-kali. Ketika gagal, belum tentu punya kesempatan kedua.

Dua-duanya bisa sama-sama pintar. Dua-duanya bisa sama-sama bekerja keras. Tapi mereka tidak sedang berlari dengan kondisi yang sama, yang satu mungkin tinggal mempercepat langkah, yang satu lagi harus membangun jalannya terlebih dahulu.

Di sinilah kita bisa melihat persoalan meritokrasi. Gagasan meritokrasi terdengar adil: siapa yang punya kemampuan, bekerja keras, dan berprestasi, dialah yang layak mendapatkan posisi lebih baik. Masalahnya muncul ketika kita menganggap hasil hidup seseorang sepenuhnya merupakan hasil dari kemampuan dan kerja kerasnya.

Kalau seseorang sukses, kita bilang, “Dia memang pekerja keras.”

Kalau seseorang tertinggal, kita mudah berkata, “Berarti kurang berusaha.”

Padahal, ada faktor yang sering tidak terlihat: kesempatan.

Ada orang yang bisa gagal berkali-kali karena selalu punya kesempatan untuk mencoba lagi. Ada juga yang sekali gagal langsung harus menanggung konsekuensi besar. Di sinilah istilah lost chance menjadi penting.

Kadang yang hilang bukan kemampuan seseorang, tetapi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan itu.

Karena itu, sebelum melihat hasil hidup seseorang, mungkin kita perlu bertanya:

  • Dari keluarga dan lingkungan seperti apa dia berasal?
  • Kesempatan apa yang dia dapatkan?
  • Seberapa besar ruang yang dia punya untuk gagal dan mencoba lagi?
  • Apa saja kesempatan yang mungkin sudah hilang sebelum dia sampai di titik sekarang?

Namun, menyadari bahwa titik start kita berbeda bukan berarti kita berhenti bergerak.

Justru langkah yang penting adalah memahami posisi diri kita sendiri.

Sekarang aku ada di mana? Apa yang sudah aku punya? Apa yang belum aku punya? Kesempatan apa yang tersedia? Keterbatasan apa yang harus kuhadapi? Dan dari semua itu, apa yang bisa kuoptimalkan?

Kita memang tidak bisa memilih dari keluarga mana kita lahir. Kita tidak bisa mengembalikan kesempatan yang sudah hilang. Tapi kita masih bisa menentukan apa yang dilakukan dengan kesempatan yang ada hari ini.

Tidak perlu membandingkan jalan kita dengan orang lain.

Orang lain mungkin punya head start. Hal yang paling penting adalah tahu posisi kita, kemudian bergerak seoptimal mungkin dari titik tersebut.

Sebab kerja keras tanpa memahami posisi bisa membuat kita hanya berlari tanpa arah. Sebaliknya, memahami posisi membuat kita bisa memilih strategi: keterampilan apa yang perlu dibangun, kesempatan mana yang perlu diambil, dan siapa yang bisa menjadi bagian dari perjalanan kita.

Pada akhirnya, membicarakan ketimpangan bukan berarti meremehkan kerja keras orang yang berhasil. Begitu juga mengakui adanya privilege bukan berarti mengatakan seseorang tidak pantas atas pencapaiannya.

Kita hanya perlu menyadari bahwa tidak semua orang memulai dari garis start yang sama.

Ada yang mendapat head start. Ada yang harus mengejar. Ada yang harus memulai ulang.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Seberapa keras aku bekerja?”

Tapi juga:

“Aku sekarang ada di mana, dan apa yang bisa kulakukan dengan kesempatan yang masih kumiliki?”

Karena kita mungkin tidak bisa memilih garis start.

Tapi kita masih bisa menentukan bagaimana kita berlari setelahnya.

Dan ketika kesempatan datang, sekecil apa pun itu, mungkin tugas kita sederhana:

jangan sampai kesempatan yang masih ada ikut menjadi lost chance.