Oleh Achmad Zaky Gifari
JAKARTA – Minggu, Tepat pukul 06.00 WIB.
Sebelum Ares benar-benar memulai aktifitas di pagi itu, tangan Ares sudah lebih dulu meraih ponsel.
Satu notifikasi muncul. Kemudian dua. Lalu ditampilkan video pendek yang direkomendasikan oleh sosial media.
Ares menontonnya.
Satu video selesai, berganti video lain. Kemudian video berikutnya.
Ia sebenarnya hanya berniat melihat ponsel selama beberapa menit sebelum bersiap beraktivitas. Namun tanpa terasa, hampir setengah jam berlalu.
Tidak ada yang secara langsung menyuruhnya menonton.
Tidak ada seseorang yang memilihkan video satu per satu.
Namun layar seolah tahu apa yang ingin dilihatnya.
Itulah kehidupan generasi muda di era algoritma.
Hari ini, algoritma menjadi bagian yang nyaris tidak terlihat dalam keseharian anak muda. Ia bekerja di balik media sosial, mesin pencari, platform video, aplikasi musik, hingga berbagai layanan digital yang digunakan setiap hari.
Algoritma mempelajari apa yang kita tonton, apa yang kita sukai, apa yang kita lewati, bahkan berapa lama kita berhenti pada sebuah konten. Kemudian ia kembali menyajikan sesuatu yang dianggap paling mungkin menarik perhatian.
Semakin sering digunakan, semakin personal pula dunia digital yang muncul di layar. Setiap Ponsel terdapat dunia yang berbeda. Setiap orang bisa membuka aplikasi yang sama pada waktu yang sama, tetapi melihat dunia yang berbeda.
Satu orang mendapatkan video sepak bola. Yang lain mendapatkan konten memasak. Sementara pengguna lainnya disuguhi konten motivasi, bisnis, teknologi, hiburan, atau kajian keagamaan. Bagi generus, kondisi ini memberikan peluang yang besar. Pengetahuan bisa ditemukan dalam hitungan detik.
Materi kuliah dapat dipelajari melalui video.
Tutorial desain tersedia di YouTube.
Informasi pekerjaan beredar melalui LinkedIn dan media sosial.
Konten keagamaan juga semakin mudah ditemukan.
Bahkan seseorang yang awalnya tidak memiliki akses pada komunitas tertentu dapat menemukan banyak informasi hanya melalui layar ponselnya. Namun di balik kemudahan tersebut terdapat pertanyaan lain: Apakah semua yang muncul di layar memang sesuatu yang kita butuhkan?
Ketika Algoritma Mulai Mengenal Kita
“Kadang ketika kita baru aja ngobrol dengan teman tentang sesuatu, setelah itu muncul konten tentang hal serupa di sosial media.”
Cerita semacam itu terdengar familiar bukan?.
Bagi Ares, rekomendasi konten sering kali terasa seperti cermin dari kebiasaannya. Ketika beberapa kali menonton konten olahraga, muncul lebih banyak video olahraga. Ketika tertarik dengan dunia fotografi, rekomendasi kamera dan tutorial fotografi mulai memenuhi beranda.
Ketika mengikuti akun tertentu, muncul pula konten-konten serupa. Semakin lama, beranda media sosial menjadi semakin personal. Di sinilah algoritma bekerja.
Ia tidak harus mengenal kita seperti seorang teman mengenal kita. Cukup dengan membaca pola perilaku digital, sistem dapat memperkirakan konten apa yang kemungkinan besar membuat seseorang bertahan lebih lama di depan layar.
Persoalannya, sesuatu yang menarik belum tentu sesuatu yang penting. Dan sesuatu yang sering muncul belum tentu sesuatu yang paling benar.
Ruang Digital Bisa Menjadi “Kamar Sendiri”
Ada istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terus menerima informasi yang sesuai dengan minat dan pandangannya: filter bubble.
Seseorang yang sering melihat satu jenis pandangan. akan semakin banyak mendapatkan pandangan serupa. Lama-kelamaan, ia bisa merasa bahwa apa yang muncul di berandanya merupakan gambaran seluruh dunia. Padahal belum tentu.
Seseorang yang setiap hari melihat konten olahraga mungkin merasa semua orang sedang membicarakan olahraga. Mereka yang mengikuti tren fashion bisa merasa tren tersebut ada di mana-mana. Begitu pula dengan isu sosial, politik, ekonomi, agama, hingga gaya hidup.
Algoritma memang tidak selalu menciptakan pandangan seseorang. Tetapi ia dapat menentukan pandangan mana yang lebih sering berada di depan mata. Dan sesuatu yang terus-menerus terlihat memiliki kemungkinan lebih besar untuk dianggap biasa.
Ketika Konten Keagamaan Bertemu Algoritma
Perubahan dunia digital juga membawa perkembangan baru dalam penyebaran konten keagamaan. Dulu, seseorang harus datang ke majelis untuk mendengarkan kajian. Kini, potongan kajian dapat ditemukan melalui video berdurasi satu menit.
Ceramah, kutipan, infografis, hingga diskusi keagamaan dapat beredar dalam hitungan detik. Bagi generus, ruang digital dapat menjadi tempat belajar sekaligus ruang berbagi. Namun format media sosial juga memiliki karakter tersendiri. Konten yang singkat lebih mudah dikonsumsi.
Judul yang kuat lebih mudah mendapatkan perhatian. Pernyataan yang kontroversial lebih mudah mengundang komentar. Sementara penjelasan yang panjang dan membutuhkan konteks sering kali kalah cepat dengan potongan informasi.
Di sinilah tantangan baru muncul. Bagaimana memahami sebuah persoalan secara utuh ketika informasi yang kita terima sering kali hanya beberapa detik? Bagaimana membedakan pengetahuan dengan sekadar potongan informasi? Dan bagaimana tetap terbuka terhadap perspektif lain ketika algoritma terus menyajikan apa yang kita sukai?
Generus Tidak Hidup Hanya di Depan Layar
Menjelang sore, Ares menutup laptop. Bersiap menuju taman menjumpai teman-temannya. Tidak ada lagi algoritma yang menentukan siapa yang akan datang.
Tidak ada tombol like.
Tidak ada jumlah views.
Yang ada hanya beberapa anak muda yang saling menyapa.
Mereka bermain, berolahraga, bercanda, membicarakan kuliah, pekerjaan, hingga rencana kegiatan berikutnya. Pertemuan secara langsung memberikan sesuatu yang berbeda dari interaksi digital. Di dunia nyata, kita bertemu dengan orang-orang yang tidak selalu memiliki minat yang sama.
Teman kita mungkin menyukai musik yang berbeda. Memiliki pandangan yang berbeda. Mempunyai pengalaman hidup yang berbeda. Justru dari perbedaan itulah seseorang mendapatkan perspektif baru. Sementara algoritma cenderung mencari pola berdasarkan apa yang pernah kita sukai, kehidupan nyata mempertemukan kita dengan sesuatu yang tidak selalu kita pilih.
Dari Penikmat Menjadi Pembuat
Namun generus di era algoritma bukan hanya menjadi penonton.
Mereka juga mulai menjadi pembuat.
Ada yang membuat video edukasi.
Ada yang menjadi fotografer kegiatan.
Ada yang mengelola media sosial organisasi.
Ada yang membuat desain.
Ada yang membuat podcast.
Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempromosikan usaha kecil yang mereka bangun.
Ponsel yang sebelumnya hanya digunakan untuk menonton kini berubah menjadi kamera, studio, ruang editing, sekaligus media publikasi. Seorang anak muda dapat membuat konten dari kamar rumahnya dan menjangkau ribuan orang. Inilah salah satu kekuatan terbesar era algoritma.
Kesempatan untuk berbicara tidak lagi hanya dimiliki oleh mereka yang mempunyai studio televisi atau perusahaan media. Siapa pun dapat membuat karya. Tetapi semakin mudah seseorang memproduksi informasi, semakin penting pula kemampuan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diproduksinya.
Antara Viral dan Bernilai
Ada satu pertanyaan yang mungkin semakin relevan bagi kita, apakah sesuatu harus viral agar dianggap berhasil? Jumlah penonton memang dapat menjadi indikator bahwa sebuah konten mendapatkan perhatian.
Tetapi angka tidak selalu menggambarkan nilai sebuah karya. Sebuah video mungkin hanya ditonton ratusan orang, tetapi membantu seseorang memahami sesuatu. Sebuah tulisan mungkin tidak menjadi viral, tetapi dibaca oleh seseorang yang sedang membutuhkannya.
Sebuah dokumentasi kegiatan mungkin tidak mendapatkan jutaan tayangan, tetapi menjadi arsip berharga bertahun-tahun kemudian. Di tengah dunia yang semakin mengejar engagement, ukuran keberhasilan menjadi semakin beragam.
Tidak semua yang bernilai harus viral. Dan tidak semua yang viral memiliki nilai yang sama.
Ketika Algoritma Tidak Lagi Menjadi Musuh
Algoritma sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia adalah teknologi. Ia membantu seseorang menemukan informasi, hiburan, komunitas, bahkan peluang.
Masalahnya bukan semata-mata keberadaan algoritma. Persoalannya adalah bagaimana manusia berinteraksi dengannya. Generus tidak hanya menjadi pengguna, yang hanya mengikuti apa yang disodorkan layar. Tetapi mereka juga dapat menjadi pengguna yang secara sadar memilih apa yang ingin mereka konsumsi.
Mengikuti akun yang memberikan pengetahuan.
Mencari sumber pembanding.
Membaca informasi secara utuh.
Tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena judulnya menarik.
Dan sesekali keluar dari layar untuk melihat dunia secara langsung.
Karena kehidupan manusia jauh lebih luas daripada apa yang muncul di beranda.
22.00 WIB: Beranda yang Berubah
Malam tiba.
Ares kembali membuka ponsel.
Algoritma kembali bekerja.
Video demi video kembali muncul.
Namun kali ini, ia tidak hanya mengikuti apa yang diberikan layar.
Ia mencari sesuatu.
Tutorial yang dibutuhkan untuk mengasah skillnya.
Informasi tentang sesuatu yang ingin diketahui.
Video olahraga yang ingin dipelajari.
Dan sebuah artikel yang ingin dibaca sampai selesai.
Layarnya masih sama.
Algoritmanya juga masih bekerja.
Tetapi cara ia menggunakannya yang berbeda.
Mungkin, pada akhirnya, menjadi generus di era algoritma bukan tentang memenangkan pertarungan melawan teknologi.
Bukan pula tentang meninggalkan dunia digital.
Melainkan tentang tetap menjadi manusia yang memiliki pilihan ketika berhadapan dengan mesin yang terus belajar tentang dirinya.
Karena algoritma mungkin dapat memprediksi apa yang akan kita tonton berikutnya.
Tetapi keputusan tentang siapa diri kita dan akan menjadi seperti apa kita nanti, tetap berada di tangan kita.
Di luar layar, kehidupan masih terus berlangsung.
Ada keluarga yang menunggu.
Ada teman yang ingin ditemui.
Ada ilmu yang harus dipelajari.
Ada masyarakat yang membutuhkan kontribusi.
Dan ada masa depan yang belum ditentukan oleh algoritma mana pun.










yuyurr relate✌✌