Generus Indonesia
Pelepasan Rasa yang Tak Bermuara. Gambar: Generus

Pelepasan Rasa yang Tak Bermuara

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Salah satu hal yang paling enggan kuakui kepada orang-orang yang mengenalku adalah betapa dalam, nestapa, dan memalukannya keinginanku untuk dicintai.

Bukan sekadar disukai, dikagumi, atau dihormati—meski aku juga menginginkan hal-hal itu. Maksudku, sungguh-sungguh dicintai.

Aku ingin dicintai sebagaimana hujan mencintai bumi. Aku ingin dibutuhkan seperti seseorang yang tenggelam membutuhkan udara. Aku ingin dicintai seperti seorang pelaut merindukan daratan setelah berbulan-bulan mengarungi samudera—dengan seluruh raganya, dengan rasa lega yang begitu menghujam hingga tak terbedakan lagi dari rasa syukur.

Aku ingin menjadi bahasa ibu bagi seseorang. Bukan sesuatu yang harus mereka pelajari, bukan sesuatu yang perlu mereka terjemahkan, melainkan sesuatu yang sejak lahir sudah mahir mereka tuturkan.

Aku ingin dibutuhkan sebagaimana bumi merindukan mentari—mengarahkan diri pada kehangatan tanpa perlu berhitung. Aku ingin menjadi gravitasi seseorang. Menjadi pusat yang mereka kelilingi tanpa sadar, yang menarik tanpa pernah menuntut, yang baru mereka sadari keberadaannya saat berusaha menjauh.

Aku ingin dibutuhkan seperti sebuah lagu yang rindu untuk diselesaikan—seolah tak ada versi dari cerita ini yang masuk akal tanpa keberadaanku di dalamnya. Seolah ada sesuatu yang akan selamanya janggal, selamanya menggantung, selamanya menggapai nada yang tak pernah terjangkau. Aku ingin dicintai seperti api mencintai oksigen. Dicintai seperti halaman terakhir dari sebuah buku yang tak pernah ingin kita tuntaskan.

Namun aku tak tahu bagaimana menyampaikan ini kepada dunia. Aku tak tahu cara mengutarakannya. Maka, lebih sering aku memilih bungkam.

Ada sesosok diri yang begitu pandai berpura-pura tak membutuhkan apa pun secara kasatmata. Sosok yang telah belajar, melalui pelbagai tempaan hidup, bahwa merengkuh kebutuhan adalah sesuatu yang tak menawan. Bahwa memiliki hasrat adalah sebuah kelemahan. Sosok yang selalu tampak baik-baik saja, selalu tertata, selalu memberi ketimbang meminta—selalu menjadi tempat berteduh, bukan yang mencari perlindungan.

Aku mengenali sosok itu secara karib. Aku telah menjadi dirinya sekian lama, hingga terkadang lupa bahwa dulu hal itu hanyalah sebuah pilihan.

Ketika engkau telah begitu mahir menahan apa yang sungguh ingin kauucapkan, perlahan engkau tak lagi merasa sedang menyembunyikannya. Engkau hanya berjalan mengarungi hidup dengan rasa nyeri yang diam-diam mengendap di bawah segalanya—di balik pekerjaan, ambisi, dan pertemanan. Sering kali, engkau bahkan hampir tak menyadarinya karena riuh kehidupan cukup untuk membungkam rasa itu.

Lalu, sebuah hal kecil terjadi.

Mungkin dari sepenggal lirik lagu, atau sebuah adegan dalam buku ketika seseorang dicintai secara begitu spesifik, begitu utuh—hingga engkau dapat merasakannya merayapi seluruh tubuhmu, lalu seketika itu pula merasakan ruang kosong yang ditinggalkannya. Atau sekadar sepasang kekasih di sudut jalan yang tak sedang melakukan hal megah, hanya sekadar hadir bersama—dan ada sesuatu di dalam dirimu yang mengenali keindahan itu, meratapinya diam-diam, lalu dengan sigap berpaling sebelum ada mata yang menangkapnya.

Pada momen-momen itulah rasa nyeri itu menyembul ke permukaan. Pada momen-momen itulah engkau merasakan bobot sepenuhnya dari segala hal yang selama ini kauheningkan.

Aku telah menghabiskan waktu yang panjang untuk mencari pengganti. Buku. Musik. Puisi. Seni. Aku telah mendiami hal-hal itu sebagaimana orang lain menghuni sebuah hubungan—seutuhnya, penuh rasa syukur, dengan pengabdian yang nyaris beraroma keputusasaan. Dan mereka telah memberiku begitu banyak. Sungguh, begitu banyak.

Namun ada malam-malam ketika sebuah lagu usai, dan kesunyian yang menyusulnya terdengar begitu bising. Ketika kututup sebuah buku dan kembali menyadari bilik ini, dan ruangan ini hanyalah sebuah ruang hampa tanpa seorang pun di dalamnya yang memilih hadir karena diriku. Ketika puisi yang semenit lalu terasa begitu memahamiku, mendadak hanya tampak sebagai deretan kata di atas kertas yang ditulis orang lain tentang kerinduan mereka sendiri—sementara aku masih di sini, masih terkurung dalam kerinduanku sendiri. Puisi bukanlah usapan jemari, musik bukanlah sesosok manusia, dan sebagus apa pun sebuah nada, tak pernah ada lagu yang benar-benar bisa merengkuh jiwa yang kesepian.

Aku tak tahu berapa lama seni sanggup menggantikan hasrat untuk diinginkan. Aku tak tahu apakah ada jawaban atas pertanyaan itu selain: “Ia tak akan pernah sanggup, tak seutuhnya, tak selamanya.” Ini bukanlah sebentuk celaan bagi seni, yang kucintai melebihi apa pun. Ini hanyalah sebuah pengakuan jujur bahwa ada hal-hal yang dibutuhkan raga manusia yang tak akan pernah bisa dialirkan sekadar lewat nada atau kata.

Engkau membutuhkan kehadiran. Sentuhan. Kehangatan. Dan sepasang mata dari seseorang yang memutuskan bahwa engkau berharga untuk dipertahankan. Aku tahu apa yang kuinginkan. Aku hanya tak selalu tahu harus dibawa ke mana keinginan yang membuncah ini.

Aku telah berdoa agar keinginan ini memiliki makna. Agar rasa nyeri ini menunjuk ke suatu muara yang nyata, ke arah sesuatu atau seseorang yang benar-benar ada dan sedang melangkah ke mari. Aku berharap kerinduan ini bukanlah kebetulan yang sia-sia. Bukan sekadar sistem sarafku yang keliru menautkan hasrat pada sesuatu yang tak pernah ditakdirkan untukku. Aku berharap ada kebenaran di balik fakta bahwa aku menginginkan ini secara begitu spesifik, begitu konsisten, begitu menghujam.

Namun aku pun telah sampai pada titik di mana aku hanya ingin kepastian. Aku tak ingin terus mendekam di ruang tunggu, tanpa pernah tahu apakah yang kunantikan sedang dalam perjalanan atau memang tak pernah ada sama sekali.

Jika ia memang akan datang, aku ingin siap. Aku ingin tetap berhati terbuka saat saat itu tiba, bukan malah tertutup, berbenteng tebal, dan terlanjur lelah karena menanti hingga tak lagi mampu mengenali hal yang selama ini kudambakan.

Namun jika tidak—jika bentuk cinta yang seperti ini memang bukan bagian dari takdir hidupku—maka lepaskanlah aku dari rasa menginginkan ini. Aku ingin berhenti menggapai ke arah sana. Aku ingin sanggup duduk menyimak lagu yang indah dan hanya mendengarkan musiknya, membaca kisah kasih dan sekadar menikmati jalannya, menyaksikan dua insan saling mengasihi dengan lembut dan merasakan kehangatan untuk mereka—bukan malah meratapi nasibku sendiri.

Aku ingin belajar merindukan dengan cara yang berbeda, atau sekalian berhenti menginginkan hal semacam ini sama sekali. Sebab terus menggapai, merindukan, dan berharap dalam kegelapan seperti ini bukanlah sesuatu yang sanggup ditanggung seseorang terus-menerus tanpa mengikis kepingan jiwanya.

Jika ia tak akan datang, biarkan aku berhenti menanti. Jika ia bukan untukku, biarkan aku berhenti mengira setiap kehangatan kecil sebagai awal dari kehadirannya. Biarkan aku menemukan cara untuk menjadi utuh di dalam kehidupan yang benar-benar kumiliki saat ini, ketimbang terus bersandar pada bayang-bayang kehidupan yang kuretas dalam imajinasi.

Biarkan aku berhenti mencari pengganti, atau anugerahkanlah aku hal yang seutuhnya nyata. Salah satu darinya.

Hanya saja—kumohon—jangan biarkan aku terjebak dalam ambang selamanya. Jangan biarkan aku merindukan sesuatu yang tak pernah berlabuh. Jangan biarkan aku menggapai ke dalam kesunyian yang tak pernah menggapai baliknya.

Itulah hal yang tak akan pernah kuakui kepada siapa pun yang pernah bersua denganku.

Hingga saat ini, kurasa—di hadapan lebih dari 32 ribu jiwa asing di jagat maya.