Generus Indonesia
Lawan Insecure dengan Belajar Bersyukur. Gambar: Generus

Lawan Insecure dengan Belajar Bersyukur

Oleh Yazid Ruziq Ibroham

Setiap kali scroll Instagram, membuka story Whatsapp, atau bertukar pesan dengan beberapa teman daring, kita melihat ada yang mendapat pekerjaan impian, membeli kendaraan dan rumah baru, serta pergi liburan ke tempat yang didambakan setiap orang.

Setelah selesai dengan aktivitas tersebut, kita menutup aplikasi dan bertanya, “kapan aku seperti mereka?” atau, “kenapa aku tidak seperti mereka?” Padahal, sebelumnya kita merasa baik-baik saja.

Terkadang, pertanyaan itu dilanjutkan dengan, “Apa yang kurang dari diriku?” dan “kenapa aku justru seperti ini?” atau pertanyaan lain yang muncul setelah melihat pencapaian dan apa yang didapat orang lain. Itulah insecure, yaitu saat kita selalu merasa orang lain mendapatkan apa yang diinginkannya dan selalu lebih wah dari apa yang kita punya.

Perasaan kekurangan, gagal, dan ketakutan menghantui diri kita. Kita membandingkan kehidupan di depan kamera milik orang lain dengan kehidupan milik kita sendiri.

Perasaan insecure itu dapat dihilangkan dengan adanya bersyukur. Kita masih boleh membandingkan diri dengan orang lain untuk tujuan memotivasi agar lebih baik. Kita boleh ingin mendapat pekerjaan impian, membeli kendaraan dan rumah baru, ataupun ingin pergi liburan. Namun, jangan sampai kehilangan rasa syukur atas apa yang sudah ada dan diberikan oleh Allah kepada diri kita. Tidak perlu membenci versi diri yang sekarang setelah melihat apa yang didapat dan dicapai oleh orang lain.

Bersyukur itu tidak sekedar dengan ucapan ‘Alhamdulillah’ saja, melainkan diikuti oleh pengakuan atas segala nikmat yang telah diberikan Allah dan menggunakannya dengan baik. Kita mungkin ingin bisa mendapatkan dan mencapai sesuatu seperti orang lain, tetapi jangan pernah lupa tentang apa yang sudah ada dalam diri kita. Allah berfirman dalam Al-Quran surah Ibrahim ayat 7 :

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, maka niscaya aku akan menambah (nikmatnya) pada kalian…”

Jika kita telah bersyukur, apa yang akan bertambah? Apakah nikmat itu selalu berupa materi? Nikmat itu tidak melulu materi yaitu harta atau kekayaan saja. Memang, dengan kita bersyukur, belum tentu kita bisa mendapat apa yang kita inginkan seperti yang kita lihat dari orang lain. Akan tetapi, ketika kita bersyukur, hati merasa lebih tenang, segala permasalahan dapat selesai dengan mudah, ada kesempatan berbuat kebaikan, dan yang lain sebagainya.

Bersyukur itu tidak hanya untuk sesuatu yang besar, tetapi dimulai dari hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Ketika merasa insecure saat melihat kehidupan gemerlap di luar sana, cobalah untuk mengingat kembali apa yang sudah kita punya, apa yang sudah berhasil kita lewati hari ini, dan apa yang harus kita syukuri selama ini karena mungkin orang lain belum tentu bisa seperti diri kita.

Mungkin kita tidak akan pernah benar-benar berhenti melihat pencapaian dan kesuksesan orang lain yang lebih dari kita, tetapi kita tidak harus menjadikan kehidupan mereka sebagai ukuran nilai diri kita. Ketika rasa insecure datang, yang kita butuhkan adalah sejenak berhenti, berpikir sebentar, dan menyadari bahwa telah banyak yang kita dapatkan selama ini.

Kita tidak seburuk apa yang kita pikirkan sebelumnya. Allah memberi kita apapun yang kita perlukan. Perasaan insecure itu dilawan bukan dengan menjadi sempurna seperti orang lain, tetapi dengan belajar bersyukur atas apa yang kita punya.