Oleh Fitri Utami
Pernah nggak, kamu datang kepada Allah bukan karena ingin meminta sesuatu secara spesifik, tapi hanya ingin diam sejenak?
Setelah salat, kamu masih duduk di tempat yang sama, menundukkan kepala, tetapi nggak tahu harus mengucapkan doa apa. Bukan karena nggak punya keinginan, melainkan karena terlalu banyak yang sedang ada di pikiran sampai rasanya sulit untuk merangkainya menjadi kata-kata.
Ada masa ketika kita begitu lelah untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Mau bercerita kepada orang lain, rasanya nggak tahu harus mulai dari mana. Mau mengeluh, takut dianggap kurang bersyukur. Sementara mencari jawaban sendiri justru membuat kepala semakin penuh. Akhirnya, kita hanya diam dan berharap Allah mengerti apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.
Padahal, Allah memang mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya…”
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada isi hati yang luput dari pengetahuan Allah. Bahkan sesuatu yang belum mampu kita ungkapkan kepada siapa pun sudah diketahui oleh-Nya.
Namun, bukan berarti ketika sedang lelah kita tidak perlu berdoa. Allah justru memerintahkan hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu,” firman Allah dalam QS. Ghafir: 60.
Karena itu, ketika sedang nggak tahu harus berkata apa, kita bisa memulai dari hal yang sederhana. “Ya Allah, Engkau tahu apa yang sedang aku rasakan.” Atau, “Ya Allah, aku nggak tahu harus bagaimana. Aku serahkan ini kepada-Mu.” Nggak harus selalu panjang dan indah. Yang penting, hati kita tetap menghadap kepada Allah.
Ada kalanya kita sudah melakukan berbagai hal yang kita mampu. Kita sudah berusaha mencari jalan keluar, membuat rencana, meminta saran, bahkan mencoba berkali-kali. Tetapi setelah semua usaha dilakukan, tetap ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Di situlah kita belajar tentang tawakal.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha dan menunggu semuanya terjadi dengan sendirinya. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan hal itu ketika seseorang bertanya tentang untanya: apakah cukup bertawakal atau harus mengikatnya terlebih dahulu. Beliau menjawab, “Ikatlah dan bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).
Ada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, yaitu berusaha sebaik mungkin. Ada pula bagian yang memang bukan berada di tangan kita, yaitu hasil akhirnya. Kita boleh menyusun rencana dan berharap sesuatu terjadi sesuai keinginan, tetapi pada akhirnya Allah yang paling mengetahui apa yang baik untuk kita.
Maka, kalau suatu hari kamu hanya bisa duduk diam setelah salat karena terlalu lelah untuk merangkai doa, jangan menjauh dari Allah. Tetaplah datang kepada-Nya. Kalau mampu berkata-kata, sampaikan apa yang kamu rasakan. Kalau hanya mampu menangis, tetaplah menghadap kepada-Nya. Perlahan, mungkin kita akan menemukan kembali kata-kata yang ingin disampaikan.
Sebab terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban yang langsung datang atau masalah yang seketika selesai. Kita hanya perlu merasa bahwa ada tempat untuk menitipkan semua yang sudah terlalu berat untuk kita bawa sendiri.
Setelah semua yang bisa kita lakukan sudah dilakukan, masih ada satu hal yang bisa kita pegang: percaya kepada Allah. Berserah bukan berarti sudah tidak punya apa-apa untuk diperjuangkan. Berserah adalah ketika kita tetap melakukan bagian kita, kemudian menyerahkan apa yang tidak mampu kita kendalikan kepada Allah.
Dan mungkin, pada akhirnya, doa kita hanya sesederhana:
“Ya Allah, aku sudah berusaha. Sekarang aku titipkan sisanya kepada-Mu.”










Leave a Reply
View Comments