Gambar Anak-anak sekolah sedang membully temannya. Ilustrasi: Gemini

Anak Belajar dari Lingkungannya: Siapa yang Mengajarkan Mereka Menyakiti?

Oleh Fitri Utami

Pernah nggak, kamu melihat anak kecil mengejek temannya, memanggil dengan sebutan yang merendahkan, atau sengaja membuat orang lain menangis? Saat ditegur, dia malah menjawab, “Kan cuma bercanda!”

Mungkin kita pernah menemukan hal seperti ini pada adik, keponakan, atau anak-anak di sekitar kita. Awalnya terlihat sepele, bahkan bisa bikin kita ikut tertawa. Namun, kalau perilaku itu terus dibiarkan, ada hal yang perlu kita pikirkan: anak-anak belajar dari mana sampai menganggap menyakiti orang lain sebagai sesuatu yang biasa?

Pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Justru, ini jadi pengingat bahwa lingkungan punya peran besar dalam membentuk cara anak berpikir, berbicara, dan memperlakukan orang lain.

Anak Meniru Lebih Banyak dari yang Kita Kira

Anak-anak nggak hanya belajar dari nasihat yang mereka dengar. Mereka juga memperhatikan apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Coba bayangkan, ketika orang dewasa terbiasa mengejek fisik seseorang, berbicara kasar saat marah, atau menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan. Anak yang melihatnya bisa saja menganggap perilaku itu wajar, lalu menirunya saat bermain bersama teman.

Hal serupa bisa terjadi dalam pergaulan. Ketika satu anak mengejek temannya lalu disambut tawa oleh yang lain, anak-anak bisa menangkap pesan bahwa mengejek adalah cara untuk menghibur atau mendapatkan perhatian.

Tentu, perilaku anak dipengaruhi banyak hal dan nggak bisa disimpulkan hanya dari lingkungannya. Namun, orang-orang di sekitarnya tetap punya kesempatan untuk memberi contoh yang lebih baik.

Jadi, saat menemukan anak, adik, atau keponakan melakukan hal yang menyakiti orang lain, jangan cuma buru-buru menegur. Kita juga bisa mengajaknya memahami kenapa perilaku itu nggak pantas dilakukan.

“Cuma Bercanda” Bukan Berarti Nggak Menyakiti

Pernah mendengar kalimat, “Ah, gitu aja baper!” saat seseorang merasa tersinggung karena candaan?

Tanpa sadar, pola pikir seperti ini bisa terbawa ke cara anak bergaul. Mereka mungkin menganggap selama dirinya tertawa, orang lain juga seharusnya merasa terhibur.

Padahal, bercanda tetap ada batasnya. Mengejek fisik, mempermalukan teman, memberi julukan yang nggak disukai, atau sengaja membuat seseorang merasa rendah bukan hal yang bisa dibenarkan hanya karena dianggap lucu.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah mengingatkan kita agar nggak saling mengolok-olok dan merendahkan satu sama lain.

Pesan ini bisa kita kenalkan kepada anak lewat contoh sederhana. Misalnya, ketika melihat adik mengejek temannya, kita bisa mengajaknya berpikir, “Kalau kamu dipanggil begitu, kamu suka nggak?”

Bukan sekadar menyuruhnya berhenti, tetapi membantu anak memahami perasaan orang lain. Dari situ, empati bisa mulai tumbuh.

Saat Menemukan Anak Menyakiti Orang Lain, Harus Bagaimana?

Menemukan anak melakukan kesalahan bukan berarti kita harus langsung melabelinya sebagai anak nakal. Namun, bukan berarti perilakunya juga boleh dibiarkan.

Kita bisa mulai dengan beberapa hal sederhana.

1. Tegur perilakunya, bukan merendahkan anaknya.

Alih-alih berkata, “Kamu memang nakal banget!”, coba jelaskan perilakunya, seperti, “Jangan mengejek teman, ya. Kata-katamu bisa bikin dia sedih.”

Dengan begitu, anak tahu apa yang salah tanpa merasa dirinya sepenuhnya buruk.

2. Ajak anak memahami dampak perbuatannya.

Tanyakan bagaimana perasaan orang yang dia sakiti. Beri kesempatan untuk mendengarkan jawaban dan memahami situasinya. Jangan hanya menuntut anak meminta maaf tanpa mengerti alasan di baliknya.

3. Berikan contoh lewat sikap kita sendiri.

Kita nggak bisa berharap anak selalu berbicara sopan kalau di sekitarnya orang dewasa terbiasa menghina atau membentak. Anak perlu melihat bagaimana cara menghargai orang lain, mengendalikan emosi, dan mengakui kesalahan.

4. Jangan menormalisasi perilaku yang menyakiti.

Kalau perilaku tersebut berulang, melibatkan kekerasan, atau membuat anak lain merasa takut, jangan menganggapnya sebagai kenakalan biasa. Libatkan orang tua atau pihak sekolah jika diperlukan agar masalahnya ditangani dengan tepat.

Anak perlu tahu bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, tetapi setiap kesalahan juga perlu dipertanggungjawabkan.

Kita Bisa Ikut Membentuk Cara Anak Memperlakukan Orang Lain

Mungkin kita bukan orang tua. Bisa jadi, saat ini kita hanya punya adik kecil, keponakan, atau sering berinteraksi dengan anak-anak di lingkungan sekitar. Namun, bukan berarti kita nggak punya peran dalam proses mereka belajar.

Cara kita bercanda, merespons konflik, dan memperlakukan orang lain bisa menjadi contoh yang mereka ingat. Bahkan, teguran sederhana yang disampaikan dengan tepat bisa membantu mereka memahami batasan dalam bergaul.

Kita memang nggak bisa mengontrol semua hal yang anak lihat dan dengar. Namun, kita bisa ikut menciptakan lingkungan yang mengajarkan bahwa menghargai orang lain adalah hal yang penting.

Sebab, anak-anak nggak lahir dengan pemahaman lengkap tentang bagaimana memperlakukan sesamanya. Mereka belajar dari pengalaman, nasihat, dan contoh yang mereka temui setiap hari.

Jadi, saat menemukan anak, adik, atau keponakan menyakiti orang lain, jangan hanya bertanya, “Kok bisa, sih, dia begitu?” Coba lanjutkan dengan pertanyaan lain: sudahkah kita membantu mereka belajar cara memperlakukan orang lain dengan baik?