Oleh Latifah binti Cahyani
Setiap hari, ada saja hal yang memenuhi pikiran kita. Pekerjaan yang belum selesai, hubungan dengan orang lain, keadaan keluarga, hingga masa depan yang belum jelas arahnya. Belum selesai memikirkan satu hal, sudah muncul hal lain yang ikut membebani kepala.
Pernah nggak sih, kamu berhenti sebentar lalu bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya, apa yang sedang aku pikirkan, dan apakah semua ini memang perlu aku pikirkan sekarang?”
Coba jeda sejenak. Dari sekian banyak hal yang memenuhi pikiran hari ini, mana yang benar-benar membutuhkan perhatian kita? Mana yang bisa dicari jalan keluarnya, dan mana yang justru membuat kita lelah karena terus dipikirkan tanpa menghasilkan apa-apa?
Memikirkan masalah itu wajar. Kita perlu berpikir agar bisa mengambil keputusan dan menentukan langkah. Namun, terkadang kita terlalu sibuk memikirkan masalah sampai lupa melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya.
Ketika melakukan kesalahan, kita terus menyalahkan diri sendiri tanpa berusaha memperbaikinya. Ketika menghadapi ketidakpastian, kita sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk, padahal belum tentu semuanya akan terjadi.
Daripada terus terjebak dalam pikiran yang sama, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”
Jika ada yang bisa diperbaiki, perbaiki. Jika ada kesalahan yang bisa dijadikan pelajaran, ambil hikmahnya. Kita tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Cukup ambil langkah yang memang bisa kita lakukan hari ini.
Lalu, bagaimana jika kita sudah berusaha, sudah mencari jalan keluar, tetapi hasilnya belum sesuai harapan?
Di sinilah kita perlu belajar bahwa berusaha bukan berarti harus mampu mengendalikan segala sesuatu. Ada hal-hal yang bisa kita upayakan, tetapi ada pula yang hasil akhirnya berada di luar kuasa kita.
Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
Ayat ini mengingatkan kita untuk membulatkan tekad, mengambil langkah, lalu bertawakal kepada Allah. Artinya, kita tetap perlu berusaha dan mengambil keputusan, tetapi tidak harus memikul beban seolah-olah semua hasil bergantung pada kemampuan kita sendiri.
Kita tidak bisa memastikan semua hal berjalan sesuai keinginan. Tidak semua pertanyaan langsung menemukan jawaban, tidak semua masalah selesai secepat yang kita harapkan, dan tidak semua keadaan bisa kita ubah.
Namun, ketidakpastian bukan alasan untuk terus menyiksa diri dengan kekhawatiran. Selama masih ada yang bisa diusahakan, lakukan semampunya. Untuk hal-hal yang berada di luar kendali, iringi dengan doa dan belajar menyerahkannya kepada Allah.
Sebab, tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berhenti memaksakan diri untuk mengendalikan sesuatu yang bukan kuasa kita.
Jadi, saat pikiran mulai terasa penuh, coba jeda sebentar. Tanyakan kembali kepada diri sendiri: apakah aku sedang mencari jalan keluar, atau hanya mengulang kekhawatiran yang sama? Apakah ada langkah yang bisa kuambil, atau aku sedang memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi?
Kita tidak harus menemukan semua jawaban hari ini. Tidak semua hal perlu diselesaikan saat ini juga, dan tidak semua kemungkinan harus dipikirkan sampai tuntas.
Berusahalah untuk hal yang bisa diupayakan, berdoalah untuk hal yang diharapkan, dan bertawakallah atas hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Jeda bentar, yuk. Beri pikiran ruang untuk beristirahat, supaya kita bisa kembali melangkah dengan lebih jernih dan hati yang lebih tenang.










Leave a Reply
View Comments