Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Gue baru aja selesai membaca tulisan berjudul Langit Tak Seharusnya Berasap. Entah kenapa, setelah membacanya, gue jadi kepikiran banyak hal. Bukan cuma soal hutan yang terbakar, udara yang tercemar, atau orang-orang yang harus bertahan hidup di tengah kepulan asap, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai manusia merespons penderitaan yang sebenarnya nggak jauh-jauh amat dari kehidupan kita. Gue jadi bertanya-tanya, sejak kapan kita mulai terbiasa melihat sesuatu yang seharusnya nggak pernah dianggap biasa? Sejak kapan kabar tentang hutan yang terbakar, lingkungan yang rusak, dan masyarakat yang menjadi korban hanya menjadi berita yang kita baca sebentar, kita komentari sedikit, lalu kita lupakan begitu aja?
Gue rasa, salah satu hal yang paling menyedihkan dari berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita bukan cuma kerusakan yang ditimbulkannya, melainkan bagaimana kita perlahan-lahan belajar untuk hidup berdampingan dengan kerusakan itu. Kita tahu ada hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, udara yang semakin buruk, dan ruang hidup yang perlahan menghilang. Kita tahu ada orang-orang yang harus menanggung akibat dari semua itu. Namun, setelah beberapa waktu, semuanya seperti kembali normal. Berita berganti, perhatian publik berpindah, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Seolah-olah selama persoalan itu nggak mengganggu kehidupan kita secara langsung, semuanya masih bisa ditoleransi.
Gue sendiri kadang merasa seperti itu. Melihat berita tentang bencana lingkungan, merasa prihatin, mungkin membagikannya ke media sosial, lalu kembali menjalani rutinitas. Bangun pagi, bekerja, menyelesaikan tugas, pulang, beristirahat, dan begitu seterusnya. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan dalam kehidupan sehari-hari sampai-sampai persoalan yang terjadi di tempat lain terasa seperti sesuatu yang jauh dari jangkauan kita. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kita semua hidup di bumi yang sama? Udara yang dihirup orang lain, air yang tercemar di tempat lain, dan hutan yang hilang hari ini bukanlah persoalan yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan kita.
Mungkin memang benar bahwa kita nggak bisa memikirkan semua persoalan yang terjadi di dunia setiap saat. Kita punya masalah sendiri, tanggung jawab sendiri, dan keterbatasan yang harus dihadapi. Gue juga nggak ingin berpura-pura menjadi orang yang selalu peduli terhadap segala hal. Ada kalanya gue terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa bahwa di luar sana ada orang-orang yang sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih berat. Tapi justru karena itulah, gue merasa perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kesibukan kita benar-benar membuat kita nggak punya waktu untuk peduli, atau jangan-jangan kita hanya semakin terbiasa mengabaikan hal-hal yang nggak bersentuhan langsung dengan kepentingan kita?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya mungkin nggak sesederhana yang kita bayangkan.
Ada satu hal lain yang juga membuat gue berpikir: dalam banyak persoalan lingkungan, orang yang paling terdampak belum tentu orang yang paling bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Masyarakat kecil bisa kehilangan tempat tinggal, petani bisa kehilangan sumber penghidupan, dan anak-anak bisa terpapar udara yang membahayakan kesehatan mereka. Sementara itu, keputusan-keputusan yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan mungkin dibuat jauh dari tempat mereka tinggal. Ada kepentingan ekonomi, kebijakan, dan kekuasaan yang saling berkaitan, tetapi akibatnya justru harus ditanggung oleh orang-orang yang mungkin nggak pernah punya kesempatan untuk menentukan arah keputusan tersebut.
Buat gue, di situlah persoalan lingkungan menjadi lebih dari sekadar persoalan alam. Ini juga tentang keadilan. Tentang siapa yang mendapatkan keuntungan dan siapa yang harus membayar harganya. Kita sering mendengar bahwa pembangunan diperlukan demi kemajuan, bahwa investasi dibutuhkan untuk membuka lapangan kerja, dan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang harus dikejar. Gue nggak menolak pentingnya pembangunan. Namun, gue selalu merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan ketika kemajuan hanya diukur dari seberapa banyak keuntungan yang berhasil diperoleh, tanpa benar-benar memperhitungkan siapa yang dirugikan dan apa yang harus dikorbankan.
Kalau sebuah pembangunan membuat sebagian orang semakin sejahtera, tetapi pada saat yang sama merampas hak orang lain untuk hidup sehat, apakah itu masih bisa disebut kemajuan? Kalau kita membanggakan pertumbuhan ekonomi, tetapi membiarkan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan rusak, sebenarnya masa depan seperti apa yang sedang kita persiapkan?
Gue nggak punya jawaban sederhana untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, gue merasa bahwa kita perlu lebih berani mempertanyakannya, terutama ketika sesuatu yang salah mulai dianggap wajar hanya karena sudah berlangsung lama.
Hal ini juga membuat gue berpikir tentang tanggung jawab kita sebagai masyarakat. Kadang-kadang, kita terlalu cepat merasa bahwa persoalan sebesar ini sepenuhnya berada di tangan pemerintah atau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Memang, negara punya tanggung jawab besar dalam melindungi lingkungan dan masyarakat. Kita nggak bisa menggantikan kewajiban negara hanya dengan tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan sendiri. Tetapi, di sisi lain, bukan berarti kita sama sekali nggak memiliki peran.
Mungkin kita bisa mulai dengan hal yang paling mendasar: berhenti bersikap masa bodoh. Belajar memahami persoalan sebelum ikut menyebarkan informasi, berani mempertanyakan kebijakan yang merugikan masyarakat, nggak menganggap kerusakan lingkungan sebagai harga yang harus selalu dibayar demi pembangunan, dan mendukung orang-orang yang berusaha menjaga ruang hidup bersama. Hal-hal itu mungkin nggak langsung mengubah keadaan dalam semalam. Namun, setidaknya kita sedang berusaha agar kepedulian nggak berhenti sebagai perasaan sesaat.
Pada akhirnya, gue merasa bahwa Langit Tak Seharusnya Berasap bukan hanya tentang langit yang tertutup asap. Buat gue, tulisan itu juga menjadi pengingat tentang betapa mudahnya manusia beradaptasi dengan keadaan yang sebenarnya nggak seharusnya diterima. Kita bisa terbiasa dengan udara yang buruk, terbiasa dengan berita tentang bencana, bahkan terbiasa melihat ketidakadilan selama kita masih bisa menjalani kehidupan seperti biasa.
Dan mungkin, justru itulah yang paling perlu kita waspadai: ketika sesuatu yang salah sudah terlalu sering terjadi sampai-sampai kita nggak lagi merasa perlu mempertanyakannya.
Gue nggak tahu apakah suatu hari nanti kita benar-benar bisa menciptakan kehidupan yang lebih adil bagi manusia dan alam. Gue juga nggak tahu seberapa besar pengaruh tindakan kecil yang kita lakukan di tengah persoalan yang begitu kompleks. Namun, gue rasa kita tetap perlu menjaga satu hal dalam diri kita: kemampuan untuk merasa terganggu ketika melihat sesuatu yang salah.
Sebab, mungkin perubahan memang nggak selalu dimulai dari orang-orang yang punya jawaban atas segala persoalan. Bisa jadi, perubahan justru dimulai dari orang-orang yang masih mau bertanya, masih mau peduli, dan belum bersedia menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang biasa.
Langit tak seharusnya berasap. Dan kita, sebagai manusia yang hidup di bawah langit yang sama, seharusnya nggak perlu menunggu sampai asap itu memenuhi rumah kita sendiri untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.










Leave a Reply
View Comments