Dongeng tentang hutan yang terbakar, penguasa yang kenyang, dan rakyat yang disuruh bersabar.
Pada suatu masa, di sebuah negeri bernama Rimba Raya, hiduplah berbagai macam hewan yang konon terkenal karena kekayaan alamnya. Tanahnya subur, sungainya mengalir jernih, pepohonannya tumbuh tinggi, dan buah-buahan tersedia hampir di setiap sudut hutan. Burung-burung bernyanyi setiap pagi, monyet-monyet bergelantungan dengan riang, sementara rusa dan kelinci hidup berdampingan di antara rerumputan. Bahkan, menurut cerita para tetua, udara di Rimba Raya begitu bersih sampai-sampai kupu-kupu bisa mencium aroma bunga dari seberang sungai.
Rimba Raya juga memiliki pemerintahan yang sangat membanggakan diri. Raja Singa duduk di singgasana kayu ulin, dibantu Menteri Beruang, Penasihat Rubah, dan sejumlah pejabat lain yang semuanya gemar memakai gelar panjang. Ada yang menjabat Kepala Urusan Kesuburan Tanah dan Kemakmuran Daun, ada pula yang menjadi Direktur Jenderal Pengembangan Potensi Buah Nasional. Gelar-gelar mereka begitu hebat sampai-sampai rakyat tidak selalu mengerti apa pekerjaan mereka. Namun, rakyat tidak terlalu mempersoalkannya. Mereka percaya bahwa semakin panjang gelar seseorang, semakin besar pula jasanya bagi hutan.
Sayangnya, ada satu hal yang tidak pernah dimasukkan dalam pidato tahunan Raja Singa: sebagian besar kekayaan Rimba Raya perlahan-lahan berpindah ke kantong segelintir hewan.
Di antara penghuni Rimba Raya, terdapat seekor Rubah bernama Tuan Licik yang sangat pandai membaca peluang. Ia tidak terlalu menyukai pekerjaan yang membuatnya berkeringat. Menanam pohon, menjaga sungai, atau merawat tanah dianggapnya sebagai kegiatan yang terlalu melelahkan untuk menghasilkan keuntungan besar.
Tuan Licik memiliki gagasan yang jauh lebih sederhana.
“Untuk apa kita menunggu pohon tumbuh selama puluhan tahun,” katanya kepada Raja Singa, “kalau kita bisa membersihkan seluruh kawasan dalam beberapa hari saja?”
Raja Singa mengangkat alisnya. “Membersihkan bagaimana?”
“Dengan cara yang efisien, Paduka. Kita bakar semak-semaknya, kita buka lahannya, lalu kita tanami pohon-pohon yang menghasilkan buah untuk pasar luar negeri. Semua akan tumbuh lebih cepat, keuntungan meningkat, dan nama Paduka akan dikenang sebagai pelopor kemajuan.”
Raja Singa mengelus surainya. Ia sangat menyukai dua hal: pujian dan angka keuntungan yang terus naik. Kebetulan, usulan Tuan Licik menawarkan keduanya sekaligus.
“Apakah cara itu aman?” tanya Raja Singa.
“Tentu saja, Paduka. Api itu hanya alat. Seperti pisau, ia berguna jika berada di tangan yang tepat.”
“Dan kalau apinya merembet?”
Tuan Licik tersenyum. “Kalau itu terjadi, kita bisa membentuk tim khusus untuk mengatasinya.”
Raja Singa terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk.
Begitulah, sebuah gagasan yang berbahaya memperoleh restu kerajaan. Tidak ada pengumuman yang menyebutkan bahwa hutan akan dikorbankan. Sebaliknya, surat resmi menggunakan kata-kata yang indah: optimalisasi lahan, percepatan investasi, peningkatan produktivitas, dan transformasi ekonomi.
Kata membakar terdengar terlalu kasar untuk dokumen pemerintahan. Maka, mereka menggantinya dengan istilah penyiapan kawasan.
Begitulah hebatnya bahasa. Ia bisa membuat sesuatu yang buruk terdengar seperti pekerjaan mulia.
Tuan Licik ternyata tidak bekerja sendirian. Ia menjalin kerja sama dengan sejumlah hewan dari negeri seberang, yang datang membawa jas mewah, dokumen tebal, dan janji tentang kemakmuran. Mereka adalah para pemilik modal yang ingin membeli hasil bumi Rimba Raya dalam jumlah besar.
“Kami hanya ingin membantu mengembangkan potensi hutan Anda,” ujar seekor Musang dari negeri jauh.
“Kami membawa teknologi, pasar, dan investasi,” tambahnya.
“Lalu, apa yang akan kami dapatkan?” tanya Kancil, yang kebetulan bekerja sebagai staf pencatat dalam pertemuan itu.
Musang tersenyum. “Kalian akan mendapatkan lapangan kerja.”
“Bagaimana dengan tanah yang terbakar?”
“Itu urusan teknis.”
“Bagaimana dengan sungai yang tercemar?”
“Bisa dibahas dalam pertemuan berikutnya.”
“Bagaimana dengan hewan-hewan yang kehilangan rumah?”
Musang merapikan dasinya. “Kita harus melihat persoalan ini secara komprehensif.”
Kancil mengangguk pelan. Ia tidak tahu arti kata komprehensif dalam bahasa Musang, tetapi ia cukup memahami bahwa setiap kali pertanyaan menjadi sulit, jawaban para pemilik modal mendadak menjadi sangat panjang dan tidak menjawab apa-apa.
Sementara itu, kesepakatan terus berjalan. Sebagian pejabat mendapat bagian, sebagian pengusaha memperoleh lahan, dan sebagian keuntungan mengalir melintasi lautan menuju rekening yang tidak pernah diketahui penghuni biasa. Rimba Raya pun perlahan-lahan berubah.
Pohon-pohon tua ditebang. Rawa dikeringkan. Tanah yang dahulu menyimpan air mulai kehilangan kelembapannya. Namun, setiap kali ada yang menyampaikan keberatan, mereka segera diingatkan bahwa pembangunan membutuhkan pengorbanan.
Tentu saja, mereka yang menyampaikan kalimat itu hampir tidak pernah menjadi pihak yang berkorban.
Pada suatu musim kemarau, api pertama kali menjalar di sisi timur hutan.
Awalnya hanya kepulan asap tipis. Burung-burung mengira ada pesta memasak di dekat perkebunan. Monyet-monyet masih sibuk mengumpulkan pisang. Sementara itu, beberapa pejabat kerajaan sedang menghadiri peresmian proyek baru di sisi barat.
Ketika api membesar, Kelinci yang tinggal di dekat rawa berlari menyelamatkan anak-anaknya. Landak kehilangan liang tempat tinggalnya. Burung-burung terbang tanpa arah karena sarang mereka hangus. Orangutan tua yang selama puluhan tahun menjaga pohon-pohon besar hanya bisa memandangi tempat tinggalnya berubah menjadi abu.
Di desa pinggir hutan, keluarga-keluarga hewan mulai batuk. Anak-anak mereka kesulitan bernapas. Sungai yang biasa digunakan untuk mencari ikan tertutup lapisan abu. Para petani gagal memanen hasil kebun karena asap menutupi matahari.
Sementara itu, Tuan Licik mengadakan konferensi pers.
“Kami sangat prihatin atas kejadian ini,” katanya dengan wajah muram yang tampak telah dilatih di depan cermin. “Keselamatan seluruh penghuni Rimba Raya merupakan prioritas utama kami.”
Seorang wartawan burung bertanya, “Apakah api berasal dari kawasan yang sedang dibuka perusahaan Anda?”
Tuan Licik tersenyum tipis. “Kami meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi.”
“Apakah perusahaan Anda bertanggung jawab?”
“Kami menghormati proses penyelidikan.”
“Apakah Anda akan membantu warga yang kehilangan rumah?”
“Kami berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.”
Wartawan itu menunggu jawaban berikutnya, tetapi rupanya sesi tanya jawab telah berakhir. Tuan Licik meninggalkan ruangan dengan kendaraan berpendingin udara, sementara warga yang rumahnya terbakar harus mencari tempat berlindung dari asap menggunakan dedaunan basah.
Di Rimba Raya, rupanya ada dua macam udara: udara sejuk untuk mereka yang berkuasa dan udara beracun untuk mereka yang diminta bersabar.
Beberapa tahun berlalu. Hutan sempat menghijau kembali di sejumlah tempat. Rumput tumbuh, burung-burung mulai berdatangan, dan masyarakat berusaha membangun kehidupan mereka dari sisa-sisa bencana.
Namun, ingatan adalah sesuatu yang aneh. Ia bisa bertahan lama di dada seekor ibu yang kehilangan anaknya, tetapi menghilang dengan cepat dari meja rapat para pejabat.
Tahun demi tahun, janji pemulihan terus disampaikan. Raja Singa berpidato tentang pentingnya menjaga lingkungan. Menteri Beruang membentuk satuan tugas. Penasihat Rubah menyusun strategi pencegahan. Bahkan, kerajaan meluncurkan slogan baru: Rimba Hijau, Masa Depan Cerah.
Slogan itu dicetak pada spanduk besar yang dipasang di dekat kawasan hutan yang baru saja ditebang.
Lalu datanglah tahun ketika api kembali menyala. Para tetua masih ingat betul bencana besar pada 2019, ketika asap menyelimuti wilayah-wilayah luas dan kehidupan penghuni hutan terganggu. Mereka ingat anak-anak yang sulit bernapas, sekolah-sekolah yang terpaksa berhenti beraktivitas, serta hewan-hewan yang kehilangan habitatnya. Mereka juga ingat janji-janji yang disampaikan sesudahnya.
Tetapi waktu terus bergerak, dan janji rupanya memiliki umur yang lebih pendek daripada pohon-pohon tua.
Ketika api kembali datang, rakyat Rimba Raya terdiam.
“Bukankah kita pernah mengalami ini?” tanya Kancil.
“Pernah,” jawab Burung Hantu.
“Bukankah dulu para pejabat berjanji akan mencegahnya?”
“Betul.”
“Bukankah mereka bilang kita akan belajar dari bencana?”
Burung Hantu membetulkan kacamatanya. “Mereka memang belajar, Kancil.”
“Belajar apa?”
“Belajar bagaimana menyampaikan permintaan maaf dengan lebih meyakinkan.”
Kancil menatap langit yang berubah kelabu. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kecerdikan bukanlah sesuatu yang selalu berguna. Sebab, bagaimana mungkin seekor kancil bisa memenangkan perlombaan ketika lawannya bukan sekadar kura-kura, melainkan seluruh sistem yang sengaja membuat garis finis berpindah-pindah?
Kebakaran kali ini jauh lebih luas daripada yang mereka harapkan. Api melahap semak-semak, menjalar ke lahan gambut yang mengering, lalu menyebarkan asap ke desa-desa. Bahkan ketika permukaan tanah tampak padam, bara masih bersembunyi di bawahnya, menunggu angin dan kekeringan untuk kembali bernapas.
Rakyat turun tangan. Gajah-gajah mengangkut air menggunakan belalai. Berang-berang membuat saluran kecil untuk mengarahkan air. Burung-burung membawa kabar dari daerah yang paling parah. Monyet-monyet mengumpulkan makanan bagi keluarga yang mengungsi.
Mereka bekerja siang dan malam, meskipun sebagian dari mereka sendiri kehilangan rumah.
Sementara itu, kerajaan mengumumkan pembentukan Panitia Nasional Penanganan Kebakaran dan Pemulihan Semangat Rakyat.
Nama panitianya sangat panjang. Anggarannya juga tidak kecil. Rapat pertamanya berlangsung selama enam jam, dengan konsumsi berupa buah-buahan segar dan air kelapa dingin.
Sayangnya, rapat itu belum sempat membahas siapa yang harus bertanggung jawab karena seluruh anggota masih memperdebatkan nama resmi bencana tersebut.
“Apakah kita menyebutnya bencana alam?” tanya Menteri Beruang.
“Boleh,” jawab Penasihat Rubah. “Cuaca memang sedang kering.”
“Tetapi ada pembukaan lahan dengan api,” kata seekor Tupai yang bertugas sebagai pencatat.
Ruangan mendadak hening.
“Jangan terlalu sederhana melihat masalah,” ujar Tuan Licik, yang hadir sebagai penasihat investasi. “Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan.”
“Termasuk keserakahan?” tanya Tupai.
Semua mata tertuju kepadanya. Tupai segera menunduk dan berpura-pura mencari pensil.
Raja Singa berdeham. “Kita tidak boleh saling menyalahkan. Yang terpenting sekarang adalah bekerja sama.”
Kalimat itu terdengar bijaksana. Namun, bagi rakyat yang telah kehilangan rumah, ada pertanyaan yang belum terjawab: mengapa kerja sama selalu menjadi kewajiban mereka yang menderita, sedangkan pertanggungjawaban selalu menjadi pilihan mereka yang diuntungkan?
Di tengah kekacauan itu, seekor Kura-Kura tua bernama Nenek Bumi mengumpulkan penghuni Rimba Raya di sebuah lapangan yang masih selamat dari api.
Ia tidak memiliki jabatan. Ia tidak punya perusahaan. Ia juga tidak mengenakan pakaian mahal. Yang ia miliki hanyalah ingatan panjang dan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak disukai para penguasa.
“Anak-anakku,” katanya, “kita harus membedakan antara api yang datang karena alam dan api yang menyala karena keputusan makhluk hidup. Musim kemarau dapat mengeringkan tanah, tetapi keserakahanlah yang membuat sebagian makhluk menganggap hutan sebagai barang yang boleh dihabiskan.”
Semua terdiam.
“Jangan pula kita mengira bahwa setiap kebakaran memiliki satu penyebab yang sama. Ada kebakaran yang dipicu kelalaian, ada yang berkaitan dengan pembukaan lahan, dan ada yang merambat karena pengelolaan kawasan yang buruk. Kita perlu menyelidiki setiap kejadian dengan jujur. Tetapi jangan gunakan kerumitan itu sebagai alasan untuk berhenti mencari siapa yang bertanggung jawab.”
Nenek Bumi memandang para pejabat yang berdiri di kejauhan.
“Jika ada perusahaan yang melanggar aturan, periksalah. Jika ada pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, usutlah. Jika ada modal dari luar negeri yang mengambil keuntungan dengan mengabaikan keselamatan penghuni hutan, tuntutlah tanggung jawabnya sesuai hukum. Jangan biarkan kekayaan seseorang menjadi alasan untuk membuat hukum mendadak kehilangan penglihatan.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan jika rakyat kecil melakukan pelanggaran, hukum tetap harus berlaku. Namun, jangan sampai kita begitu berani menghukum mereka yang paling lemah, tetapi mendadak menjadi sangat pemalu ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki pengacara, koneksi, dan meja makan di gedung pemerintahan.”
Beberapa hewan mengangguk. Yang lain mulai bertepuk tangan.
Di barisan belakang, Tuan Licik tampak tidak nyaman. Ia berbisik kepada Musang dari negeri seberang, “Kura-kura itu terlalu politis.”
Musang mengangguk. “Benar. Seharusnya dia fokus pada pemulihan lingkungan, bukan mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan.”
Keduanya sepakat bahwa percakapan itu sangat tidak produktif. Mereka lalu meninggalkan lapangan untuk menghadiri pertemuan yang lebih produktif, yaitu pertemuan tentang cara menyelamatkan proyek investasi mereka.
Setelah pidato Nenek Bumi, rakyat mulai memahami bahwa memadamkan api saja tidak cukup.
Mereka membutuhkan hutan yang tidak terus-menerus dipaksa menjadi korban. Mereka membutuhkan sungai yang tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan. Mereka membutuhkan kebijakan yang melindungi kehidupan, bukan sekadar memberikan karpet merah kepada pemilik modal.
Mereka juga menuntut keterbukaan tentang izin pengelolaan lahan, pengawasan kawasan rawan kebakaran, pemulihan gambut, serta penegakan hukum yang tidak pandang bulu. Mereka meminta agar masyarakat lokal dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sebab merekalah yang tinggal paling dekat dengan hutan dan paling cepat merasakan akibat kerusakannya.
Tuntutan itu tidak mudah. Beberapa pejabat mengatakan bahwa perubahan membutuhkan waktu. Sebagian pengusaha mengingatkan bahwa investasi harus dijaga. Ada pula yang mengatakan bahwa kritik berlebihan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Kancil mendengar semua itu dan mengangkat tangan.
“Maaf, saya ingin bertanya. Apakah pertumbuhan ekonomi berarti kita harus menerima hutan yang mati?”
“Tidak sesederhana itu,” jawab seorang pejabat.
“Kalau begitu, mengapa setiap kali hutan terbakar, kami diminta memahami persoalan yang rumit, sementara ketika kami meminta udara bersih, jawabannya selalu sederhana: bersabar?”
Tidak ada yang menjawab.
Mungkin karena pertanyaan itu terlalu tajam. Mungkin pula karena untuk pertama kalinya, rakyat tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka sedang menuntut hak.
Beberapa bulan kemudian, hujan akhirnya turun di Rimba Raya. Asap perlahan menipis. Tanah yang hangus mulai ditumbuhi tunas-tunas kecil. Sebagian hewan kembali ke rumah mereka, meskipun banyak yang tidak lagi menemukan tempat tinggal seperti dahulu.
Raja Singa kembali tampil di hadapan rakyat. Ia mengumumkan bahwa keadaan telah membaik dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras.
Di belakangnya, sebuah spanduk besar terbentang: Bersama Kita Pulihkan Rimba Raya.
Rakyat bertepuk tangan, tetapi tidak semuanya tersenyum.
Sebab, mereka tahu bahwa hujan bukanlah bukti bahwa masalah telah selesai. Hujan hanya memadamkan api untuk sementara. Ia tidak otomatis membatalkan izin yang bermasalah, mengembalikan hutan yang hilang, menyembuhkan paru-paru yang terpapar asap, atau membuat para pemilik keuntungan tiba-tiba menjadi bertanggung jawab.
Nenek Bumi pun kembali ke rumahnya di tepi sungai. Sebelum beristirahat, ia berpesan kepada Kancil, “Jangan hanya mengingat kebakaran ketika langit berubah kelabu. Ingatlah juga ketika langit kembali biru. Sebab, saat itulah orang-orang mulai merasa bahwa semuanya sudah baik-baik saja.”
Kancil menyimpan pesan itu dalam ingatannya.
Ia tahu, suatu hari nanti, ketika pepohonan kembali tinggi dan suara burung memenuhi udara, seseorang mungkin akan datang membawa proposal baru. Seseorang mungkin akan menjanjikan pekerjaan, kemakmuran, dan masa depan yang cerah. Seseorang mungkin akan mengatakan bahwa sedikit pengorbanan diperlukan demi kemajuan bersama.
Dan sekali lagi, semua akan bergantung pada apakah penghuni Rimba Raya masih ingat siapa yang selama ini membayar harga dari kemajuan itu.
Konon, sampai hari ini, Rimba Raya masih belum benar-benar sembuh. Kadang-kadang, asap kembali terlihat dari kejauhan. Kadang-kadang, pemerintah mengadakan rapat. Kadang-kadang, perusahaan mengeluarkan pernyataan. Kadang-kadang, rakyat kembali batuk.
Siklus itu begitu akrab sampai-sampai sebagian penghuni mulai menganggapnya sebagai musim biasa.
Namun, Kancil tidak lagi percaya bahwa kebakaran hanyalah urusan cuaca. Ia telah melihat bagaimana keserakahan dapat mengenakan jas, bagaimana kelalaian dapat disembunyikan di balik istilah teknis, dan bagaimana sebuah kebijakan dapat terlihat sah di atas kertas tetapi terasa kejam ketika akibatnya sampai ke rumah rakyat.
Ia juga telah belajar bahwa tidak semua yang disebut pembangunan benar-benar membangun. Ada pembangunan yang mengangkat gedung sambil merobohkan kehidupan. Ada investasi yang menambah angka kekayaan segelintir makhluk sambil mengurangi kesempatan hidup bagi banyak lainnya. Ada kemajuan yang tampak mengesankan dari kejauhan, tetapi meninggalkan abu ketika didekati.
Maka, setiap kali ada yang bertanya mengapa hutan Rimba Raya terus terbakar, Kancil tidak lagi menjawab dengan menyebut musim kemarau semata.
Ia akan menunjuk ke arah singgasana, ke arah perkebunan, ke arah kantor-kantor yang penuh dokumen, dan ke arah kapal-kapal yang membawa hasil bumi meninggalkan negeri itu.
Lalu ia berkata dengan tenang:
“Api memang bisa membakar hutan. Tetapi yang membuatnya terus berulang adalah ketika mereka yang mampu mencegahnya justru memperoleh keuntungan darinya, sementara mereka yang kehilangan segalanya hanya diberi masker, bantuan seadanya, dan pidato tentang kesabaran.”
Setelah itu, Kancil akan pulang. Ia harus membantu keluarganya mencari tempat tinggal baru, karena rumah lamanya telah menjadi abu.
Sementara di istana, Raja Singa sedang menyusun pidato untuk musim kebakaran berikutnya.
Judul pidatonya sudah disiapkan: Menuju Rimba Raya yang Lebih Hijau dan Berkelanjutan.
Sayangnya, tidak ada yang tahu apakah pada musim itu masih akan ada hutan yang tersisa untuk dihijaukan.
Dan begitulah dongeng Rimba Raya berakhir—setidaknya sampai kebakaran berikutnya.
Sebab, di negeri itu, rupanya yang paling sulit dipadamkan bukanlah api di dalam hutan, melainkan keserakahan di dalam hati mereka yang merasa berhak memiliki seluruhnya.
Tamat. Atau mungkin, hanya jeda sampai berita berikutnya.










Leave a Reply
View Comments