Generus Indonesia
Rasa Penasaran Tak Akan Dikalahkan oleh Pencitraan Cerdas. Gambar: Generus

Rasa Penasaran Tak Akan Dikalahkan oleh Pencitraan Cerdas

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Makin bertambah usia, salah satu hal paling aneh yang baru aku sadari adalah ternyata kecerdasan itu punya tren fesyen-nya sendiri. Ada musim-musim di mana mendadak semua orang membaca buku yang sama, mengulang-ulang opini yang sama, mengutip tokoh yang sama, sampai-sampai setiap obrolan rasanya kayak keluar dari satu naskah yang dipakai bersama. Dulu, aku pikir ini tanda kalau kita semua sedang belajar bareng-bareng. Tapi sekarang, aku malah mikir jangan-jangan banyak orang cuma lagi berusaha kelihatan belajar.

Aku ngomong begini bukan berarti mau menghakimi ya. Toh, aku sendiri sering ketangkap basah melakukan hal yang sama. Saat mendengar seseorang menyebut nama penulis yang belum pernah kubaca, refleks otakku langsung mencatatnya—supaya nanti di lain kesempatan, aku bisa menyelipkan nama itu secara kasual di tengah obrolan. Atau baru kelar dengar separuh episode podkas, tiba-tiba merasa sudah sangat kompeten buat bicara dengan penuh keyakinan. Belum lagi kebiasaan menyimpan tumpukan esai yang akhirnya cuma menumpuk tanpa pernah dibaca, dengan harapan tumpukan itu bisa mewakili seberapa terpelajarnya diriku. Memang ada kenyamanan aneh dari berpura-pura menjadi seseorang yang tahu banyak hal.

Tapi kalau kita bicara soal rasa ingin tahu yang murni, rasanya beda banget.

Rasa ingin tahu yang jujur itu nggak pernah peduli sama pencitraan. Dia nggak ragu mengajukan pertanyaan yang terdengar sepele atau konyol. Dia mau bertahan pada topik-topik yang orang lain anggap membosankan. Dia betah menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat mencari satu jawaban—yang bahkan tak akan pernah diunggah jadi postingan media sosial. Dia lupa waktu. Dia rela masuk ke dalam lubang kelinci (rabbit hole) informasi tanpa pernah peduli apakah di akhir perjalanan bakal ada orang yang bertepuk tangan atau tidak.

Dari dulu, aku selalu kagum pada orang-orang yang bisa tenggelam sepenuhnya ke dalam suatu hal. Orang yang dengan mata berbinar-binar menjelaskan bagaimana gurita menyelesaikan teka-teki, orang yang antusias cerita soal arsitektur stasiun kereta tua, atau orang yang bisa bicara 20 menit penuh cuma buat menjelaskan bagaimana tata warna dan lagu latar sebuah film bisa mengubah seluruh jalan ceritanya. Antusiasme mereka itu nyata. Itu bukan pertunjukan. Rasa senang itu ada begitu saja, memenuhi seluruh ruang di sekitar mereka. Obrolan dengan orang-orang seperti inilah yang selalu bikin aku merasa benar-benar hidup.

Di sisi lain, ada jenis obrolan di mana setiap kalimat terasa begitu hambar dan tertata terlalu rapi—seolah-olah dirancang khusus cuma demi terlihat cerdas. Setiap referensi dilempar dengan timing yang sempurna, dan setiap opini terdengar begitu halus bahkan sebelum diucapkan. Lama-lama, kita rasanya bukan lagi bicara dengan seorang manusia, melainkan sedang menghadiri sebuah presentasi formal. Di balik semua kata-kata bijak dan istilah keren itu, kita malah sibuk mencari sosok aslinya. Manusia yang sebenarnya mana, sih? Kadang mereka ada di sana, tapi tak jarang mereka justru lenyap di balik panggung pertunjukan yang mereka buat sendiri.

Aku sering bertanya-tanya, seberapa sering sih kita tertukar antara kekayaan kosakata dan kedalaman berpikir?

Ada perbedaan raksasa antara sekadar mengumpulkan ide dan benar-benar hidup bersama ide tersebut. Yang satu cuma memenuhi rak buku, sementara yang lain mengubah cara kita memandang dunia. Seseorang bisa saja mengutip sepuluh filsuf ternama sekaligus, tapi langsung panik saat ditanya apa yang sebenarnya menjadi keyakinan pribadinya. Sebaliknya, ada orang yang tak pernah sekalipun menyebut nama tokoh terkenal, namun bisa mengucapkan satu kalimat sederhana yang terus terngiang di kepalamu hingga berminggu-minggu.

Perbedaan itulah yang selalu membuatku terpesona.

Rasa ingin tahu yang sejati selalu merasa nyaman untuk mengakui ketidaktahuan. Dia dengan santai bisa berkata, “Aku nggak tahu,” tanpa perlu merasa malu atau minder. Sementara itu, intelektualisme yang penuh kepura-puraan punya beban kerja yang jauh lebih berat. Dia harus terus-menerus membuktikan dirinya. Setiap percakapan berubah menjadi ujian, dan setiap perbedaan pendapat dirasakan sebagai ancaman pribadi. Capek banget, kan?

Mungkin itu alasannya kenapa orang-orang yang punya rasa ingin tahu tinggi selalu kelihatan lebih santai, tenang, dan keren tanpa dibuat-buat. Mereka tidak menanggung beban untuk harus selalu kelihatan paling tahu segalanya. Mereka bisa menertawakan kesalahan sendiri, bisa mengubah pikiran tanpa merasa kalah, dan tidak pernah membangun identitas diri sebagai orang terpintar di dalam ruangan. Buat mereka, kebahagiaannya sederhana: menemukan sesuatu yang belum mereka ketahui kemarin.

Rasa ingin tahu yang tulus memang tidak selalu membuatmu kelihatan pintar. Malah, sering kali itu membuatmu kelihatan tidak tahu apa-apa. Kamu bakal mengajukan pertanyaan paling mendasar, menyela pemikiranmu sendiri, mengemukakan kebingungan, dan mengambil risiko terlihat kurang wawasan. Tapi justru di situlah letak keberaniannya. Rasa gengsi selalu menuntut jawaban yang sempurna dan dipoles rapi, sedangkan rasa ingin tahu cuma menginginkan jawaban yang jujur.

Ini makin jelas kelihatan saat aku bertemu dengan orang yang benar-benar cinta belajar. Mereka jarang terburu-buru mengambil kesimpulan. Mereka tahan berada dalam keraguan lebih lama dibanding kebanyakan orang. Ketika orang lain merasa sudah cukup paham, mereka justru mengajukan satu pertanyaan lagi. Ada kesabaran yang luar biasa dalam cara mereka berpikir. Keyakinan mereka lahir dari pemahaman bahwa setiap jawaban yang ditemukan hanyalah sebuah pintu menuju pertanyaan baru. Orang yang cuma mengejar impresi biasanya langsung berhenti di jawaban pertama yang terdengar meyakinkan. Tapi mereka yang penasaran akan terus berjalan.

Sayangnya, era media sosial bikin batasan ini makin kabur. Pengetahuan kini bergeser menjadi sekadar estetika. Buku-buku berubah fungsi jadi pajangan estetis sebelum sempat menjadi teman berpikir. Kutipan-kutipan indah menyebar jauh lebih cepat daripada proses perenungan itu sendiri. Daftar bacaan tumbuh jauh lebih pesat dibanding tingkat pemahaman. Sebenernya nggak ada yang salah dengan membagikan apa yang sedang kita pelajari—aku juga senang melihat orang antusias pada sebuah ide. Tapi keanehan mulai muncul ketika terlihat berpikir dianggap jauh lebih penting daripada benar-benar berpikir.

Pola ini sangat terasa. Ada seseorang merekomendasikan buku. Orang lain langsung membelinya saat itu juga, lalu mengunggah foto bukunya ke media sosial. Beberapa minggu berlalu, lembaran bukunya tetap bersih tak tersentuh. Foto itu sudah menjalankan tugasnya. Di saat yang sama, ada orang lain yang diam-diam meminjam buku yang sama dari perpustakaan, mencoret-coret pinggir alinea dengan catatannya, tidak setuju dengan separuh isinya, dan tak pernah menceritakan kepada siapa pun bahwa dia telah membacanya. Kira-kira, siapa di antara keduanya yang benar-benar mengalami perubahan diri?

Satu hal yang paling aku kagumi dari orang-orang yang penuh rasa penasaran adalah bagaimana mereka membiarkan diri mereka terkejut. Mereka tidak sibuk mencari informasi yang cuma memvalidasi apa yang sudah mereka percayai. Mereka justru menikmati momen saat sadar bahwa mereka salah. Ada kebebasan yang luar biasa di sana. Setiap jawaban yang tak terduga diterima sebagai undangan baru, bukan sebagai ancaman. Sebaliknya, kepura-puraan tak punya ruang untuk kejutan, karena karakternya sudah terlanjur dikunci.

Hal ini pada akhirnya juga mengubah kualitas hubungan pertemanan kita. Kamu pasti ingat betul siapa saja teman yang mengajukan pertanyaan dan benar-benar menunggu jawabanmu. Mereka mendengarkan bukan cuma untuk mencari sela agar bisa bergantian bicara, melainkan karena pengalamanmu memang tulus menarik buat mereka. Obrolan dengan orang seperti ini tak pernah terasa terburu-buru. Kamu pulang dengan perasaan dipahami, bukan dinilai.

Sebaliknya, obrolan dengan orang yang hanya cari panggung meninggalkan rasa yang beda. Kamu memang pulang dengan membawa tumpukan fakta, referensi keren, dan kalimat-kalimat yang mengagumkan, tapi anehnya, kamu tetap tidak tahu apa-apa tentang sosok di balik kata-kata itu.

Semoga aku tak pernah kehilangan sisi dalam diriku yang suka mengejar pertanyaan-pertanyaan acak tanpa alasan jelas. Sisi yang mendadak membuka lima tab baru di browser hanya karena mendengar satu kata asing. Sisi yang rela menghabiskan malam cuma buat mencari tahu cara kerja sesuatu, meskipun tahu jawaban itu tak akan pernah diceritakan ke siapa pun. Momen-momen sunyi itulah yang memberiku jauh lebih banyak arti dibandingkan saat-saat aku berusaha kelihatan pintar di depan orang lain.

Mungkin belajar yang sesungguhnya memang selalu berlangsung lebih hening dari apa yang kita bayangkan.

Bertahun-tahun dari sekarang, kurasa tak akan ada yang ingat siapa yang terdengar paling pintar di setiap percakapan. Yang diingat orang adalah rasa ingin tahu itu sendiri: teman yang matanya berbinar saat menceritakan hal yang dia cintai, orang yang tak takut bertanya lagi, dan mereka yang membuat proses belajar terasa hangat dan merangkul, bukan kompetitif.

Versi kecerdasan seperti inilah yang terasa benar-benar manusiawi.

Dan kurasa, itulah inti dari semuanya. Rasa ingin tahu yang tulus tidak pernah berusaha memenangkan ruangan. Dia cuma ingin memahami dunia dengan sedikit lebih baik hari ini dibanding kemarin. Secara ajaib, proses itulah yang perlahan membuat seseorang menjadi lebih bijaksana tanpa perlu sibuk mengejar julukan bijak. Kepura-puraan mungkin bisa memukau penonton dalam satu malam, tapi rasa ingin tahu akan terus membentuk jiwa seseorang seumur hidupnya—bahkan saat tak ada satu orang pun yang melihat.