Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Aku baru nyadar, ternyata nggak semua orang punya kesempatan buat bangun pagi dengan tenang. Ada orang-orang yang sebenarnya nggak benar-benar ‘hidup’. Mereka cuma sekadar bertahan, melewati hari-hari berat yang nggak pernah diketahui orang lain. Tapi ya siapa yang tahu, kan? Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, tetap ketawa, kelihatan ceria, bahkan kadang jadi pelipur lara buat orang-orang di sekitarnya. Tapi begitu sendirian di kamar, rasanya hampa banget. Nggak nangis, nggak menyakiti diri sendiri, nggak melakukan hal yang aneh-aneh. Cuma duduk diam, tenggelam perlahan dalam pikiran sendiri. Dan menurutku bagian paling sedih itu pas badan kita sendiri udah nggak sanggup lagi buat mengeluarkan air mata. Bukan karena nggak mau nangis, tapi emang secara fisik udah nggak bisa.
Rasanya sakit banget, tapi aku tetap jalan sambil terus bertanya-tanya “kenapa?” di dalam hati. Bukan karena aku nggak bersyukur masih hidup, tapi aku cuma capek. Pernah nggak sih kamu ngerasa cape-cape berusaha jadi orang lain cuma karena ngerasa diri sendiri itu nggak ada harganya? Aku ngerasa nggak punya apa-apa buat dipamerin ke dunia, tapi di sisi lain aku tetap berusaha buat jadi lebih baik.
Ada hal-hal yang rasanya sakit banget sampai harus aku kubur dalam-dalam sendirian. Mau bagaimanapun bentuknya, bagian cerita yang nggak pernah aku omongin ke siapa pun itu selalu jadi yang paling berat. Cara aku menghadapinya cuma dengan membiarkan rasa sakit itu ada sampai akhirnya hilang sendiri. Tapi cara itu malah bikin aku nggak benar-benar hidup, karena rasa sakitnya sebenarnya masih ada.
Sekarang, kalau ada orang yang jahat sama aku, aku udah nggak merespons pakai emosi atau marah kayak dulu lagi. Aku cuma batin, “oh, ya udah deh.” Aku paham nggak semua orang di dunia ini baik. Tipe orang itu beda-beda. Bahkan orang asing yang nggak pernah kita kenal sebelumnya, bisa tiba-tiba datang dan menghancurkan hidup kita. Dan kadang, justru orang terdekat yang malah bikin kita harus berjuang setengah mati setiap hari cuma buat bertahan hidup. Tapi di momen-momen kayak gitu, aku sering refleks mikir, “sebenarnya apa yang udah terjadi di hidup mereka sampai bisa kayak gitu, ya?”
Jujur, banyak banget orang di luar sana yang lagi melewati hari-hari berat tanpa kita tahu. Di hidup yang cuma sekali ini, hal-hal kecil itu kerasa berarti banget. Sekadar mendengarkan cerita seseorang—meskipun bukan tentang masalah berat mereka—itu bisa menyelamatkan hidup orang lain, lho. Cuma ada di samping mereka, nanyain kabarnya gimana, hal-hal sederhana kayak gitu benar-benar bermakna.
Kalau udah jam 2 pagi, suka tiba-tiba muncul perasaan kayak gini: “Aku benci banget sama diri sendiri. Harusnya orang-orang nggak usah kenal aku, soalnya aku cuma bikin masalah aja.” Haha. Tapi di saat yang sama, aku juga mikir, “wah, aku hebat juga ya udah bisa bertahan sejauh ini melewati banyak hari yang berat.” Ada rasa benci, tapi ada rasa syukur juga. Bingung gimana cara jelasinnya. Aku tahu dia udah berusaha baik-baik aja, tapi masih banyak bagian yang bikin aku mikir, “aku masih kurang dan belum maksimal.”
Tapi biarpun gitu, aku ngerasa udah jauh lebih baik dibanding dulu. Kalau ada hal buruk yang datang, aku cuma tarik napas dalam-dalam, mikir “ya sudahlah, nggak apa-apa,” terus lanjutin hari. Lagian, pada akhirnya yang dibutuhkan semua orang itu cuma ketenangan. Ada orang-orang yang udah di titik pasrah banget sampai doa mereka tuh nggak minta apa-apa lagi. Cuma bilang, “Tuhan, aku cuma mau tenang. Nggak perlu bahagia banget, yang penting beri aku ketenangan.”
Kalau ditanya apakah hidup bakal jadi lebih mudah, jawabannya nggak sama sekali. Tapi untungnya, aku jadi lebih jago buat mengendalikannya. Seberat apa pun rasanya, aku masih bisa menghadapi itu semua. Walaupun susah setengah mati, aku batin, “aku pasti masih sanggup, kan?”
Dari semua proses ini, aku jadi berterima kasih banget kalau ada orang yang tiba-tiba bilang “aku bangga sama kamu” atau “kamu udah berusaha yang terbaik.” Kata-kata itu rasanya mendarat pas di dada dan bikin adem banget, karena nggak semua orang paham sekeras apa aku menuntut diri sendiri. Jadi, terima kasih banyak ya.
Aku emang belum sepenuhnya pulih, tapi aku lagi berusaha. Aku nggak mau menghakimi siapa pun atas apa yang mereka lakukan, karena aku nggak pernah tahu pilihan apa yang mereka punya atau gimana cerita hidup mereka. Aku juga nggak mau berasumsi, karena itu bukan urusanku dan aku tahu sendiri betapa kerasnya hidup ini. Lagian, siapa aku berani-beraninya menghakimi orang lain?
Dan di akhir dari semuanya, aku cuma mau minta maaf sama diri sendiri. Minta maaf buat segala hal yang nggak berjalan sesuai keinginan, buat hal-hal yang nggak bisa diubah, dan buat semua kegagalan. Terakhir, maaf ya karena selalu memaksa kamu buat terus bertahan hidup setiap harinya.
Buat siapa pun yang lagi bertahan dalam diam, buat yang lagi berusaha sebaik mungkin, dan buat yang lagi melewati masa-masa sulit: aku berharap kamu selalu dipertemukan sama orang-orang baik dan hal-hal yang indah. Kamu berhak mendapatkan semua kebaikan dan kebahagiaan di hidup ini. Jaga diri baik-baik ya.
Aku selalu berdoa buat kita semua—buat yang masih terus berusaha, dan buat yang masih memilih untuk tetap ada di sini.










Leave a Reply
View Comments