Generus Indonesia
Sebenarnya, Ikhlas Itu Sampai Mana. Gambar: Generus

Sebenarnya, Ikhlas Itu Sampai Mana?

Oleh Fitri Utami

Gue sampai sekarang masih bingung, ikhlas itu sebenarnya sampai mana, sih?

Serius. Kadang gue pikir gue udah ikhlas. Udah bisa bilang, “Ya udah, mungkin memang bukan rezeki gue.” Tapi ternyata beberapa waktu kemudian masih kepikiran. Masih sedih. Masih berharap. Bahkan masih suka membayangkan, “Kalau waktu itu hasilnya sesuai yang gue mau, mungkin sekarang hidup gue bakal beda.”

Terus gue jadi mikir, berarti gue belum ikhlas?

Atau memang ikhlas itu nggak harus sampai tahap nggak merasa apa-apa lagi?

Karena kalau dipikir-pikir, gue juga nggak pernah benar-benar tahu kapan seseorang bisa dibilang sudah ikhlas. Apa ketika sudah nggak nangis? Ketika sudah nggak berharap? Ketika sudah bisa cerita tentangnya tanpa merasa sesak? Atau ketika kita akhirnya bisa menerima kalau memang hasilnya nggak akan pernah sesuai dengan yang kita mau?

Gue masih belum tahu. Yang gue tahu, selama ini gue sering mengira ikhlas itu berarti harus berhenti menginginkan sesuatu. Padahal mungkin nggak juga.

Kita masih boleh kok berharap. Masih boleh punya mimpi yang sama. Masih boleh berusaha supaya sesuatu itu terjadi. Yang mungkin perlu kita lepaskan adalah keyakinan bahwa sesuatu itu harus terjadi supaya kita bisa merasa hidup kita baik-baik saja.

Karena ternyata ada bedanya antara “gue pengen ini” dan “gue harus mendapatkan ini.”

Yang pertama masih menyisakan ruang. Yang kedua bikin kita seolah nggak punya pilihan kalau kenyataan berjalan sebaliknya. Dan mungkin, di situlah gue mulai sedikit mengerti soal ikhlas.

Ikhlas bukan berarti gue nggak kecewa ketika sesuatu nggak berjalan sesuai keinginan. Gue tetap bisa sedih. Tetap bisa nangis. Tetap bisa bertanya-tanya kenapa jalannya harus seperti ini.

Tapi setelah semua rasa itu lewat, gue mau belajar untuk nggak terus-terusan melawan kenyataan.

Gue masih bisa bilang, “Sebenernya gue masih pengen.”

Tapi gue juga belajar bilang, “Kalau memang bukan ini, ya semoga gue bisa menerima.”

Entah apakah itu sudah bisa disebut ikhlas atau belum. Gue juga masih belajar.

Mungkin memang ikhlas bukan sesuatu yang sekali kita ucapkan lalu selesai. Bisa jadi hari ini kita merasa sudah menerima, besok ternyata masih sedih lagi. Dan itu nggak selalu berarti kita gagal untuk ikhlas.

Mungkin kita cuma sedang belajar melepaskan sesuatu yang pernah benar-benar kita inginkan. Jadi kalau lo juga sampai sekarang masih bingung, “Gue ini udah ikhlas belum, sih?”. Mungkin nggak apa-apa kalau jawabannya belum tahu.

Yang penting, jangan berhenti berusaha. Jangan berhenti berdoa. Tapi jangan lupa menyisakan sedikit ruang di hati untuk kemungkinan bahwa jawaban yang datang nanti mungkin berbeda dari yang selama ini kita minta.

Karena mungkin, ikhlas bukan tentang berhenti bermimpi. Tapi tentang tetap berani bermimpi, sambil percaya bahwa kalau ternyata jalannya berbeda, hidup kita tetap akan punya cerita untuk dilanjutkan.