Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Ada sebuah hitung-hitungan matematika yang belakangan ini sering berseliweran di media sosial dan sukses membuat banyak anak muda tertawa getir. Skenarionya begini: jika kamu menabung Rp1 juta setiap bulan secara konsisten, maka dalam waktu 30 tahun kamu akan mengumpulkan uang sebesar Rp360 juta. Angka yang lumayan, bukan? Tapi begitu angka itu disandingkan dengan harga rumah di pinggir kota yang saat ini sudah menyentuh miliaran rupiah, tabungan 30 tahun itu mendadak terasa seperti uang receh.
Realita ekonomi yang berantakan inilah yang melahirkan pergeseran cara pandang yang masif di kalangan Gen-Z dalam memperlakukan uang mereka. Jika generasi orang tua kita dulu sangat mendewakan prinsip hemat pangkal kaya dan menimbun aset demi masa tua, generasi sekarang justru punya pendekatan yang jauh berbeda. Di satu sisi ada sekelompok anak muda yang memeluk erat paham financial nihilism, dan di sisi lain ada yang memilih jalan tengah bernama Soft Saving. Dua fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa cara kita memandang masa depan finansial sudah berubah total.
Financial Nihilism: Ketika Aturan Main Sudah Rusak
Untuk memahami financial nihilism, kita harus melihat dunia dari kacamata seorang anak muda yang baru masuk ke dunia kerja. Mereka dihadapkan pada inflasi yang melonjak tajam, biaya hidup yang meroket, upah kerja yang stagnan, serta harga properti yang sudah tidak masuk akal. Ketika impian-impian tradisional seperti membeli rumah sendiri, menikah dengan mapan, atau pensiun di usia muda terasa mustahil dicapai dengan cara-cara legal yang normal, muncul sebuah pemikiran radikal: buat apa repot-repot berhemat jika ujung-ujungnya tetap tidak mampu beli rumah?
Financial nihilism adalah titik di mana seseorang merasa pasrah secara finansial. Karena menganggap sistem ekonomi saat ini sudah rusak dan tidak berpihak pada mereka, mereka memilih untuk tidak memedulikan aturan main keuangan konvensional. Mengapa harus menahan diri tidak membeli kopi susu premium demi menghemat beberapa puluh ribu, jika uang hasil hemat itu tetap tidak akan mengubah nasib mereka di masa depan?
Dampaknya, perilaku belanja kelompok ini menjadi sangat berani, bahkan cenderung nekat. Mereka tidak ragu menghabiskan sisa gaji untuk hal-hal yang sifatnya kepuasan instan. Mulai dari membeli barang-barang bermerek yang sebenarnya di luar kemampuan, melakukan perjalanan liburan yang mahal, hingga terjun ke instrumen investasi yang sangat berisiko tinggi seperti uang kripto atau saham gorengan dengan mentalitas judi. Prinsip mereka sederhana: jika masa depan terlihat suram, setidaknya mari kita bersenang-senang di masa sekarang.
Soft Saving: Menabung Tanpa Harus Menyiksa Diri
Berbeda dengan kelompok nihilism yang memilih angkat tangan dan bersikap masa bodoh, ada kelompok lain yang mengembangkan taktik bertahan yang lebih ramah psikologis bernama soft saving. Istilah ini lahir dari konsep soft life, sebuah gerakan yang menolak budaya kerja keras yang berlebihan dan lebih mengutamakan kenyamanan serta kesehatan mental.
Soft saving bukan berarti tidak menabung sama sekali. Kelompok ini tetap menyisihkan uang mereka, tetapi porsinya dikurangi secara signifikan jika dibandingkan dengan standar perencanaan keuangan kuno yang ketat. Mereka tidak lagi terobsesi untuk mengumpulkan dana pensiun sebesar-besarnya atau menahan lapar demi investasi masa depan yang belum pasti.
Fokus utama dari soft saving adalah mengalokasikan uang untuk meningkatkan kualitas hidup saat ini. Uang yang mereka miliki digunakan untuk hal-hal yang mendukung kesehatan mental dan pengalaman hidup, seperti sesi terapi ke psikolog, membayar kelas hobi, menonton konser musik, atau sekadar nongkrong di kafe estetis bersama teman-teman. Bagi penganut soft saving, uang adalah alat untuk menikmati hidup hari ini, bukan sekadar angka di buku tabungan yang baru bisa dinikmati ketika tubuh sudah renta.
Mengapa Paradoks Ini Bisa Terjadi?
Jika kita melihat dari luar, kedua fenomena ini mungkin terlihat seperti bentuk pemborosan atau ketidakpedulian terhadap masa depan. Namun, jika dibedah lebih dalam, baik Financial Nihilism maupun Soft Saving sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri terhadap stres (coping mechanism) yang sangat logis.
Generasi terdahulu sering kali melabeli Gen-Z sebagai generasi yang manja dan konsumtif. Kritik klasik seperti “kamu tidak bisa beli rumah karena terlalu banyak beli kopi susu dan roti panggang alpukat” masih sering terdengar. Padahal faktanya, tanpa membeli kopi susu sekalipun, daya beli anak muda terhadap properti memang sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan pertumbuhan harga tanah itu sendiri.
Selain itu, paparan informasi yang tanpa henti di era digital memperparah kecemasan ini. Setiap hari anak muda disuguhi berita tentang krisis iklim, ancaman resesi global, perang, hingga pemutusan hubungan kerja massal. Ketika dunia luar terasa begitu tidak stabil dan penuh ketidakpastian, masa depan menjadi sebuah konsep yang abstrak dan menakutkan. Secara psikologis, manusia akan cenderung mencari rasa aman dan kendali, dan cara paling mudah untuk mendapatkan rasa kendali itu adalah dengan membelanjakan uang untuk sesuatu yang bisa dinikmati secara nyata saat ini juga.
Dampak Jangka Panjang yang Harus Diwaspadai
Meskipun hidup untuk hari ini terasa sangat membebaskan, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kedua tren ini menyimpan bom waktu yang cukup berbahaya jika tidak disikapi dengan bijak. Menolak memikirkan masa depan bukan berarti masa depan itu tidak akan datang.
Bagi para penganut financial nihilism yang ekstrem, bahaya nyata yang mengintai adalah lingkaran setan utang. Kemudahan akses terhadap fitur paylater dan pinjaman online sering kali menjadi bahan bakar yang mempercepat kehancuran finansial mereka. Atas nama kepuasan instan dan kepasrahan, mereka bisa terjebak dalam tumpukan utang yang justru akan membuat masa depan mereka jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.
Sementara untuk Soft Saving, tantangannya adalah bagaimana menjaga agar batas antara “merawat diri” dan “memanjakan ego secara berlebihan” tidak kabur. Kadang-kadang, alasan kesehatan mental digunakan sebagai tameng untuk membenarkan perilaku belanja impulsif yang sebenarnya tidak perlu. Tanpa adanya dana darurat yang memadai, satu kali saja terjadi krisis kesehatan atau kehilangan pekerjaan, pondasi hidup mereka bisa langsung goyah.
Mencari Keseimbangan di Tengah Ketidakpastian
Pada akhirnya, financial nihilism dan soft saving adalah sinyal kuat bahwa teori-teori keuangan lama perlu ditulis ulang agar tetap relevan dengan zaman sekarang. Kita tidak bisa lagi memakai standar sukses generasi masa lalu untuk mengukur kebahagiaan generasi hari ini.
Jalan tengah yang paling realistis adalah mulai mendefinisikan ulang apa arti keamanan finansial bagi diri kita sendiri. Menabung tidak harus berarti menyiksa diri dan melewatkan masa muda tanpa kenangan indah. Di sisi lain, menikmati hidup juga tidak harus dilakukan dengan cara menghabiskan seluruh isi dompet tanpa sisa.
Masa depan mungkin terasa abu-abu dan penuh ketidakpastian, tetapi memiliki persiapan finansial yang secukupnya setidaknya akan memberikan kita ruang bernapas yang lebih lega saat badai itu benar-benar datang. Menikmati secangkir kopi mahal hari ini sambil tetap menyisihkan beberapa persen uang untuk dana darurat adalah bentuk kompromi terbaik yang bisa kita lakukan. Hidup ini memang sebuah perjalanan yang panjang, dan tidak ada salahnya berjalan dengan santai tanpa harus kehilangan arah pulang.










Leave a Reply
View Comments