Oleh Fitri Utami
Kalau lo tanya sebagian besar Gen Z soal kurban, jawabannya hampir selalu sama: “Nanti deh, kalau udah settle.” Kalau udah punya gaji tetap. Kalau udah nggak ngekost. Kalau udah nggak ada cicilan. Masalahnya, “nanti” itu nggak pernah datang sendiri. Bukan karena lo nggak mampu, tapi karena lo nggak pernah mulai merencanakannya. Dan dua hal itu beda banget.
Kurban Bukan Soal Berapa yang Lo Punya. Tapi Berapa yang Lo Sisihkan. Ada orang yang gajinya tiga kali UMR tapi nggak pernah kurban. Ada yang masih mahasiswa sambil kerja paruh waktu, tapi tiap tahun konsisten berkurban. Bedanya bukan di rekening, tapi di prioritas. Kurban itu ibadah yang butuh perencanaan, bukan keberuntungan finansial. Dan Gen Z, yang hidupnya penuh tools digital dan konten finansial, sebenernya punya modal yang lebih dari cukup buat mulai.
Mulainya Gimana?
- Tentukan target dulu, baru hitung mundur Jangan mulai dari “kayaknya nabung Rp 100 ribu deh.” Mulai dari angka konkret. Cari tahu harga kambing atau biaya patungan sapi di kota lo tahun ini, lalu bagi dengan jumlah bulan yang tersisa sebelum Iduladha. Misalnya harga kambing Rp 3 juta, dan Iduladha masih 10 bulan lagi. Artinya lo cukup nabung Rp 300 ribu per bulan, atau sekitar Rp 10 ribu per hari. Segitu harga satu gorengan dan es teh, kalau lo mau jujur sama diri sendiri.
- Pisahkan rekening, jangan campur aduk Ini bukan saran baru, tapi tetap paling sering diabaikan. Uang yang dicampur dengan pengeluaran harian punya satu nasib: habis duluan. Buka rekening atau dompet digital khusus “Dana Kurban” dan perlakukan saldo di sana sebagai uang yang udah nggak ada. Banyak bank digital sekarang punya fitur “kantong” atau “tabungan tujuan” yang bisa lo kasih nama dan target nominal. Manfaatin itu. Visualisasi tujuan ternyata terbukti bikin orang lebih konsisten, bahkan dalam hal ibadah.
- Auto-debit Gen Z nggak suka repot, dan itu bukan kelemahan, itu bisa jadi kekuatan. Set auto-transfer ke rekening kurban lo setiap tanggal gajian atau awal bulan. Sebelum uangnya “berasa ada”, langsung dipindah. Kalau nunggu sisa di akhir bulan buat ditabung, spoiler: nggak akan pernah ada sisa.
- Audit pengeluaran yang nggak lo sadari Bukan soal larang diri sendiri senang-senang. Tapi soal sadar ke mana uang lo pergi. Coba cek mutasi rekening bulan lalu, berapa yang keluar buat hal yang bahkan udah lo lupain? Langganan aplikasi yang nggak kepake. Kopi yang beli karena bosen, bukan karena pengen. Flash sale yang lo beli karena “sayang discountnya”, padahal barangnya nggak butuh-butuh amat. Selisih dari sana, dialihkan ke tabungan kurban. Lo nggak akan ngerasa kehilangan apa-apa, karena emang nggak kehilangan apa-apa yang penting.
- Niatkan dari sekarang, meski uangnya belum terkumpul Ini yang sering kelewat dari pembahasan tips finansial biasa. Dalam Islam, niat itu punya bobot sendiri. Orang yang berniat kuat untuk berkurban tapi belum mampu, Allah catat niatnya. Dan niat yang kuat itu yang akan ngejaga lo konsisten di bulan-bulan berikutnya ketika godaan datang. Ucapkan niatnya. Tulis kalau perlu. Bilang ke orang terdekat biar ada yang mengingatkan.
Tahun ini, coba jadiin kurban sebagai satu hal yang nggak lo tunda lagi. Bukan karena lo harus sempurna dulu secara finansial, tapi karena ibadah terbaik adalah yang dimulai, bukan yang direncanakan terus-terusan. Setiap orang yang hari ini memutuskan untuk mulai nabung, sebenernya udah selangkah lebih dekat ke versi dirinya yang lebih baik. Dan langkah itu dimulai bukan besok, bukan bulan depan, tapi sekarang, dari nominal sekecil apapun yang lo mampu.










Leave a Reply
View Comments