Generus Indonesia
Sewa iPhone dan Wajah Baru Kapitalisme Digital. Gambar: Generus

Sewa iPhone dan Wajah Baru Kapitalisme Digital

Oleh Fitri Utami

Kalau mendengar ada iPhone yang bisa dipakai hanya dengan membayar sekitar Rp325 ribu per bulan, mungkin respons pertama banyak orang adalah, “Wah, murah juga ya.”

Itulah yang baru diluncurkan Apple di Amerika Serikat melalui program Apple Upgrade. Lewat program ini, pelanggan bisa menyewa iPhone mulai US$17,99 atau sekitar Rp325 ribu per bulan. Apple bekerja sama dengan Klarna untuk menyediakan skema sewa selama satu hingga dua tahun. Bukan hanya iPhone, Apple Watch juga bisa disewa, sementara Mac dan iPad bahkan tersedia hingga masa sewa tiga tahun.

Kalau dipikir-pikir, konsep ini memang masuk akal. Harga iPhone yang belasan hingga puluhan juta rupiah terasa jauh lebih ringan ketika dibagi menjadi pembayaran bulanan. Orang tidak perlu lagi menunggu tabungannya cukup untuk mencoba teknologi terbaru. Semuanya jadi terasa lebih mudah diakses.

Tapi, semakin lama memikirkan berita ini, muncul satu pertanyaan yang cukup menarik. Sebenarnya, yang berubah itu cara kita membeli iPhone, atau cara kita memandang kepemilikan?

Saat kita membeli sebuah barang, nilainya memang akan terus turun seiring waktu. Namun, barang itu tetap menjadi milik kita. Kalau suatu hari membutuhkan uang, iPhone tersebut masih bisa dijual kembali atau ditukar tambah. Dengan kata lain, masih ada aset yang memiliki nilai ekonomi.

Berbeda dengan sistem sewa. Selama masa kontrak kita memang bisa menggunakan perangkat tersebut, tetapi setelah masa sewanya berakhir, perangkat dikembalikan kepada pemiliknya. Uang yang sudah kita keluarkan setiap bulan tidak berubah menjadi kepemilikan. Kita membayar untuk menggunakan, bukan untuk memiliki.

Coba lihat kehidupan kita hari ini. Sudah berapa banyak hal yang kita nikmati tanpa benar-benar kita miliki? Musik didengarkan lewat Spotify. Film ditonton di Netflix atau platform streaming lainnya. Aplikasi edit foto, penyimpanan cloud, sampai AI pun sebagian besar menggunakan sistem langganan. Sekarang, smartphone pun mulai masuk ke pola yang sama. Kita tidak lagi harus memiliki barangnya, yang penting bisa menggunakannya.

Dari sudut pandang bisnis, tentu ini langkah yang cerdas. Perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Selama kita terus membayar, kita tetap bisa menikmati layanan mereka. Semua pihak mungkin sama-sama diuntungkan.

Namun, di sisi lain, ada hal yang layak kita renungkan. Jangan-jangan, tanpa sadar kita mulai terbiasa hidup dengan konsep “akses lebih penting daripada kepemilikan.”

Beberapa tahun lalu, dunia sempat ramai membahas kalimat, “You will own nothing and be happy.” Kalimat ini memang sering diperdebatkan dan tidak sedikit yang menafsirkannya secara berbeda-beda. Tetapi, kalau melihat tren yang terjadi sekarang, rasanya menarik untuk bertanya: apakah kita memang sedang bergerak ke arah sana?

Bayangkan kalau suatu saat hampir semua kebutuhan hidup menggunakan sistem langganan. Rumah disewa, kendaraan berlangganan, gadget disewa, software berlangganan, hiburan berlangganan, bahkan berbagai layanan sehari-hari juga dibayar bulanan. Kita memang tetap bisa menikmati semuanya, tetapi semakin sedikit yang benar-benar kita miliki.

Tentu bukan berarti sistem seperti ini salah. Dalam banyak kondisi, justru sangat membantu. Tidak semua orang mampu membeli sesuatu secara tunai, sehingga skema seperti ini membuka akses yang lebih luas. Masalahnya bukan pada sistem sewanya, melainkan pada pola pikir kita. Apakah kita masih punya keinginan untuk membangun kepemilikan dan kemandirian, atau justru mulai merasa cukup selama masih bisa membayar biaya bulanan?

Sebagai generasi muda, kita hidup di era yang menawarkan kemudahan hampir di segala bidang. Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan teknologi atau layanan baru. Namun, jangan sampai kemudahan membuat kita berhenti berpikir kritis. Setiap inovasi selalu membawa manfaat, tetapi juga mengubah kebiasaan, bahkan cara kita memandang hidup.

Mungkin, berita tentang iPhone seharga Rp325 ribu per bulan ini sebenarnya bukan sekadar berita tentang gadget. Bisa jadi, ini adalah potret bagaimana dunia sedang berubah. Pertanyaannya tinggal satu: di tengah semua kemudahan itu, apakah kita sedang membangun kemandirian, atau justru semakin nyaman hidup dalam ketergantungan pada sistem yang dimiliki orang lain?