Generus Indonesia
Hari Bumi 2026. Gambar: Generus

Bumi Makin Hari Makin Rusak, Kita Mau Sampai Kapan Diam?

Oleh Fitri Utami

Guys, ngerasa nggak sih kalau makin hari kita hidup di bumi yang udah nggak bisa diprediksi? Cuaca makin nggak nentu, banjir makin sering terjadi, polusi di mana-mana, dan kerusakan lingkungan juga makin kelihatan dampaknya di kehidupan sehari-hari.

Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati setiap 22 April jadi momen buat kita berhenti sebentar dan mikir ulang: sebenarnya apa yang sedang terjadi sama bumi kita, dan apa peran kita di dalamnya. Karena sekarang, isu lingkungan bukan lagi hal yang jauh, tapi sudah jadi bagian dari realita yang kita rasakan langsung.

Pegiat lingkungan hidup, Siham Affata, menilai kondisi ini sudah jadi alarm serius yang nggak bisa diabaikan lagi. Menurutnya, meningkatnya bencana di Indonesia nunjukin kalau krisis lingkungan itu sudah nyata dan sedang berlangsung sekarang.

“Bercermin ke tahun 2025, BNPB mencatat ada lebih dari 3.100 bencana. Penyebabnya antara lain hutan yang menyusut, daya serap air berkurang, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, ditambah perubahan iklim global,” ujarnya.

Menurut Siham, apa yang kita lihat hari ini bukan sekadar perubahan alam biasa. Ini udah jadi tanda bahwa cara manusia memperlakukan bumi perlu dievaluasi lagi. Karena itu, menjaga lingkungan bukan cuma soal aksi besar atau gerakan formal, tapi dimulai dari kesadaran kecil dalam kehidupan sehari-hari.

“Sejauh kita sadar dan berusaha menjaga lingkungan, itu juga bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan alam,” jelasnya.

Artinya, hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele kayak sampah, konsumsi berlebihan, atau kebiasaan sehari-hari ternyata punya dampak yang jauh lebih besar dari yang kita pikirkan.

Siham juga menyoroti kondisi global yang sekarang makin kompleks karena triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

“Tiga krisis ini terjadi barengan dan dampaknya makin kerasa. Pertanyaannya sekarang: kita mau terus jalan seperti ini, atau mulai berubah?” katanya.

Ia juga ngajak kita, terutama anak muda, untuk nggak cuma jadi penonton, tapi ikut refleksi dan sadar posisi kita di tengah kondisi ini, “Coba tanya ke diri sendiri, apa yang kita lakuin sekarang bikin bumi lebih baik, atau justru sebaliknya?” tambahnya.

Kalau ditarik lebih dalam, menurut Siham, krisis lingkungan sebenarnya juga cerminan dari cara manusia hidup: cara kita mikir, ambil keputusan, dan menentukan prioritas. Kalau kesadaran lingkungan nggak jadi bagian dari kebiasaan hidup, maka yang terbentuk adalah pola hidup jangka pendek, yang cuma mikirin sekarang tanpa mikirin dampaknya ke depan.

Di tengah semua ini, Siham percaya kalau generasi muda punya peran besar. Bukan cuma sebagai “harapan masa depan”, tapi sebagai orang yang bisa mulai bergerak dari sekarang.

Menurutnya, perubahan nggak bisa cuma datang dari kampanye, tapi harus tumbuh dari komunitas, kolaborasi, dan aksi nyata, “Gerakan lingkungan ke depan harus diperkuat dari orangnya, motivasinya, kemampuan, dan konteksnya. Dan ini harus tumbuh lewat jejaring serta kolaborasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya anak muda yang bisa jadi champion yang bukan cuma peduli sendiri, tapi juga bisa ngajak orang lain ikut peduli.

Hari Bumi 2026 jadi pengingat bahwa krisis lingkungan bukan cuma soal alam, tapi juga soal cara kita hidup dan cara kita berpikir. Dan mungkin, pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi soal “apa yang sudah kita lakukan untuk bumi”, tapi:

“Kita mau terus jadi bagian dari masalah, atau mulai jadi bagian dari perubahan?”.