Oleh Fitri Utami
Jujur, sebagai budak corporate tuh kadang bikin hidup berasa autopilot. Bangun tidur, siap-siap kerja, buka laptop, meeting, ngejar deadline, revisi, pulang, ngaji, terus tidur. Besoknya diulang lagi. Belum lagi kalau kerjaan lagi numpuk, otak rasanya masih lembur meskipun badan udah rebahan.
Di tengah rutinitas yang hectic kayak gitu, pernah nggak kita merasa ibadah juga ikut jadi autopilot? Salat tetap lima waktu, tetapi pikiran ke mana-mana. Badan menghadap Allah, tetapi kepala masih mikirin kerjaan. Bahkan, kadang baru salam, tangan udah refleks meraih HP buat cek notifikasi.
Kalau udah begini, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan merenung. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk menjalani hari sampai lupa menghadirkan hati ketika beribadah.
Padahal, kalau dipikir-pikir, pemilihan lima waktu salat itu tepat banget, ya. Apalagi kalau kita melihatnya dari ritme keseharian yang kita jalani.
Lima Waktu Salat di Tengah Hectic-nya Hidup
Subuh: Sebelum Dunia Mulai Merebut Perhatian Kita
Subuh itu datang saat hari baru dimulai. Badan baru bangun, pikiran belum terlalu penuh, dan suasana biasanya masih relatif tenang. Sebelum kita sibuk memikirkan target kerja, membalas chat, atau mengecek email yang masuk sejak malam, ada kesempatan buat mengawali hari dengan mengingat Allah terlebih dahulu.
Sayangnya, kadang bangun Subuh aja masih terasa berat. Alarm berbunyi berkali-kali, tangan sibuk mencari tombol snooze, lalu muncul pikiran, “Lima menit lagi, deh.”
Padahal, sebelum menghadapi dunia dengan segala urusannya, kita punya kesempatan untuk lebih dulu memenuhi kewajiban kepada Allah. Bukankah sayang kalau waktu yang begitu berharga justru sering kita lewatkan karena terlalu nyaman menarik selimut?
Zuhur: Saat Kerjaan Lagi Ramai-Ramainya
Masuk jam kerja, notifikasi mulai berdatangan. Meeting beruntun, revisi belum selesai, bos minta update, belum lagi to-do list yang kayaknya nggak ada habisnya. Di tengah situasi seperti ini, salat Zuhur hadir sebagai pengingat bahwa hidup kita bukan cuma tentang pekerjaan yang harus diselesaikan.
Kadang, kita bisa begitu takut telat meeting atau melewatkan pesan penting dari atasan. Namun, ketika azan berkumandang, kita justru masih sibuk mencari alasan untuk menunda salat.
Bukan berarti pekerjaan nggak penting. Tanggung jawab tetap harus ditunaikan dengan baik. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar urusan dunia membuat kita lupa dengan kewajiban kepada Allah.
Asar: Ketika Energi Mulai Habis, tetapi Kerjaan Belum Kelar
Buat yang kerja kantoran, jam-jam menjelang sore kadang jadi waktu paling rawan. Mata mulai lelah, konsentrasi menurun, badan pengin rebahan, tetapi pekerjaan masih menumpuk.
Rasanya pengen cepat-cepat menyelesaikan semuanya supaya bisa pulang dengan tenang. Di tengah kondisi seperti itu, salat Asar bisa menjadi momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan.
Kita mungkin nggak langsung merasa segar atau semua masalah mendadak selesai setelah salat. Namun, setidaknya ada kesempatan untuk mengalihkan perhatian sejenak dari pekerjaan dan kembali mengingat Allah.
Magrib: Saat Hari Berganti dan Kita Mulai Kembali
Setelah seharian beraktivitas, sore berganti malam. Ada yang masih terjebak macet di jalan, ada yang baru sampai rumah, ada juga yang masih berkutat dengan pekerjaan.
Di tengah pergantian waktu ini, salat Magrib mengingatkan kita untuk kembali menghadap Allah.
Coba pikirkan, seharian tadi kita sudah berusaha melakukan banyak hal. Mengejar target, mencari penghasilan, membantu orang lain, atau menyelesaikan tanggung jawab. Namun, sudahkah kita menyempatkan diri untuk bersyukur atas kesempatan menjalani hari itu?
Mungkin hari ini berjalan sesuai rencana. Mungkin juga ada hal yang bikin kecewa, pekerjaan yang gagal diselesaikan, atau masalah yang belum menemukan jalan keluar. Apa pun yang terjadi, kita tetap punya kesempatan untuk kembali mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya.
Isya: Menutup Hari Sebelum Memulai Semuanya Lagi
Malam tiba. Badan mulai capek, energi tinggal sedikit, dan yang ada di pikiran mungkin cuma kasur serta tidur nyenyak.
Namun, sebelum benar-benar menutup hari, ada kewajiban salat Isya yang perlu ditunaikan.
Momen ini juga bisa kita jadikan waktu untuk bermuhasabah. Bukan untuk menghakimi diri sendiri atas semua kekurangan, tetapi untuk melihat kembali bagaimana kita menjalani hari.
Apakah tadi kita sudah menjaga ucapan? Bagaimana sikap kita kepada rekan kerja? Apakah ada kewajiban yang sengaja kita tunda? Apa yang masih bisa diperbaiki besok?
Kalau diperhatikan, lima waktu salat hadir di sepanjang perjalanan hari kita. Dari saat baru bangun, ketika aktivitas sedang padat, saat energi mulai menurun, hingga ketika hari akan berakhir.
Buat gue, ini jadi pengingat bahwa salat bukan sekadar aktivitas yang harus diselipkan di antara kesibukan. Justru, di tengah kehidupan yang terus bergerak, salat mengajak kita berhenti sejenak dan mengingat kembali hubungan kita dengan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Taha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”
(QS. Taha: 14)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan lima kali sehari, tetapi juga cara kita mengingat Allah di tengah kesibukan.
Gue jadi mikir, kita sering banget berusaha fokus buat banyak hal. Saat meeting, kita dituntut konsentrasi. Saat deadline mendekat, kita rela begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Tapi, saat salat, kenapa justru pikiran kita gampang banget ke mana-mana?
Memang, menjaga kekhusyukan bukan perkara mudah. Meski begitu, bukan berarti kita berhenti berusaha memperbaikinya. Kita bisa mulai dengan lebih memahami bacaan salat dan belajar mengembalikan fokus setiap kali pikiran mulai ke mana-mana.
Karena pekerjaan dan tanggung jawab akan selalu ada. Deadline akan berganti dengan deadline berikutnya, target yang tercapai akan disusul target baru. Kalau menunggu hidup benar-benar santai untuk memperbaiki ibadah, mungkin kita nggak akan pernah merasa punya waktu.
Jadi, di tengah kesibukan mengejar karier dan membangun masa depan, jangan lupa menyisihkan waktu untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Jangan sampai kita begitu disiplin memenuhi tuntutan pekerjaan, tetapi justru sering menunda kewajiban kepada-Nya.










Leave a Reply
View Comments