Oleh Latifah Binti Cahyani
Pernahkah kita melakukan sesuatu karena benar-benar ingin melakukannya, bukan karena ingin mendapat pengakuan dari orang lain?
Banyak di antara kita yang memposting kegiatannya untuk dilihat oleh orang lain. Posting video terbaik, lalu cek siapa yang sudah melihat, siapa yang sudah like. Membuat story beli iphone terbaru, agar dinilai sebagai “orang have”. Upload foto sholat malam supaya orang tahu kita rajin ibadah.
Tanpa sadar, kita mulai terbiasa mencari pengakuan. Ingin dianggap menarik, produktif, sukses, dan tidak ketinggalan dari orang lain.
Padahal, mencari pengakuan bisa menjadi hal yang melelahkan. Ketika unggahan mendapat banyak likes, kita merasa senang. Namun, saat jumlahnya berkurang, kita mulai bertanya-tanya, merasa kurang percaya diri, bahkan membandingkan diri dengan orang lain.
Lama-kelamaan, kita terbiasa mengukur diri melalui angka. Berapa banyak views, likes, followers, atau komentar yang didapat. Seolah-olah, semakin banyak orang yang memberikan perhatian, semakin berharga pula diri kita.
Padahal, angka-angka di layar tidak pernah benar-benar bisa mengukur nilai diri seseorang. Jumlahnya bisa berubah kapan saja, begitu pula perhatian orang lain. Jika kebahagiaan kita bergantung pada semua itu, bukankah kita sedang menyerahkan kendali atas perasaan kita kepada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan?
Nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melihat, melainkan oleh bagaimana kita menjalani hidup di hadapan Allah.
Bayangkan jika ada jutaan orang yang menganggap kita sukses, baik hati, dan dermawan. Namun, jika semua itu dilakukan semata-mata demi mendapatkan pujian, kita perlu kembali memeriksa niat di dalam hati. Sebab, penilaian manusia tidak selalu sejalan dengan apa yang bernilai di hadapan Allah.
Kita bisa saja sibuk memastikan orang lain melihat kebaikan kita, sampai lupa bahwa ada Allah yang mengetahui setiap perbuatan, bahkan yang tidak diketahui oleh seorang pun.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
“Wahai anakku! Sungguh, jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”
(QS. Luqman: 16)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah. Kebaikan sekecil apa pun tetap diketahui-Nya, sekalipun tidak mendapat perhatian atau pujian dari manusia.
Lantas, mengapa kita begitu sibuk mengejar pengakuan manusia, sementara penilaian Allah jauh lebih penting untuk kita perhatikan?
Bukan berarti kita tidak boleh membagikan pencapaian, mengunggah kegiatan sehari-hari, atau menceritakan kebaikan yang dilakukan. Semua itu kembali pada niat dan tujuannya. Ada kalanya berbagi justru bisa menginspirasi atau mengajak orang lain melakukan kebaikan. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan pujian sebagai alasan utama untuk berbuat baik.
Sesekali, cobalah melakukan sesuatu tanpa perlu menceritakannya kepada siapa pun. Bersedekah tanpa mengharapkan pujian. Menjalankan ibadah sunah tanpa merasa harus mengunggahnya. Membantu orang lain tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Bukan karena semua kebaikan harus dirahasiakan, melainkan agar kita belajar bahwa berbuat baik tetap berarti, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Sebab, kita tidak harus selalu membuktikan kepada dunia bahwa kita berharga. Kita juga tidak perlu memastikan semua orang tahu bahwa kita baik.
Cukup jadikan rida Allah sebagai tujuan, bukan pujian manusia.
Ketika Allah menjadi tujuan, kita bisa belajar untuk tidak mudah goyah oleh banyak atau sedikitnya pengakuan. Kita tetap berusaha, tetap berbuat baik, dan terus memperbaiki diri, meski tidak selalu mendapat apresiasi.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa banyak orang mengenal kebaikan kita, melainkan bagaimana kita menjaga niat dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah.










Leave a Reply
View Comments