Generus Indonesia
iPhone Seri Baru Keluar. Gambar: Generus

Setiap iPhone Seri Baru Keluar, Kenapa Kita Jadi Merasa Kurang?

Udah lihat iPhone 18 yang baru keluar belum? Kamera makin canggih, performanya makin kencang, fitur AI-nya makin pintar. Belum lagi iPhone Duo dengan desain lipat yang bikin smartphone terasa makin futuristik. Apple memang baru saja merilis lini iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, dan beberapa hari terakhir pembahasannya ramai di mana-mana.

Tapi coba perhatikan satu hal. Sebelum melihat semua kecanggihan itu, mungkin HP yang sekarang kita pakai sebenarnya masih baik-baik saja. Masih lancar buat chat, kerja, scroll media sosial, foto-foto, bahkan bikin konten. Tapi setelah lihat iPhone 18, kok tiba-tiba HP sendiri jadi kelihatan… kentang, ya?

Padahal HP-nya nggak berubah. Berapa menit sebelumnya kita masih baik-baik saja dengan barang yang kita punya.

Ini mungkin bagian yang menarik. Kadang yang berubah bukan barang kita, tetapi cara kita melihatnya. HP yang kemarin terasa cukup, hari ini mendadak terasa biasa saja setelah melihat sesuatu yang lebih baru. Bukan karena HP kita tiba-tiba menjadi lebih buruk, tetapi karena standar di kepala kita ikut berubah.

Dan hal seperti ini sebenarnya tidak berhenti di soal HP.

Kita bisa merasa kurang ketika melihat teman sudah punya pekerjaan yang lebih bagus. Merasa tertinggal ketika melihat orang lain menikah lebih dulu. Merasa hidup kita berjalan terlalu lambat ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial. Padahal, sebelum melihat semua itu, mungkin kita sedang baik-baik saja dengan perjalanan hidup kita sendiri.

Barangkali memang begitulah cara perbandingan bekerja. Kita melihat sesuatu yang dimiliki orang lain, lalu tanpa sadar menjadikannya ukuran untuk menilai apa yang kita punya. Lama-lama, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Baru saja mendapatkan sesuatu, sudah ada versi berikutnya yang ingin dikejar.

Islam tidak melarang kita menikmati hal-hal baik. Membeli HP baru karena memang membutuhkan, menyukai teknologi, atau menginginkan sesuatu yang lebih bagus bukanlah masalah dengan sendirinya. Yang perlu direnungkan adalah ketika barang mulai menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri.

Karena kalau rasa cukup kita bergantung pada apa yang sedang kita punya, kita akan selalu punya alasan untuk merasa kurang.

Allah berfirman dalam QS. At-Takatsur ayat 1:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”

Ayat ini terasa relevan ketika sesuatu yang seharusnya hanya menjadi bagian kecil dari hidup perlahan mengambil terlalu banyak ruang di kepala. Bukan soal iPhone-nya. Bukan juga soal siapa yang punya barang lebih mahal. Tetapi tentang ketika keinginan untuk memiliki lebih banyak membuat kita lupa bertanya, “Sebenarnya, kapan gue merasa cukup?”

Mungkin iPhone 18 memang lebih canggih. Mungkin suatu hari kita juga akan membelinya. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi semoga keinginan untuk memiliki sesuatu yang baru tidak berubah menjadi kebutuhan untuk membuktikan bahwa hidup kita juga tidak kalah dari orang lain.

Karena pada akhirnya, akan selalu ada sesuatu yang lebih baru. Setelah iPhone 18, akan ada iPhone berikutnya. Setelah satu pencapaian, akan ada pencapaian orang lain yang terlihat lebih tinggi. Kalau ukuran “cukup” selalu kita letakkan satu langkah di depan, kita akan terus berlari tanpa benar-benar merasa sampai.

Mungkin yang perlu di-upgrade sesekali bukan barang kita, tetapi cara kita memandang apa yang sudah kita punya.

Sebab jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang terlihat lebih baik di tangan orang lain, sampai lupa bahwa hidup yang sedang kita jalani pun sebenarnya sudah penuh dengan hal-hal yang dulu pernah kita doakan.