Oleh Fitri Utami
“Aku sih udah maafin… tapi nggak bisa lupa.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah kita ucapkan atau setidaknya kita dengar dari orang lain. Memang, memaafkan bukan perkara mudah. Ketika disakiti, dikhianati, difitnah, atau diperlakukan tidak adil, reaksi yang paling alami adalah marah. Rasanya ingin membalas, atau paling tidak berharap orang yang menyakiti kita merasakan sakit yang sama.
Di zaman media sosial, godaan itu bahkan semakin besar. Sekali emosi, kita bisa menulis status sindiran, membalas komentar dengan kata-kata yang menyakitkan, atau ikut menyebarkan keburukan seseorang. Semua terasa begitu mudah dilakukan. Yang sulit justru menahan diri.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan salah satu bentuk kekuatan hati.
Allah Swt. berfirman,
“…hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nur: 22)
Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan bukan hanya tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan kita dengan Allah. Bukankah setiap hari kita berharap Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita? Jika kita berharap ampunan-Nya, mengapa kita begitu sulit memberikan maaf kepada orang lain?
Ada sebuah kisah yang menarik dari seorang sahabat yang dikenal dengan nama Abu Dhamdham.
Suatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat,
“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu seperti Abu Dhamdham?”
Para sahabat pun penasaran. Mereka bertanya, “Siapakah Abu Dhamdham itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
“Ia adalah seorang laki-laki yang apabila memasuki waktu pagi berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyedekahkan kehormatanku kepada manusia. Maka siapa saja yang menzalimiku, mencelaku, atau menyakitiku, aku telah memaafkannya.'”
(HR. Abu Dawud)
Kalimat “menyedekahkan kehormatanku” mungkin terdengar asing bagi kita. Maksudnya bukan menyerahkan harga dirinya kepada orang lain, tetapi melepaskan haknya untuk membalas ketika ada orang yang mencela, menghina, atau berbuat zalim kepadanya. Setiap pagi, Abu Dhamdham sudah menyiapkan hatinya untuk memaafkan siapa pun yang mungkin menyakitinya hari itu.
Bayangkan, bahkan sebelum ada orang yang berbuat salah kepadanya, ia sudah lebih dahulu membersihkan hatinya dari keinginan membalas.
Sikap seperti ini tentu tidak mudah. Kita sering kali membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun untuk memaafkan seseorang. Luka yang terus diingat membuat hati semakin berat. Padahal, semakin lama kita memelihara dendam, semakin besar pula ruang yang kita berikan bagi rasa sakit itu untuk menguasai hidup kita.
Memaafkan bukan berarti menganggap perbuatan orang lain itu benar. Memaafkan juga bukan berarti kita harus kembali mempercayai orang yang telah berkali-kali menyakiti kita. Dalam beberapa keadaan, menjaga jarak tetap diperlukan. Namun, memaafkan berarti kita memilih untuk tidak terus membawa beban kebencian ke mana pun kita melangkah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
“Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”
(HR. Muslim no. 2588)
Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa orang yang memaafkan akan dipandang lemah. Justru sebaliknya, Allah menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang mampu menahan ego dan memilih memberi maaf.
Di tengah budaya hari ini yang sering menganggap membalas adalah bentuk keberanian, kisah Abu Dhamdham mengajarkan perspektif yang berbeda. Terkadang, keberanian yang sesungguhnya bukanlah ketika kita mampu membalas, melainkan ketika kita mampu mengendalikan diri.
Mungkin hari ini masih ada seseorang yang membuat kita sulit tidur karena perkataannya. Mungkin ada teman yang pernah mengkhianati kepercayaan kita, atau orang yang meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tidak apa-apa jika memaafkan membutuhkan proses. Yang terpenting, jangan biarkan dendam menetap di hati lebih lama daripada yang seharusnya.
Karena pada akhirnya, orang yang paling merasakan manfaat dari memaafkan bukanlah orang yang kita maafkan, melainkan diri kita sendiri. Hati menjadi lebih lapang, pikiran lebih tenang, dan langkah kita terasa lebih ringan.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Abu Dhamdham. Ia tidak menunggu orang lain berubah terlebih dahulu agar dirinya bisa tenang. Ia memilih lebih dulu membebaskan hatinya. Sebab ia tahu, hidup akan jauh lebih damai ketika kita sibuk memperbaiki diri daripada sibuk menyimpan dendam kepada orang lain.










Leave a Reply
View Comments