Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Malam, Jurnal Gue.
Gue nggak tahu kenapa malam ini rasanya kepala gue penuh banget. Pernah nggak sih lo tiba-tiba bengong terus kepikiran soal cita-cita lo waktu masih kecil dulu? Gue inget banget, pas jaman TK atau SD, kalau ditanya guru atau orang tua soal cita-cita, jawaban kita tuh pasti kedengeran gede banget. Ada yang pengen jadi astronaut yang bisa terbang ke luar angkasa, jadi penyanyi terkenal di panggung megah, ilmuwan hebat, atau minimal banget jadi presiden. Kita semua tumbuh besar dengan angan-angan indah buat ngubah dunia dan bikin bumi ini jadi tempat yang jauh lebih baik. Tapi pas sekarang gue udah beneran gede dan masuk ke realitas kehidupan yang sebenarnya, jangankan kepikiran buat ngubah dunia yang luas ini, bisa bertahan hidup dengan normal aja rasanya udah susah dan penuh perjuangan.
Gue coba ngelihat sekeliling gue akhir-akhir ini, dan jujur rasanya makin ke sini makin bikin pusing. Gak usah pakai bahasa ekonomi yang ribet atau teori muluk-muluk deh, kita lihat fakta sehari-hari aja. Harga segelas kopi yang biasa gue beli sekarang rasanya udah setara sama harga sekantong beras buat makan sekeluarga. Setiap kali gue jalan kaki atau naik motor keluar rumah, mata gue selalu disuguhin sama baliho-baliho perumahan gede yang nawarin penjualan rumah baru. Pas gue iseng lihat harganya, langsung bikin elus dada. Gue mikir, kalau gue nabung setahun, sepuluh tahun, bahkan mungkin sampai lima puluh tahun pun, belum tentu uangnya bakalan kekumpul buat beli itu rumah. Itu juga dengan catatan kalau gue masih punya sisa uang buat ditabung. Masalahnya, nyatanya banyak banget temen-temen di sekitar gue yang sekarang masih mentok berjuang cuma buat nyari lapangan pekerjaan yang makin hari makin langka. Belum lagi banyak orang lainnya yang mesti pusing mikirin tempat tinggal mereka yang semakin lama semakin terancam sama kondisi alam yang makin nggak menentu.
Sebenarnya kalau gue renungin lebih dalam, setiap masa atau generasi itu emang nggak pernah lepas dari masalahnya masing-masing. Generasi orang tua kita dulu harus ngadepin kerusuhan politik dan ketidakstabilan ekonomi yang mencekam. Kakek nenek kita harus ngadepin krisis ekonomi pasca-kemerdekaan yang luar biasa berat. Malah kalau ditarik lebih jauh lagi, buyut-buyut kita dulu mungkin harus ikut maju ke medan perang dan taruhan nyawa buat lawan penjajah. Jadi ya, masalah itu emang selalu ada di tiap jaman. Tapi, ada satu pembeda besar yang bikin era kita sekarang rasanya jauh lebih melelahkan secara mental. Di era saat ini, ada satu ‘senjata baru’ yang gak dipunyai sama generasi-generasi terdahulu, yaitu media sosial.
Mata dan perhatian kita sekarang kayak dikendalikan penuh oleh algoritma biar terus-terusan ngabisin waktu menatap layar hp. Dengan kecepatan penyebaran yang secepat kilat, informasi yang masuk ke otak kita ibarat jadi pedang bermata dua. Kadang-kadang gue ngerasa, bahaya terbesar yang kita hadapi sekarang tuh justru bukan karena kita kekurangan informasi, melainkan karena kita kebanyakan kebanjiran informasi yang keliru, hoaks, dan bikin cemas. Semua tumpukan hal negatif ini bikin banyak dari kita bawaannya udah siap marah-marah setiap hari di jagat maya. Tapi, pernah gak sih lo nanya ke diri sendiri di tengah semua kekacauan ini: bisakah hidup kita kembali ‘normal’ kayak dulu lagi? Jawabannya ternyata nggak sesederhana yang kita kira, karena selama ini mungkin kita punya satu kesalahan besar dalam cara kita ngelihat masalah dunia.
Gue baru tersadar kalau salah besar banget kalau selama ini kita ngelihat masalah-masalah di dunia itu terjadi sendiri-sendiri secara terpisah. Semua krisis yang terjadi sekarang tuh sebenarnya saling jalin-menjemari dan punya efek domino yang luar biasa.
Coba deh gue ambil contoh hal yang paling kekinian: teknologi Generative AI. Pas awal-awal mesin pintar ini booming, kita semua—termasuk gue—banyak yang nganggap kalau AI ini bakal ngebuka peluang ekonomi baru yang luar biasa keren karena bikin kerjaan manusia jadi jauh lebih ringan dan cepet selesai. Tapi saking efisiennya teknologi ini, yang terjadi di lapangan malah bikin nyesek. Banyak perusahaan yang nyari aman dengan ngeganti tenaga manusia pake tenaga AI demi nekan biaya operasional. Dampaknya? Lapangan kerja makin menyempit, puluhan ribu orang dipecat, dan angka pengangguran melonjak. Dari sini, masalahnya merembet lagi. Banyak orang yang kehilangan penghasilan akhirnya nyari jalan pintas secara instan, dan gak sedikit yang akhirnya terjerumus ke jurang judi online.
Gokilnya lagi, masalah itu gak mandek di urusan ekonomi dan sosial doang. Dari satu aplikasi teknologi, dampaknya bisa merembet merusak lingkungan. Gue sempet kaget banget pas tahu fakta kalau dalam sebulan, gas penyebab krisis iklim yang dihasilin dari operasional satu aplikasi AI aja itu bisa setara sama emisi 250 penerbangan rute Jakarta ke Tokyo. Nah, gara-gara krisis iklim global yang makin parah ini, kita semua di dunia pun lagi kelimpangan berusaha ngurangin biang masalahnya lewat transisi ke energi terbarukan. Tapi pas aturan dan pengawasannya diterapkan di Indonesia yang masih rapuh, ceritanya malah jadi makin runyam. Akhirnya malah memicu eksploitasi tambang nikel besar-besaran, hutan-hutan alam kita tergerus, ragam hewan dan tumbuhan makin terancam punah, dan masyarakat adat setempat sering banget jadi korban yang tersingkirkan dari tanah mereka sendiri.
Ujung-ujungnya, semua keruwetan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan ini makin ngelebarin jurang pemisah di antara masyarakat kita yang gampang banget terpecah belah. Narasi-narasi palsu dan hoaks di media sosial makin ngejauhin kita dari orang-orang terdekat dan bikin kita makin susah buat ngebangun rasa saling percaya satu sama lain. Padahal ini baru dari satu contoh perkembangan AI doang, belum masalah geopolitik dunia yang lain. Di sinilah gue mulai paham: jaman sekarang, semua masalah itu tuh saling terhubung satu sama lain. Teknologi, lingkungan, sosial, ekonomi, semuanya nyambung. Kita gak lagi ngadepin satu krisis tunggal yang bisa kelar pake satu solusi, tapi kita lagi ngadepin tumpukan krisis yang saling nyambung dan saling memperparah. Kondisi pelik ini biasa disebut para ahli sebagai Polikrisis.
Kalau situasinya udah se-ruwet dan se-raksasa ini, wajar banget gak sih kalau kita sering ngerasa lemah, gak berdaya, dan sendirian? Rasanya kayak apa yang kita lakuin gak bakalan ngaruh apa-apa. Tapi kalau gue pikir-pikir lagi sambil merenung malam ini, sebenernya di luar sana banyak banget anak muda yang juga punya keresahan yang sama dan pengen bertindak. Kalau energi kemarahan positif dan kepedulian itu bisa disatunin, gunung masalah yang tadinya kelihatan mustahil itu mungkin banget bisa kita urai bareng-bareng. Sadar gak sih lo, kita sering denger kalau perubahan besar itu harus lahir dari sebuah aksi megah yang meledak-ledak. Padahal kalau kita ngaca dari sejarah, banyak gerakan besar lahir bukan dari sekali ledakan, melainkan dari satu hal sederhana: keberanian buat mengimajinasikan masa depan yang lebih baik.
Gue jadi inget sejarah perjuangan bangsa kita dulu. Kayak Raden Ajeng Kartini yang punya imajinasi kuat di kepalanya tentang masa depan di mana para perempuan Indonesia bisa mengenyam pendidikan formal. Atau Mohammad Yamin yang punya imajinasi luar biasa tentang bergabungnya anak-anak muda dari suku Sunda, Jawa, Minang, dan seantero Nusantara menjadi satu bangsa yang solid bernama Indonesia. Jaring polikrisis yang kita hadapi sekarang emang kelihatan raksasa banget, tapi justru karena itulah kita mesti temukan fokus yang tepat dari lingkaran terkecil kita. Sekarang saatnya kita nanya ke diri sendiri: perubahan kayak apa sih yang bisa kita lakuin sesuai kapasitas kita?
Gue ngerasa dapet pencerahan pas tahu cerita tentang gerakan-gerakan kecil yang nyata di sekitar kita. Misalnya kisah Alya, seorang mahasiswa yang bikin proyek studi wisata kota untuk murid-murid SMP di Tangerang. Pas ada aturan baru yang melarang kegiatan study tour sekolah karena rentan kecelakaan, kesempatan belajar anak-anak di luar kelas yang tadinya udah minim banget jadi semakin tertutup rapat. Tapi Alya mencoba berimajinasi dan bertindak lewat langkah konkret. Dia memodifikasi konsep study tour itu biar bisa jadi alternatif yang jauh lebih aman, murah, dekat, bermakna, dan bener-bener berpusat pada kebutuhan siswa.
Dalam study tour yang dirancang Alya, para murid bukan sekadar diajak jalan-jalan konsumtif ke taman ria, tapi mereka ikut ngerancang sendiri perjalanannya dan diajak buat ngenalin langsung masalah-masalah nyata di kota mereka sendiri. Hasilnya gokil, anak-anak itu jadi lebih sadar sama kondisi sosial dan lingkungan di sekitar mereka. Mereka jadi bisa ngelihat kalau kota tempat tinggal mereka itu adalah milik semua orang, termasuk kelompok-kelompok rentan yang selama ini gak kelihatan. Harapan Alya ke depannya, konsep sederhana ini bisa diakselerasi ke ruang yang lebih besar, diadopsi sekolah-sekolah lain, atau bahkan didorong jadi kebijakan publik dan masuk kurikulum sekolah.
Selain urusan pendidikan, masalah lingkungan hidup yang paling deket sama keseharian kita juga butuh sentuhan aksi nyata. Ada cerita dari Daru, seorang pemuda yang lekat banget sama pengalaman di organisasi lingkungan dan kepemudaan. Menurut dia, peran anak muda buat peduli lingkungan tuh gak lantas berhenti begitu mereka memutuskan buat menikah dan berkeluarga. Justru, momen awal berkeluarga itu jadi titik krusial buat ngubah hal yang selama ini sering banget kita sepelekan: sampah makanan rumah tangga. Soalnya kalau semua sampah di Indonesia dikumpulin jadi satu, ternyata lebih dari setengahnya itu bersumber dari sampah rumah tangga kita sendiri.
Daru akhirnya menginisiasi sebuah program keren bernama “Sekolah Rumah Lestari”. Gerakan ini lahir dari keresahannya melihat data sampah di kota Depok aja, di mana dalam sehari sampah yang dibuang ke TPA bisa mencapai lebih dari 1000 ton. Di sisi lain, jumlah pernikahan di Depok bisa mencapai lebih dari 9.000-an di tahun 2023. Daru ngelihat adanya kerentanan besar munculnya sumber sampah rumah tangga baru dari setiap keluarga baru yang terbentuk. Makanya, lewat programnya, dia pengen mengedukasi pasangan yang baru menikah dari akar terdalamnya, yaitu ranah keluarga. Mereka diberdayakan biar punya pengetahuan dan keterampilan buat ngebentuk budaya positif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga nantinya mereka bisa jadi penggerak di komunitas masyarakat sekitarnya.
Ngomongin soal tumpukan sampah, masalah ini tuh sebenarnya gak lepas dari budaya konsumsi kita yang makin menggila gara-gara gempuran medsos. Di titik ini, refleksi dari Dinda bener-bener bikin gue kesindir keras. Sadar gak sih lo kalau kita tuh sering banget ngonsumsi atau beli hal-hal yang sekilas sebenernya gak penting-penting amat? Coba deh pikirin lagi sebelum kita nyalahin pihak lain, kenapa sih kita beli barang itu? Apa karena kemakan tren yang lagi viral di media sosial, atau cuma karena takut dibilang ketinggalan jaman alias FOMO sama temen-temen nongkrong kita? Seringkali alasan kita ngonsumsi sesuatu itu cuma demi menjaga gengsi atau memperkuat hubungan sosial pas lagi kumpul bareng.
Nah, Dinda mencoba memakai imajinasinya buat nyari solusi: gimana kalau ada kegiatan seru buat ngejalin pertemanan, tapi bisa ngehindarin budaya konsumsi yang gak penting itu? Dinda yang dasarnya punya kepribadian introvert ngerasa kalau berteman lewat cara nongkrong biasa tuh kadang susah dan canggung. Akhirnya dia bereksperimen bikin acara kumpul-kumpul seru yang dikemas dengan membahas isu konsumsi berlebihan tapi tetep fun, lewat gerakan alternatif bernama “Nongkrong Plus”, salah satunya lewat “Nongkrong Plus Nukang”. Alih-alih cuma duduk konsumtif habisin duit di kafe, mereka nongkrong sambil belajar nukang bikin barang secara produktif. Efeknya, mereka jadi sadar kalau mereka punya kemampuan memproduksi sesuatu, dan secara gak langsung bikin mereka lebih mengapresiasi nilai dari suatu barang biar gak gampang buang-buang barang lagi. Gerakan nongkrong plus ini bisa banget diadaptasi jadi nongkrong plus nulis, nongkrong plus masak, dan banyak lagi. Aksi kecil kayak gini kalau dijalanin rutin dan bareng-bareng bisa punya dampak kuat buat ngubah mindset cara kita berkonsumsi di masa depan.
Cerita dari Alya, Daru, dan Dinda ini ngebuka mata gue kalau gerakan anak muda tuh nyata adanya. Selain aksi individu, perubahan makro juga bisa tumbuh lewat gerakan komunitas atau organisasi yang fokus ngedorong keadilan iklim dan transisi energi terbarukan bareng warga lokal. Karena bagaimanapun juga, kitalah generasi muda yang bakalan paling terdampak sama kerusakan masa depan kalau krisis ini gak diurai dari sekarang.
Merenungkan semua hal ini ngebuat gue balik lagi ke pertanyaan di awal tadi: bisakah hidup kita kembali ‘normal’? Mungkin selama ini pertanyaan kita aja yang keliru. Konsep ‘normal’ itu sebenarnya dinamis dan berubah lewat sejarah. Dulu, praktek perbudakan itu dianggap hal yang normal dan cuci tangan sebelum makan dianggap gak normal. Jadi, mungkin sekarang emang udah waktunya kita menyambut sebuah kenormalan baru. Sebuah masa di mana kita semua mulai berani mengemban dua identitas sekaligus: bukan cuma sebagai pelajar atau pekerja yang nyari duit buat bertahan hidup, tapi juga sebagai warga negara aktif yang punya peran penting ikut ngebentuk masyarakat kita ke arah yang lebih baik.
Sudah saatnya kita lepas dari perasaan putus asa, kecemasan, dan rasa gak berdaya ngeliat polikrisis dunia. Jalan menuju perubahan itu nyata dan gak sejauh yang kita bayangkan. Kita bisa coba mulai dari langkah sesederhana ngumpul, ngobrol, dan diskusi bareng temen-temen dekat lo yang ngerasain keresahan yang sama. Cari ruang diskusi yang aman buat ngulik suatu isu dan nyoba nyari solusinya bareng-bareng. Kita gak perlu kok langsung musingin seluruh masalah dunia yang berat itu sendirian dalam waktu semalam. Tapi coba deh sejenak malem ini sebelum lo tidur, beranikan diri lo buat nanya dua hal ini ke hati lo yang paling dalam: apa imajinasi lo tentang masa depan yang lebih baik? Dan peran kecil apa yang kira-kira bisa lo ambil mulai besok pagi?
Gue rasa, catatan jurnal gue malam ini cukup sampai di sini dulu. Waktunya istirahat dan mulai mikirin aksi kecil gue buat esok hari.
Catatan kaki reflektif: Buat lo yang pengen tahu lebih detail tentang isu polikrisis dan bagaimana anak-anak muda ini bergerak nyata mencari solusi, lo bisa tonton langsung pembahasannya di http://www.youtube.com/watch?v=dPKWwJvYXkU.










Leave a Reply
View Comments