“Besok aja deh mulai.” “Nanti kalau sudah siap.” “Kalau lagi mood.”
Kalimat-kalimat ini terdengar sangat biasa, bahkan kita sering mengucapkannya tanpa merasa ada yang salah. Tapi kalau diperhatikan, justru dari kebiasaan kecil seperti inilah banyak hal akhirnya tidak pernah benar-benar dimulai. Kita tahu harus bergerak, kita tahu harus berubah, tapi selalu berhenti di jeda yang terasa aman: nanti dulu.
Padahal dalam Islam, hidup seorang mukmin tidak dibangun di atas “nanti”, tapi di atas usaha dan kesungguhan. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان
Artinya:
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Kalau kamu tertimpa sesuatu, jangan bilang ‘seandainya aku melakukan ini itu’, tapi katakan ‘ini sudah takdir Allah’. Karena kata ‘seandainya’ bisa membuka pintu untuk godaan setan.” (HR. Muslim no. 2664)
Kalau diperhatikan, hadits ini seperti sedang menjelaskan satu hal yang sering kita alami: ada tarik-menarik di dalam diri antara iman dan rasa malas. Iman mendorong kita untuk bergerak, berusaha, dan bersandar kepada Allah dengan tawakal yang benar, sementara malas justru menahan, menunda, dan membuat kita berhenti di tempat yang sama.
Dari sini sebenarnya jadi jelas bahwa kemalasan tidak sejalan dengan nilai iman yang hidup. Karena iman itu bukan sekadar percaya dalam hati, tapi juga dorongan untuk bertindak. Seseorang yang benar-benar bertawakal bukan yang diam menunggu keadaan sempurna, tapi yang melakukan bagian yang bisa ia lakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tawakal bukan alasan untuk menunda. Justru tawakal itu yang membuat seseorang berani mulai, meskipun belum merasa siap sepenuhnya.
Karena itu, iman dan malas tidak bisa benar-benar berjalan berdampingan dalam arah yang sama. Yang satu mendorong untuk maju, yang satu menarik untuk berhenti. Dan seorang mukmin akan selalu diajak untuk memilih gerak, bukan diam.
Di akhir hadits ini Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar kita tidak larut dalam penyesalan dengan jangan berkata “seandainya”.
Karena kalimat “seandainya” itu kelihatannya kecil, tapi efeknya besar. Ia membuat kita sibuk mengulang-ulang masa lalu di kepala, tanpa benar-benar memperbaiki apa pun di masa sekarang. Kita jadi terjebak di skenario yang tidak pernah terjadi lagi, tapi terus kita hidupkan sendiri di pikiran.
“Seandainya tadi aku begitu…”
“Seandainya aku nggak ambil keputusan itu…”
“Seandainya aku pilih jalan yang lain…”
Padahal semua itu sudah selesai. Tidak bisa diulang. Tidak bisa diubah.
Yang tersisa hanya dua pilihan: berhenti di penyesalan, atau kembali bergerak.
Dan di situlah hadits ini menutup pintunya dengan tegas: berhenti di “seandainya” bukan jalan keluar, karena itu hanya membuka ruang untuk melemahkan diri sendiri.
Akhirnya, menjadi mukmin yang kuat bukan berarti tidak pernah malas atau tidak pernah salah. Tapi tentang tidak tinggal terlalu lama di titik itu. Tentang tetap bergerak meski pelan, tetap berusaha meski ragu, karena iman selalu mengarahkan kita ke depan, bukan ke belakang.
Dan di situlah letak kekuatannya: bukan pada seberapa sempurna kita, tapi pada kemampuan untuk tetap berjalan setelah jatuh, setelah salah, dan setelah semua “seandainya” itu selesai.
Jadi, kesimpulannya gini guys, iman itu bukan soal siapa yang paling cepat sempurna, tapi siapa yang mau tetap bergerak meski belum sempurna. Karena hidup tidak pernah benar-benar menunggu kita siap, dan Allah tidak meminta kita jadi tanpa salah, yang diminta adalah tidak berhenti berusaha.
Jadi mungkin hari ini tidak perlu jadi versi terbaik dulu. Cukup jadi versi yang mau mulai, mau bangkit, dan tidak tinggal terlalu lama di “nanti” atau “seandainya”.
Pelan-pelan saja, tapi jangan diam.










Leave a Reply
View Comments