Generus Indonesia
Feminisme yang "Eksklusif". Gambar: Generus

Feminisme yang “Eksklusif”: Mengapa Melawan Patriarki Saja Nggak Cukup

Belakangan ini, kalau lo buka media sosial atau baca portal berita, narasi soal kesetaraan gender rasanya makin kinclong. Kita disuguhi cerita sukses perempuan di kursi direksi, pembahasan soal glass ceiling di perusahaan multinasional, sampai campaign tentang career break yang diromantisasi sebagai ajang “mencari jati diri”.

Oke, don’t get me wrong. Gue nggak bilang pencapaian itu nggak penting. Tapi, kalau lo perhatikan lebih jeli, ada aroma “kemewahan” yang menyengat di sana. Narasi-narasi tadi seolah-olah mengasumsikan bahwa semua perempuan punya starting point yang sama. Padahal, bagi jutaan perempuan di garis kemiskinan—buruh cuci, pedagang pasar, sampai ibu rumah tangga yang harus memutar otak agar dapur tetap ngebul—isu utamanya bukan soal glass ceiling. Mereka bahkan nggak punya langit-langit untuk ditembus, karena hidup mereka habis buat bertahan di atas tanah yang becek.

Di sini gue mau ngajak lo bedah, kenapa perjuangan gender yang cuma fokus pada “kesetaraan di puncak” itu ibarat membangun rumah dari atap. Rapuh dan nggak menyentuh akar masalah.

1. Feminisme “Instagrammable” vs. Realitas Berdarah

Coba kita jujur sama diri sendiri. Definisi “pemberdayaan” atau empowerment dalam diskursus arus utama sering banget terjebak dalam jebakan individualisme liberal. Fokusnya adalah: “Lo bisa kok jadi apa pun yang lo mau!” atau “Perempuan harus mandiri secara finansial!”

Kedengarannya inspiratif, kan? Tapi ini jadi bermasalah ketika lo memaksakan narasi ini ke perempuan yang tiap harinya bergelut dengan kelaparan. Bagi mereka, bekerja bukan soal “aktualisasi diri” atau “pilihan karier”. Bekerja adalah kebutuhan biologis untuk bertahan hidup.

Batas antara pemberdayaan dan eksploitasi itu tipis banget, dan sayangnya, sering nggak terlihat oleh mereka yang “aman” secara finansial. Ketika seorang perempuan kelas atas merayakan kemandiriannya dengan bekerja 12 jam sehari, dia menyebutnya hustle. Ketika seorang perempuan miskin melakukan hal yang sama sebagai buruh cuci, buruh pabrik, atau pedagang kaki lima, itu bukan hustle, itu eksploitasi sistemik.

Kita sering lupa bahwa sistem ekonomi kita—kapitalisme—itu sangat gendered. Sistem ini butuh tenaga kerja murah, dan perempuan dari kelas bawah adalah “cadangan” tenaga kerja yang paling empuk untuk dimanipulasi dengan upah rendah atas nama “keluwesan kerja”.

2. Sejarah yang Sering Kita “Skip”

Kalau kita tarik ke belakang secara historis, gerakan feminisme memang punya sejarah yang “elit”. Di gelombang pertama dan kedua (terutama di Barat yang kemudian menginspirasi narasi global), isu yang diangkat mayoritas adalah isu perempuan kelas menengah-atas: hak pilih, hak properti, dan hak untuk masuk ke ranah publik.

Itu penting? Banget. Tapi, gerakan ini sering banget mengabaikan realitas perempuan kelas pekerja, perempuan kulit berwarna, atau perempuan di negara dunia ketiga. Mereka sering diasumsikan sebagai kelompok yang “perlu diselamatkan” oleh feminis liberal, alih-alih dilihat sebagai subjek yang punya masalah unik dan kompleks.

Hari ini, pola itu terulang. Saat kita sibuk merayakan perempuan yang duduk di kursi direksi sebagai simbol kemajuan gender, kita sering lupa bertanya: “Siapa yang membersihkan kantornya? Siapa yang merawat anaknya di rumah saat dia lembur mengejar promosi?”

Di sinilah sejarah mengajarkan kita bahwa kalau perjuangan gender nggak dibarengi dengan analisis kelas, dia cuma akan jadi “feminisme elitis” yang hanya menguntungkan perempuan yang memang sudah punya modal (uang, pendidikan, koneksi).

3. Rantai Perdagangan “Care Work” (Pekerjaan Perawatan)

Ini bagian yang paling menarik sekaligus menyakitkan: Komodifikasi Perawatan.

Bayangin skenario ini: Seorang perempuan karier yang sukses di kota besar butuh waktu lebih banyak untuk fokus di kantor. Apa yang dia lakukan? Dia menyewa jasa ART atau nanny untuk mengerjakan tugas-tugas domestik yang dulunya dibebankan pada perempuan.

Secara naratif, ini terlihat seperti kemajuan: Perempuan karier tersebut “bebas” dari beban domestik. Tapi, apakah beban itu hilang? Enggak. Beban itu cuma didelegasikan ke perempuan lain yang kelas ekonominya lebih rendah. ART tersebut pun akhirnya harus meninggalkan rumah dan anaknya sendiri, atau menitipkan anaknya ke kerabat lain, hanya untuk mengerjakan beban domestik di rumah orang lain demi upah yang seringkali nggak layak.

Ini yang disebut sebagai rantai global perawatan (global care chain). Perempuan kelas atas membeli “waktu” mereka dengan uang, sementara perempuan kelas bawah “menjual” waktu dan tenaga mereka karena nggak punya pilihan ekonomi. Jadi, “kesetaraan” yang dinikmati kelompok atas seringkali dibangun di atas bahu perempuan kelas bawah yang tetap terikat dengan beban ganda: kerja domestik di rumah orang + kerja mencari uang untuk rumahnya sendiri.

4. Patriarki dan Kemiskinan: “Double Whammy” yang Brutal

Lo nggak bisa bedah masalah gender tanpa melihat kelas sosial. Ini mutlak. Perempuan kelas atas mungkin menghadapi diskriminasi patriarki (misalnya: digaji lebih sedikit dari rekan pria untuk posisi yang sama atau sulit naik jabatan). Tapi, mereka punya “bantal” berupa uang untuk menahan benturan itu.

Bagi buruh cuci, pedagang kaki lima, atau buruh pabrik, diskriminasi yang mereka hadapi itu berlapis. Mereka ditekan oleh:

  1. Patriarki: Beban domestik tetap dibebankan ke mereka (masak, cuci, urus anak adalah “tugas kodrat”).
  2. Kemiskinan Struktural: Sistem ekonomi yang tidak menyediakan jaring pengaman, upah minimum yang tidak manusiawi, dan akses pendidikan yang timpang.

Ketika patriarki dan kemiskinan struktural bertemu, hasilnya adalah keterjepitan permanen. Seorang perempuan miskin nggak punya privilege untuk “bernegosiasi” dengan patriarki. Dia harus tunduk pada sistem karena kalau dia melawan, risikonya adalah kehilangan sumber penghasilan. Di sinilah narasi “pemberdayaan” seringkali terdengar seperti tamparan bagi mereka. Disuruh “mandiri” tapi sistemnya bikin mereka nggak punya ruang buat bernapas.

5. Menuju Feminisme yang Membumi

Lalu, apa solusinya? Apakah kita berhenti memperjuangkan kesetaraan? Ya tentu nggak. Justru, kita harus memperluas definisinya. Perjuangan gender harus berubah dari gerakan yang eksklusif menjadi gerakan yang inklusif dan struktural.

Kita perlu meninggalkan ilusi bahwa “perempuan sukses” (yang kaya) adalah tolok ukur kesetaraan. Kesetaraan sejati bukan tentang seberapa banyak perempuan yang jadi CEO, tapi tentang seberapa aman dan layak kehidupan perempuan paling marjinal di masyarakat kita.

Ini beberapa hal yang perlu kita renungkan kembali:

  • Ekonomi adalah Isu Gender: Kita harus berhenti melihat isu ekonomi (upah layak, serikat pekerja, perlindungan sosial) sebagai isu yang terpisah dari isu gender. Kesejahteraan ekonomi adalah pondasi utama kebebasan perempuan.
  • Revaluasi “Care Work”: Kita harus berhenti menganggap pekerjaan domestik (seperti mengasuh anak dan merawat rumah) sebagai pekerjaan “rendahan” atau “gratisan”. Masyarakat harus mulai menghargai pekerjaan ini sebagai tulang punggung kehidupan sosial.
  • Solidaritas Kelas: Perempuan dari berbagai kelas sosial harus berhenti saling menyalahkan. Kita perlu membangun solidaritas yang mengakui perbedaan posisi kita dalam sistem. Perempuan yang lebih beruntung harus sadar bahwa “kebebasan” mereka seringkali bergantung pada tenaga perempuan yang kurang beruntung, dan mulai menuntut perubahan sistemik yang adil bagi keduanya.

Kesimpulan: Kesetaraan Bukan Barang Mewah

Pada akhirnya, kalau narasi yang kita bangun cuma menyentuh permukaan—seperti kampanye girl boss atau self-love di media sosial—tanpa menyentuh akar kesejahteraan ekonomi kaum marjinal, ya pada akhirnya kesetaraan itu hanyalah sebuah ilusi. Ilusi yang cuma bisa dinikmati oleh mereka yang secara finansial sudah “aman”.

Kita butuh kesadaran kolektif bahwa patriarki itu bukan berdiri sendiri. Dia punya sahabat karib bernama kapitalisme yang doyan mengeksploitasi perbedaan. Kalau kita cuma sibuk menumbangkan patriarki tanpa menyentuh struktur ekonomi yang menindas, kita cuma akan memindahkan kursi kekuasaan, tapi nggak mengubah meja permainannya.

Jadi, lain kali kalau lo dengar narasi soal perempuan sukses atau pemberdayaan, coba tanyakan: “Ini buat siapa? Apakah ini bikin hidup perempuan di pasar tradisional lebih mudah, atau cuma bikin hidup perempuan di gedung pencakar langit lebih nyaman?”

Karena selama masih ada perempuan yang harus memilih antara makan atau menyekolahkan anaknya karena desakan ekonomi, “kesetaraan” itu cuma kata manis yang belum punya rasa. Saatnya kita bicara soal keadilan yang nyata, bukan cuma kesetaraan yang tampak di mata.