Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Halo sobat gen. Gimana kabar kalian? Baru saja kita melewati tanggal 1 Juni, yang mana semua orang di media sosial ramai-ramai memasang status “Selamat Hari Lahir Pancasila”. Tapi, pernah nggak sih lo berhenti sejenak dan mikir, “Eh, beneran nih kita lagi merayakan Pancasila, atau cuma sekadar ritual tahunan aja?”
Gue nulis ini bukan buat menggurui, tapi lebih ke ajakan ngobrol santai sambil merenung. Karena jujur aja, kalau gue lihat kondisi negeri kita akhir-akhir ini, rasanya ada yang mengganjal. Pancasila yang harusnya jadi napas setiap kebijakan pemerintah, kok kayaknya makin ke sini makin sering cuma jadi pajangan di poster atau hafalan waktu upacara bendera doang. Yuk, kita bedah pelan-pelan.
Menapak Tilas: Dari Mana Sih Asalnya 1 Juni?
Biar kita nggak gagal paham, mari kita kilas balik bentar. Kenapa 1 Juni? Semuanya berawal dari sidang BPUPKI di tahun 1945. Waktu itu, Bung Karno menyampaikan pidato bersejarah di depan para pendiri bangsa. Di situlah untuk pertama kalinya istilah “Pancasila” dicetuskan sebagai lima dasar negara yang bakal jadi payung buat keberagaman bangsa kita.
Waktu itu, Bung Karno mikir keras gimana caranya menyatukan ribuan pulau, ratusan suku, dan banyak banget perbedaan keyakinan dalam satu atap yang kokoh. Lahirlah Pancasila sebagai jalan tengah, sebagai falsafah yang merangkul semua orang tanpa terkecuali. Jadi, secara historis, 1 Juni itu bukan cuma tanggalan merah di kalender. Itu adalah momen sakral di mana sebuah bangsa sepakat buat “ada” dengan cara yang bermartabat.
Tapi masalahnya, semangat itu sekarang kayak lagi diuji banget. Terus, kenapa sih rasanya nilai-nilai Pancasila itu makin merosot, bahkan di tingkat kebijakan pemerintah sendiri?
Kebijakan yang Terasa Jauh dari Ruh Pancasila
Gue perhatiin, banyak kebijakan pemerintah sekarang yang kalau kita bedah pakai kacamata sila-sila Pancasila, rasanya malah kayak nabrak tembok. Coba deh kita lihat satu per satu.
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini ngomongin soal harkat dan martabat manusia. Tapi, kenapa ya kita masih sering lihat kebijakan yang justru meminggirkan masyarakat kecil? Misalnya, penggusuran lahan yang atas nama “pembangunan nasional” tapi prosesnya minim dialog dan malah pakai kekerasan. Apakah itu bentuk dari kemanusiaan yang beradab? Kadang gue ngerasa, negara terlalu sibuk mengejar angka pertumbuhan ekonomi sampai lupa kalau di balik angka-angka itu ada manusia yang punya perasaan dan hak buat hidup layak.
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ini nih yang paling sering jadi bahan kritik. Keadilan sosial itu artinya semua orang punya akses yang sama buat hidup sejahtera. Tapi kenyataannya? Kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar. Kebijakan yang lebih condong pro ke segelintir kelompok oligarki atau pengusaha besar dibanding ke rakyat kecil, itu kan jauh banget dari semangat keadilan sosial. Ketika akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas masih jadi barang mewah yang cuma bisa dinikmati orang berduit, di situ Pancasila lagi nangis di pojokan.
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Di era media sosial ini, polarisasi politik bukannya makin reda malah makin parah. Dan sedihnya, kadang pemerintah atau oknum-oknum di dalamnya malah ikutan “bermain” di area ini. Bukannya merangkul semua pihak, kebijakan yang diambil malah sering membelah masyarakat jadi kubu-kubuan. Padahal, Pancasila itu diciptakan buat jadi pemersatu, bukan buat alat buat menyingkirkan lawan politik atau mereka yang kritis sama pemerintah.
Kenapa Nilai Pancasila Makin Terdegradasi?
Mungkin lo nanya, kenapa sih nilai-nilai ini kayak luntur banget? Menurut gue, ada beberapa faktor krusial.
Pertama, Pancasila dijadikan alat kekuasaan. Sejarah mencatat, dari era Orde Baru sampai sekarang, Pancasila sering banget dipinjam namanya buat melegitimasi kepentingan penguasa. Kalau ada yang kritik kebijakan pemerintah, dibilang “anti-Pancasila”. Ini bahaya banget, karena Pancasila malah jadi momok yang menakutkan, bukan lagi rumah yang teduh buat semua orang.
Kedua, Erosi keteladanan. Gimana rakyat mau percaya sama nilai Pancasila kalau para pemimpinnya sendiri sering mempertontonkan perilaku yang bertolak belakang? Korupsi yang makin merajalela, gaya hidup mewah pejabat yang kontras banget sama kondisi rakyat yang kesusahan, sampai hukum yang kayaknya cuma tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Kalau pimpinannya aja nggak konsisten sama Pancasila, ya wajar kalau masyarakat jadi apatis.
Ketiga, Formalitas vs Substansi. Kita terlalu terjebak sama seremonial. Upacara tiap tahun, webinar soal ideologi, tapi praktiknya di lapangan kosong melompong. Kita sibuk ngebahas teksnya, tapi lupa menjalankan ruhnya. Pancasila itu bukan cuma soal hafal lima poin itu, tapi soal gimana kita bersikap sehari-hari.
Harapan yang Masih Ada
Apa berarti kita harus pesimis? Nggak juga. Menurut gue, kritik ini adalah bentuk sayang kita sama negara. Kalau kita nggak peduli, kita bakal diem aja. Tapi karena kita pengen Indonesia bener-bener jadi negara yang adil, makmur, dan beradab, makanya kita harus berani ngomong.
Pemerintah harus sadar bahwa memperkuat Pancasila itu bukan lewat indoktrinasi di sekolah atau lewat slogan di baliho pinggir jalan. Memperkuat Pancasila itu artinya:
- Kebijakan yang transparan dan pro rakyat. Setiap aturan yang dibuat harus lewat uji publik yang benar-benar melibatkan rakyat, bukan cuma formalitas.
- Hukum yang tegak lurus. Nggak ada lagi istilah tebang pilih. Kalau korupsi, ya sikat tanpa pandang bulu. Itu baru namanya sila kedua.
- Ruang diskusi yang terbuka. Negara harus berani menerima kritik. Jangan dikit-dikit lapor polisi, dikit-dikit dituduh makar. Indonesia itu negara demokrasi, bukan kerajaan.
Sebagai anak muda, kita juga punya peran. Jangan cuma jadi penonton. Kita bisa mulai dari hal kecil: nggak gampang kemakan hoaks yang memecah belah, peduli sama isu-isu kemanusiaan di sekitar kita, dan berani bersuara kalau ada ketidakadilan.
Pancasila di Tangan Kita
Pancasila itu bukan artefak sejarah yang cuma boleh disimpan di museum. Pancasila itu ideologi yang hidup, yang harusnya terus berevolusi menjawab tantangan zaman. Kalau hari ini kita ngerasa Pancasila makin merosot, itu tandanya kita semua—terutama pemerintah sebagai nahkoda kapal ini—harus putar haluan.
Balik lagi ke esensi awal: Pancasila itu buat kemanusiaan, buat persatuan, dan buat keadilan sosial. Kalau pemerintah masih lebih mementingkan kepentingan kelompok sendiri dibanding kepentingan rakyat banyak, ya jangan heran kalau kepercayaan publik makin hari makin terkikis.
Semoga ke depannya, Hari Lahir Pancasila bukan cuma jadi ajang buat update status di Instagram, tapi jadi momentum buat evaluasi besar-besaran. Apakah kita sudah benar-benar memanusiakan manusia? Apakah kita sudah berjuang buat keadilan? Karena sejatinya, Pancasila adalah tentang kita semua, bukan tentang segelintir orang di kursi kekuasaan.
Gimana pendapat lo sendiri, apakah lo ngerasa nilai-nilai Pancasila di Indonesia saat ini sudah dijalankan dengan cukup baik atau justru masih butuh banyak perbaikan?










Leave a Reply
View Comments