Generus Indonesia
Catatan Kania Part 2. Gambar: Generus

Catatan Kania: Medical Check Up Day!

Oleh Thifla Thuwaffa Isqy

Kania bersiap untuk Medical Check Up hari ini, beruntung kantornya cukup memperhatikan kesejahteraan karyawan. Kania sudah melakukan semua hal yang perlu dilakukan, tidur cukup, puasa semalaman, mengelola stres (menurutnya), dan minum air putih yang cukup.

Tidak ada yang aneh pagi itu, hanya saja tujuan Kania bukan ke kantor, melainkan ke Rumah Sakit yang sudah bekerja sama dengan kantornya untuk pemeriksaan kesehatan. Aroma khas rumah sakit sudah memenuhi hidung Kania sesaat ia melangkahkan kakinya di lobby.

Rumah sakit selalu sibuk, Pasien memenuhi ruang tunggu, ada yang baru mengambil antrian pendaftaran, ada yang sudah menunggu dokter, para perawat tenaga sudah hilir mudik ke berbagai ruangan, memanggil pasien dan memastikan pasien tidak salah masuk poli.

Mata Kania sibuk menyapu area lobby, berharap bertemu dengan rekan kantornya yang lain, karena jadwal Kania dan Yani berbeda, Yani sudah lebih dulu melakukan MCU.

Lina, rekan satu divisinya melambaikan “Kania, sini,”.

“Kita bakal MCU di ruangan mana?,” Tanya Kania menghampiri Lina.

“Di lantai 2, ada ruangan khusus MCU, yang lain sih udah naik lift ya. Gue kan kawan setia yang selalu nungguin lu hehe. Yuk naik,” Lina bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah lift, Kania mengikuti.

Sesampainya di ruang MCU, Lani dan Kania berpisah, untuk mendaftarkan diri dan menjalani MCU masing-masing. Kania segera registrasi di station pendaftaran, Staf Rumah sakit menjelaskan prosedur MCU dan Kania menandatangi surat persetujuan tindakan medis yang akan diterimanya. Meskipun outfit Kania seperti orang yang mau ngelayat, tapi dalam hatinya ia sangat antusias.

Ini kali pertamanya Kania menjalani Medical Check Up yang lengkap, maklum biaya MCU tidak murah, paket dasar saja bisa satu jutaan. Tapi kantornya bisa memberikan fasilitas paket MCU yang lebih lengkap, dengan kisaran biaya 3 jutaan per orang. Kania bersyukur dapat kesempatan ini, karna ia jarang periksa kesehatan kalau tidak merasa sakit, mentok-mentok cuma ukur tinggi badan dan timbang berat badan aja di puskesmas.

Sesi awal dimulai dengan pemeriksaan indra mata, pupil Rania melebar saat cahaya senter menyorotnya. Dokter memeriksa dan mencatat seluruh reaksi dari panca indra Kania yang diamatinya. Tes Ishihara juga dilakukan untuk mengetahui kemampuan membedakan warna Kania. Selanjutnya, dokter memeriksa telinga kania dan memasukan corong otoskop. Kania bergidik geli saat benda asing itu masuk ke lubang pendengarannya.

“Oke mata dan telinganya normal ya, tapi ada sedikit bekas luka di dalam telinga. Pernah ada kejadian apa sebelumnya?,” ucap Dokter wanita itu.

“hmm, apa ya dok. Waktu itu telinga saya pernah kemasukan serangga, kayak kupu-kupu atau ngengat sih. Sakit banget itu dok, rasanya gendang telinga saya mau pecah waktu serangganya bergerak karna mau keluar hehe,”

“Ngengat itu gede banget loh, Kok bisa ada serangga masuk telinga kamu?,” tanya dokter sambil mengerutkan dahi.

“Ya saya juga heran dok, saya lagi nyetir motor waktu itu tapi emang nggak pake helm sih karna saya pikir jaraknya deket. Terus, tiba-tiba ada sesuatu yang masuk jilbab saya dan masuk ke telinga saya. Ampun deh dok, untung saya nggak kecelakaan. Akhirnya saya melipir dulu, nyoba ngeluarin hewan itu pake senter, tapi nggak kelihatan. Setiap hewan itu bergerak, berasa ada drum ditabuh masuk telinga saya. Bahkan ada yang ngira saya kesurupan karna saking paniknya jadi banyak bergerak,” jelas Kania sambil meringis mengingat kejadian yang cukup memalukan itu.

Dokter itu terkekeh, “terus, bisa dikeluarinnya gimana?”

“Akhirnya saya ke IGD rumah sakit terdekat, dokter IGD nya juga bingung awalnya, udah pake berbagai cara, pakai minyak lah, kepala dimiringin, dipakein pinset tetep nggak keluar. Akhirnya dimasukin alkohol banyak-banyak, biar serangganya mati dulu, terus diambil pakai pinset. saking besarnya ngengat, sampai dibelah dua dulu dok baru bisa dikeluarin dari telinga saya. Sejak saat itu, saya bertekad tetep pakai helm meskipun keluar rumahnya dekat,” Kania menyelesaikan ceritanya layaknya sales yang meyakinkan pembeli untuk memberi produk.

“Iya, iya. Pakai helm kan emang wajib kalau lagi berkendara. Semoga nggak keulang kejadian serangga masuk kuping. Sehat-sehat ya mbak Kania, lembar ini bisa dibawa ke station selanjutnya,” Ucap dokter dengan ramah sambil menyerahkan lembar pemeriksaan ke Kania.

Kania melanjutkan pemeriksaan spirometri untuk memeriksa kapasitas paru-parunya. Ia diminta untuk meniup alat dengan satu tarikan napas semampunya. Alat itu tersambung dengan komputer untuk mencatat hasilnya.

“Mbak, anggap saja seperti sedang meniup terompet atau seruling. Ikuti instruksi saya ya,” ujar pemeriksa.

Kania mengangguk dan menunggu aba-aba.

“Tarik napas dalam-dalam”

“Tiup”

Huuuuftttt…..

Kania meniup alat itu sekuat tenaga selama yang ia bisa, sesak juga ya ternyata. Bagaimana para musisi itu bisa memainkan alat musiknya tanpa terlihat menggap-menggap seperti ikan yang terdampar di daratan? Pikir Kania. Kania mengulang tes itu sebanyak 3 kali, mungkin agar hasilnya valid dan konsisten.

“Sudah selesai mbak tesnya, nanti ke station sebelah ya. Masih ada rangkauan tes darah, rontgen dan EKG,” jelas staf tersebut sambil menyerahkan lembar ceklis pemeriksaan.

“Baik, terima kasih,” ucap Kania berpindah tempat untuk pemeriksaan lanjutan.

Kania tidak kesulitan saat tes darah, karena ia tidak punya fobia dengan jarum suntik. Hanya saja, darahnya termasuk kental padahal Kania rajin minum air putih. Begitu juga dengan tes rontgen dada, ia cukup mengikuti arahan staf dengan berdiri dengan alat rontgen di depan dadanya dan cahaya Xray memindainya.

Tiba saat Kania menjalani test EKG (electrocardiogram) atau rekam jantung di kamar perawatan yang tertutup.

“Silakan mbak, berbaring dan dibuka bajunya mbak,” ucap Perawat yang menyiapkan bed untuk Kania.

“Eh? harus buka baju ya sus?,” ucap Kania Kikuk.

“Iya mbak, karna alat rekam jantung ini harus dipasang di dada, nggakpapa mbak, nggak perlu malu, kita kan sama-sama perempuan hehe,”

Meskipun Kania sebenarnya merasa canggung, tapi mau bagaimana lagi? Segera, perawat memasang alat rekam jantung yang seperti koyo dengan kabel yang menjuntai dan terhubung ke monitor.

Bipp.. Bipp. Bippp …..

Bunyi monitor dengan tampilan seperti alat pendeteksi gempa dari BMKG, alat medis itu langsung mencetak hasil rekam jantung di kertas khusus.

Kania hanya memandangi langit-langit ruangan dengan menahan dinginnya AC. Sepuluh menit yang terasa bagai satu windu di hidup Kania.

“Sudah selesai ya mbak, silakan dikenakan kembali pakaiannya” Perawat itu melepas alat rekam jantung dari tubuh Rania.

Kania bangun dan mengenakan kembali pakaiannya, ternyata diantara semua tes kesehatan yang ia lakukan, tes EKG ini yang berhasil memutus urat malunya dan menjebol dinding pertahanannya.

“Nanti hasilnya akan dikirimkan ke HRD ya mbak, maksimal minggu depan. Kalau ada hasil yang perlu penjelasan lebih lanjut dari dokter, akan diinformasikan dari HRD ya,” jelas perawat sambil menyiapkan kembali alat medisnya untuk pemeriksaan pasien berikutnya.

“Baik, terima kasih suster, saya pamit ya sus,” Kania keluar ruangan dengan senyum merekah, tanpa tau apa yang akan dihadapinya di minggu depan. (bersambung)