Generus Indonesia
Penulis Baru. Gambar: Generus

Penulis Baru

Oleh Muhammad Faqihna

Setiap hari, begitu tiba di kantor, Nuni meluruskan barisan foto-foto dalam bingkai, di atas meja kerjanya. Ada empat, seimbang dua kiri dan kanan. Di tengahnya sebuah vas kecil, berisi bunga bougenville, yang dipetiknya dari halaman depan kantor setelah memarkir motornya dekat pagar.

Pak Bon sudah tahu itu. Jadi, kalau sedang sempat, ia yang memotes beberapa tangkai yang bunganya sangat banyak, dan warnanya sangat pekat.

Pernah ia menawari Nuni kamboja merah muda, atau sirih-sirihan yang cukup diberi air, akan hidup terus. Jadi tak usah potes setiap hari. Nuni menolak. “Bougenville ini saja, Pak. Paling cocok,” katanya.

Enam temannya di kantor kecil itu, ditambah Bu Bos, kagum melihat Nuni tak pernah alpa memetik bougenville dan ditata di antara foto-foto keluarganya.

“Itu ayah-ibumu, Ni?” tanya Bu Bos di hari pertama ia menata foto itu di meja kerjanya.

Nuni mengangguk, “Betul, Bu. Di sebelahnya, ibu saya. Kalau yang di sebelah kanan adalah para kakek dan nenek saya.”

“Mereka sayang sekali padamu, ya?” Nuni menjawab dengan sedikit senyum. Sudah. Tak ada cerita lebih lanjut. Bu Bos lantas menyimpulkan: Nuni orangnya introver. Tak suka cerita-cerita soal keluarga. Anak tunggal memang sering begitu.

Dan teman-teman kantor sepakat dengan kesimpulan Bu Bos.

Oh, satu lagi: Nuni tak pernah pulang kampung saat semua orang mudik. Ambil cuti hanya tiga hari dalam setahun. Sisanya, yang jumlah harinya sudah terlalu banyak dan nyaris hangus-ditukarnya dengan uang. Mulanya Bu Bos tak terlalu senang dengan pilihan ini, tetapi Nuni selalu punya alasan: orang tuanya sering datang menengok di akhir pekan. Jadi tak ada perlunya mudik. Sementara pasangan Kakek dan Nenek sudah lama tiada.

Hari ini, tepat lima tahun Nuni bekerja di yayasan pendidikan asal Belanda itu. Bu Bos memutuskan untuk merayakan itu. la menyiapkan beberapa kue basah dari Tante Singkawang, juga gorengan dari warung sebelah. Tetapi kemana Nuni? Sudah lewat 15 menit dari jam masuk kantor, ia belum muncul juga. Bu Bos minta salah satu anak buahnya, menanyakan keberadaan Nuni. Pesan WhatsApp dan telepon, tak berjawab. Aneh. Nuni tak pernah absen, tak pernah terlambat. Ke mana dia?

Hingga siang, Nuni tak muncul.

Sore hari, temannya diutus untuk menengok ke tempat kosnya.

Berita yang tiba mengejutkan: Nuni telah meninggalkan kamar yang disewanya selama lima tahun itu, pada Sabtu pagi.

Ini hari Senin.

Nuni pindah kos? Ibu Kos bilang, “Katanya mau pulang kampung, ke Bangka.”

“Bangka?” Bukannya Nuni asal Pati?

Ibu Kos ganti heran.

Teman yang diutus mengirimkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Bu Bos bergegas membuka file Nuni.

Tertulis di situ, Nuni kelahiran Pati. Bukan Bangka. la menyesal tak meminta nomor telepon keluarga Nuni yang bisa dihubungi. la kesal tak mencatat alamat ayah dan ibu anak ini. Bagaimana ia bisa seceroboh itu?

Di ruang kerjanya, ia menggeram, mengapa ia begitu cepat terpesona pada anak ini, sehingga lalai mencatat hal-hal penting itu? Lima tahun lewat, dan ia tak tahu apa-apa tentang Nuni. Keterlaluan. Bu Bos tak pernah bisa melupakan kelalaiannya ini.

Sore itu, kue tetap tersisa. Tak ada yang berniat menghabiskan. Bu Bos mengurung diri di kamar kerja. Kantor bubar lebih awal. Tak ada yang berniat bekerja lebih dari jam yang seharusnya.

Malam-malam, di kamarnya, Bu Bos mencoba

peruntungan, menelepon Nuni.

Tak berjawab. Mengirim pesan, tak berbalas.

Esok paginya, Nuni tak muncul.

Juga esoknya, esoknya, esoknya, esoknya lagi.

Di hari kedelapan menghilangnya Nuni, Bu Bos membuat pengumuman yang tak terlalu diperlukan (karena toh semua sudah tahu): Nuni memutuskan berhenti dari tempat ini.

Setelah itu ia membagikan formulir baru yang harus diisi keenam karyawannya (termasuk Pak Bon): nama, alamat, nomor telepon keluarga yang tak serumah, yang bisa dihubungi apabila diperlukan/saat darurat.

Dua tahun kemudian, media sosial ramai dengan munculnya novel yang ditulis seorang penulis baru yang buku pertamanya menuai banyak puja puji di kalangan sastra. Penulis yang kabarnya sangat tertutup ini tinggal di negeri tetangga sejak dua tahun terakhir setelah berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Indonesia.

Bu Bos ikut-ikutan membeli buku ini. Penulis baru, bagus pula karyanya, perlu didukung.

Ketika bukunya tiba, Bu Bos merasa pernah mengenal penulis ini, tetapi di mana? Mengapa wajahnya seperti begitu familiar?

Penulis muda itu bercerita tentang perjalanan hidup tokoh utamanya yaitu seorang anak perempuan yang dipungut dari panti asuhan oleh sepasang suami istri.

Hari-hari yang semula manis, lama-lama berubah pahit. Mereka memukul, menyiraminya dengan air panas, membenamkannya ke dalam bak mandi, mengikatnya kuat-kuat, lalu dipukul dengan gagang sapu. Ketika semua tak tertahan, dan kesempatan datang, tokoh utama ini membunuh ayah dan ibu angkatnya. la berusia belasan saat itu. Segala hal baik dan buruk ia lakukan untuk bisa tetap hidup dan akhirnya menjadi manusia baru.

Di bagian akhir, menulis surat buat siapa saja yang selama ini membantunya menemukan jalan untuk tetap hidup. Di baris terakhir ia berterima kasih buat seorang perempuan tua di Yogyakarta, yang memberinya pekerjaan, yang tak pernah bertanya tentang siapa ayah dan ibunya, yang mungkin sekarang masih menyimpan foto-foto yang diletakkannya dengan rapi di meja kerjanya: foto sepasang ayah ibu, dan sepasang kakek nenek. Foto yang dibelinya di pasar loak, yang kemudian diberinya bingkai.

Bu Bos membalik buku, melihat foto penulis, seorang lelaki muda. Mendadak pening, mual: ia ingat sekarang siapa dan di mana pernah bertemu dengan penulis ini. Ingat betul.