Oleh Fitri Utami
Pernah nggak, kamu sudah berulang kali berdoa untuk sesuatu, tetapi sampai sekarang belum juga terwujud?
Sudah berusaha, sudah meminta kepada Allah dalam doa-doa setelah salat, bahkan mungkin menyelipkan harapan yang sama setiap kali berdoa. Namun, kenyataannya masih jauh dari yang kamu inginkan.
Melihat orang lain mendapatkan apa yang kita harapkan juga kadang bikin hati bertanya-tanya, “Kapan, ya, giliranku?” Sampai akhirnya, muncul rasa kecewa, lelah menunggu, atau bahkan bertanya-tanya apakah doa kita benar-benar didengar.
Kalau kamu pernah merasa seperti itu, kamu nggak sendirian. Berharap sesuatu terwujud bukanlah hal yang salah. Merasa sedih ketika harapan belum menjadi kenyataan juga manusiawi. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi doa yang belum terwujud?
Ada kalanya kita begitu menginginkan sesuatu sampai sulit membayangkan kemungkinan lain. Kita sudah punya rencana, membayangkan masa depan, dan merasa bahwa hal itulah yang paling kita butuhkan.
Misalnya, sudah berkali-kali melamar pekerjaan tetapi belum mendapat panggilan, berdoa agar dipertemukan dengan jodoh tetapi belum juga menemukan orang yang tepat, atau berharap suatu masalah segera selesai tetapi kenyataannya masih harus dihadapi.
Di tengah situasi seperti itu, wajar kalau kita merasa lelah. Kita nggak harus berpura-pura selalu kuat atau memaksa diri untuk terus tersenyum.
Namun, jangan sampai rasa kecewa membuat kita buru-buru menyimpulkan bahwa Allah nggak mendengar doa kita.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah dekat dan kita bisa memohon kepada-Nya. Kita mungkin belum melihat hasil yang diharapkan, tetapi jangan buru-buru menganggap diri kita tidak didengar.
Belum terwujud bukan berarti kita harus kehilangan harapan. Kita boleh merasa kecewa, tetapi jangan biarkan kekecewaan itu membuat kita menjauh dari Allah.
Kadang, kita merasa bahwa sesuatu yang kita inginkan adalah hal terbaik untuk hidup kita. Kita sudah menyusun rencana dan membayangkan betapa bahagianya jika doa itu terwujud.
Namun, apakah kita benar-benar tahu seluruh hal yang akan terjadi setelah keinginan itu terpenuhi?
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajak kita menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas, sedangkan Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Bukan berarti setiap penundaan pasti menyimpan alasan tertentu yang kelak akan kita pahami. Kita juga nggak perlu memaksakan diri mencari hikmah dari setiap kejadian saat hati masih terasa berat.
Cukup sadari bahwa kita belum mengetahui keseluruhan ceritanya. Kita boleh tetap menginginkan sesuatu, sambil belajar menerima bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari rencana kita.
Kalau doa belum juga terwujud, apakah kita harus diam dan menunggu?
Tentu nggak.
Kalau kita berdoa agar mendapat pekerjaan, kita tetap perlu memperbaiki CV, mencari lowongan, dan mempersiapkan diri menghadapi wawancara. Kalau berharap masalah selesai, kita perlu mencari jalan keluar dan melakukan bagian yang memang bisa kita usahakan.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11, petikan ayat)
Ayat ini mengingatkan pentingnya perubahan dan usaha dari diri kita sendiri. Doa bukan alasan untuk berhenti melangkah. Sebaliknya, doa bisa menjadi penguat saat kita berusaha menghadapi keadaan yang belum sesuai harapan.
Kita memang nggak bisa mengendalikan semua hasil. Namun, kita masih bisa memperbaiki ikhtiar, belajar dari pengalaman, dan mencoba kembali.
Di sinilah kita belajar tawakal: melakukan bagian kita sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Mungkin sampai sekarang ada doa yang masih kamu ulang. Ada harapan yang belum menemukan jalannya. Ada pula pertanyaan yang belum kamu temukan jawabannya.
Nggak apa-apa. Kamu nggak harus memahami semuanya hari ini.
Tetaplah berdoa, bukan karena kamu tahu persis bagaimana Allah akan menjawabnya, tetapi karena kamu percaya bahwa kepada-Nya kamu bisa berharap dan meminta pertolongan.
Jangan sampai terlalu sibuk menunggu satu hal terwujud sampai lupa menjalani hidup yang ada di depan mata. Tetap syukuri hal-hal baik yang kamu miliki, jaga hubungan dengan orang-orang terdekat, dan manfaatkan kesempatan yang masih bisa kamu usahakan.
Kita boleh berharap setinggi-tingginya, tetapi kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk menerima bahwa hidup nggak selalu berjalan sesuai keinginan.
Kalau hari ini doamu belum terwujud, jangan buru-buru menganggap Allah nggak mendengar. Teruslah berdoa, teruslah berusaha, dan tetap dekat dengan-Nya. Kita mungkin belum tahu bagaimana perjalanan ini akan berakhir, tetapi kita masih bisa melangkah sambil menjaga iman dan harapan.










Leave a Reply
View Comments