Oleh: Anton Kuswoyo
Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut
(Diangkat dari kisah nyata, pengalaman penulis beberapa hari yang lalu)
Namanya juga lift. Dibuat untuk memudahkan orang naik turun tanpa harus capek menaiki tangga. Tetapi hari itu, lift justru membuat kami berlima harus belajar tentang kesabaran.
Ceritanya sederhana. Kami berlima masuk ke dalam lift dari lantai satu. Tujuannya lantai dua. Cuma satu lantai. Tidak jauh. Tidak sampai membuat napas ngos-ngosan.
Kami pun menekan tombol angka dua. Lift bergerak naik.
Baru beberapa detik, tiba-tiba…
“Krek!”
Lift berhenti. Kami saling pandang.
“Sudah sampai?” tanya seorang teman.
“Kalau sudah sampai, kenapa pintunya belum terbuka?” jawab yang lain.
Kami masih tertawa. Maklum, belum tahu kalau perjalanan satu lantai itu akan berubah menjadi pengalaman yang rasanya seperti ikut program pelatihan ketahanan mental.
Beberapa saat kemudian, lampu mati. AC ikut mati. Nah, mulai terasa. Kalau sebelumnya kami berlima masih santai, sekarang mulai saling memperhatikan. Bukan karena perhatian. Tetapi karena mulai mencari siapa yang paling banyak menghabiskan oksigen.
Salah seorang teman berkata,
“Jangan banyak ngomong dulu.” Kami langsung diam.
Beberapa detik kemudian dia sendiri yang bicara.
“Eh, tapi kalau diam terus bagaimana kita minta tolong?”
Kami tertawa lagi.
Dalam keadaan seperti itu, memang humor menjadi salah satu cara untuk tetap waras.
Udara semakin pengap. Keringat mulai bercucuran.
Lift yang tadinya terasa nyaman berubah menjadi semacam ruang sauna. Bedanya, kalau sauna kita memang sengaja masuk untuk berkeringat.
Ini kami masuk untuk naik ke lantai dua. Tetapi malah mendapatkan bonus olahraga tanpa bergerak. Kami segera menghubungi rekan-rekan yang berada di luar.
Setelah tombol lantai satu ditekan, lift tiba-tiba bergerak turun.
“Alhamdulillah!”
Kami lega.
“Sebentar lagi keluar.”
Ternyata kami terlalu cepat bersyukur.
Lift memang turun ke lantai satu.
Tetapi pintunya tetap tidak mau terbuka. Pintu bagian dalam terbuka sedikit. Pintu bagian luar tetap rapat. Seolah-olah pintunya sedang berkata,
“Silakan keluar kalau bisa.”
Dari luar, beberapa orang mulai membantu. Ada yang mendorong pintu. Ada yang menarik. Ada yang mencoba mencongkel. Ada pula yang membawa linggis.
Kami yang berada di dalam hanya bisa memberikan dukungan moral.
“Semangat!”
“Bisa!”
“Pelan-pelan!”
“Kalau berhasil, traktir!”
Yang terakhir langsung mendapat protes.
“Yang terjebak kita, yang minta traktir malah kalian!”
Pintu hanya terbuka sekitar tiga jari. Dari celah itu, rekan-rekan menyodorkan kipas kecil. Begitu kipas masuk, kami langsung berebut posisi.
Ada yang bilang,
“Ke sini kipasnya!”
Yang lain menjawab,
“Jangan ke situ, ke saya!”
Akhirnya kipas kecil itu menjadi benda paling populer di dalam lift. Lebih populer daripada handphone. Lebih dicari daripada sinyal.
Beberapa botol air mineral juga disodorkan dari luar. Kami minum bergantian. Rasanya seperti mendapatkan bantuan kemanusiaan dari dunia luar.
Tiga puluh menit berlalu. Pintu belum juga terbuka. Keringat semakin banyak. Tetapi anehnya, suasana justru semakin akrab. Mungkin karena kalau sudah terjebak bersama, status sosial menjadi tidak penting.
Di luar lift mungkin seseorang pejabat.
Di dalam lift?
Sama-sama kepanasan.
Di luar mungkin orang penting.
Di dalam lift?
Sama-sama menunggu pintu terbuka.
Saya kemudian mencoba memperhatikan mekanisme pintu.
Saya melihat kabel seling dan beberapa bagian pintu bagian dalam. Ketika pintu dicoba dibuka, terlihat ada dua besi pengait yang saling bertautan.
Saya perhatikan beberapa saat.
Kemudian muncul sebuah ide.
Saya langsung berteriak,
“Tolong bawa sini linggisnya!”
Linggis pun segera disodorkan melalui celah pintu. Saya mengambilnya. Dengan hati-hati saya arahkan ujung linggis ke besi pengait. Saya congkel. Belum berhasil. Saya congkel lagi. Masih belum.
Saya mulai berpikir,
“Jangan-jangan linggisnya juga ikut terjebak.”
Saya coba sekali lagi.
Klik!
Pengait itu terlepas.
Pintu tiba-tiba terbuka lebar.
“Alhamdulillah!”
Kami berlima langsung keluar.
Udara luar terasa sangat nikmat. Angin yang biasanya tidak pernah kami syukuri, hari itu terasa seperti AC hotel bintang lima. Kami tertawa lega. Ada yang langsung minum. Ada yang mengusap keringat. Ada yang berdiri di depan pintu sambil menarik napas panjang.
Lalu seseorang berkata,
“Setelah ini saya naik tangga saja.”
Kami semua tertawa.
Tetapi belum selesai.
Seorang teman menimpali,
“Naik tangga boleh. Tapi kalau lantai sepuluh bagaimana?”
Dia langsung diam.
Kami kembali tertawa.
Pengalaman itu memang lucu jika dikenang.
Tetapi di balik kelucuan tersebut ada pelajaran yang cukup dalam.
Ternyata masalah sering kali menjadi lebih berat ketika kita panik.
Saat berada di dalam lift, kami sempat merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar.
Padahal pintunya sebenarnya hanya tertahan oleh sebuah pengait.
Masalahnya bukan pintunya terlalu kuat. Kami hanya belum menemukan apa yang membuatnya terkunci. Begitu penyebabnya ditemukan, pintu pun terbuka.
Begitu pula kehidupan. Kadang-kadang kita merasa masalah begitu besar. Jalan terasa buntu. Pintu seolah tertutup rapat. Kita mulai panik.
Padahal bisa jadi, masalah itu hanya membutuhkan sedikit ketenangan, sedikit usaha, dan sedikit bantuan dari orang lain.
Karena itu, ketika menghadapi masalah, jangan buru-buru menyerah.
Jangan pula terlalu banyak mengeluh. Kalau masih bisa berpikir, berpikirlah. Kalau bisa berusaha, berusahalah. Kalau membutuhkan bantuan, mintalah bantuan. Dan yang paling penting, jangan lupa berdoa. Sebab pertolongan Allah bisa datang melalui jalan yang tidak kita sangka. Bisa melalui seorang teman.
Bisa melalui sebotol air.
Bisa melalui kipas kecil.
Bahkan bisa melalui sebuah linggis.
Dan dari pengalaman terjebak di lift itu saya akhirnya memahami satu hal:
Dalam hidup, jangan takut ketika pintu tertutup. Takutlah kalau kita berhenti mencari cara untuk membukanya.
Tetap tenang.
Tetap berusaha.
Tetap berdoa.
Dan kalau suatu saat naik lift…
Pastikan dulu lift-nya sehat.
Kalau tidak yakin, naik tangga saja.
Tapi jangan sampai lantainya lantai dua puluh.










Leave a Reply
View Comments