Generus Indonesia
Doom Spending. Gambar: Generus

In This Economy, Udah Harusnya Ninggalin Doom Spending

“Duh, in this economy?”

Kalimat ini rasanya makin sering muncul di kehidupan sehari-hari. Mau makan di luar, lihat harga. Mau belanja kebutuhan, lihat harga. Mau healing, lihat saldo. Di tengah kondisi ekonomi yang nggak selalu bisa diprediksi, kita dituntut untuk semakin pintar mengatur keuangan. Tapi di sisi lain, ada kebiasaan yang justru sering muncul ketika kita sedang merasa tertekan dengan keadaan: doom spending.

Pernah nggak sih, lagi capek sama kerjaan, pusing mikirin masa depan, atau sekadar merasa hidup kok gini-gini aja, tiba-tiba pengin beli sesuatu? Awalnya cuma iseng buka marketplace, lalu lihat barang lucu, ada diskon, dan akhirnya checkout. Padahal barangnya nggak benar-benar dibutuhkan. Tapi saat itu, rasanya seperti ada sedikit kebahagiaan yang bisa kita dapatkan dari sebuah pembelian.

Nah, itulah salah satu gambaran doom spending. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebiasaan belanja secara impulsif sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau perasaan nggak punya kendali atas keadaan. Sederhananya, kita belanja bukan karena benar-benar butuh, melainkan karena ingin merasa lebih baik.

Sebenarnya, membeli sesuatu yang kita suka bukan hal yang salah. Kita sudah bekerja, punya penghasilan, dan tentu boleh menikmati hasilnya. Masalahnya muncul ketika belanja menjadi pelarian setiap kali menghadapi masalah. Lagi stres, checkout. Lagi sedih, checkout. Lagi merasa tertinggal dari orang lain, checkout lagi. Lama-lama, yang tadinya ingin mencari kebahagiaan justru bisa menambah beban pikiran karena pengeluaran semakin nggak terkendali.

Ketika Belanja Jadi Cara untuk Merasa Punya Kendali

Kondisi ekonomi yang nggak pasti memang bisa membuat banyak hal terasa sulit dikendalikan. Harga kebutuhan berubah, rencana masa depan belum jelas, pekerjaan pun nggak selalu memberikan kepastian. Dalam situasi seperti ini, belanja bisa menjadi salah satu hal yang terasa masih bisa kita atur. Kita mungkin nggak bisa mengendalikan keadaan ekonomi, tetapi kita bisa memilih barang yang ingin dibeli dan menekan tombol “Beli Sekarang”.

Sayangnya, rasa puas dari belanja impulsif biasanya nggak berlangsung lama. Setelah barang datang, kita kembali menghadapi persoalan yang sama. Bahkan, kalau pengeluaran sudah melebihi kemampuan, muncul masalah baru yang sebelumnya nggak ada.

Karena itu, penting untuk mulai membedakan antara membeli sesuatu karena memang dibutuhkan dan membeli sesuatu hanya untuk mengalihkan perasaan yang sedang nggak nyaman. Dua-duanya mungkin terlihat sama dari luar, tetapi alasan di baliknya bisa sangat berbeda.

Ngomongin doom spending bukan berarti generasi muda harus berhenti jajan, nggak boleh healing, atau merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu yang disukai. Justru, menikmati hasil kerja juga merupakan bagian dari hidup yang perlu dijalani dengan seimbang.

Namun, ada baiknya kita mulai lebih sadar sebelum mengeluarkan uang. Ketika ingin membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Aku memang membutuhkan barang ini, atau sebenarnya sedang mencari pelarian dari stres?”

Kalau memang sudah direncanakan, sesuai kebutuhan, dan masuk dalam anggaran, tentu nggak masalah. Tapi kalau pembelian itu muncul karena FOMO, ingin mengikuti gaya hidup orang lain, atau sekadar ingin mengusir rasa bosan, mungkin kita bisa memberikan jeda sebelum checkout.

Sebab, nggak semua hal yang membuat kita senang harus dibeli. Kadang, istirahat yang cukup, ngobrol dengan orang terdekat, melakukan hobi, atau sekadar punya waktu untuk diri sendiri juga bisa menjadi bentuk self-reward.

Sebagai generasi muda, kita tentu punya banyak keinginan. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan, membantu orang tua, membangun karier, memiliki tempat tinggal sendiri, atau sekadar punya tabungan yang cukup untuk merasa lebih aman. Semua itu membutuhkan proses, termasuk kemampuan untuk mengelola penghasilan dengan bijak.

Profesional bukan hanya tentang bagaimana kita bekerja dan menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana kita bertanggung jawab atas apa yang kita hasilkan. Ketika penghasilan digunakan tanpa perencanaan, kita bisa terus merasa kekurangan meskipun sebenarnya sudah berusaha keras.

Di sinilah pentingnya belajar mengatur keuangan. Bukan berarti harus langsung menjadi ahli finansial, tetapi setidaknya mulai mengetahui ke mana uang kita pergi, mana yang menjadi kebutuhan, dan mana yang masih bisa ditunda. Kita juga bisa menyediakan anggaran khusus untuk hiburan atau self-reward supaya tetap bisa menikmati hidup tanpa mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap bijak dalam menggunakan harta juga sejalan dengan nilai agama. Kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dan menggunakan apa yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab. Bukan berarti harus hidup serba kekurangan, melainkan mampu menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Kita nggak harus membandingkan pencapaian finansial dengan orang lain. Nggak harus mengikuti semua tren supaya merasa cukup. Dan nggak harus selalu membeli sesuatu untuk membuktikan bahwa kita pantas menikmati hidup.

Ada kalanya kita perlu menikmati hasil kerja hari ini, tetapi ada kalanya kita juga perlu menyisihkan sesuatu untuk masa depan. Keduanya bisa berjalan bersama, selama kita tahu batas dan prioritasnya.