Generus Indonesia
Catatan Seorang Guru. Gambar: Generus

Catatan Seorang Guru yang Mulai Takut pada Masa Depannya

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Sudah kesekian kali gue kembali bertanya pada diri sendiri, sebenarnya sampai kapan gue mau bertahan menjadi guru. Bukan karena gue benci mengajar, bukan juga karena gue sudah kehilangan kepedulian terhadap murid-murid gue. Justru mungkin karena gue terlalu lama mencoba bertahan, akhirnya rasa lelah itu mulai berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar. Gue mulai takut kalau ternyata semua yang gue perjuangkan selama ini tidak membawa gue ke mana-mana. Gue takut suatu hari nanti gue melihat ke belakang dan sadar bahwa gue sudah memberikan banyak hal, tapi lupa menyelamatkan masa depan gue sendiri.

Kadang gue merasa lucu ketika profesi guru selalu dibicarakan dengan kata-kata yang begitu indah. Guru disebut pahlawan, penerang bangsa, pencetak generasi, bahkan penentu masa depan negara. Tapi semakin sering gue mendengar semua itu, semakin gue bertanya, apakah negara ini benar-benar memperlakukan gurunya seperti orang yang penting. Karena kalau memang guru dianggap penting, kenapa masih banyak guru yang hidup dengan ketidakpastian. Jangan-jangan penghargaan terhadap guru selama ini hanya berhenti sebagai slogan yang terdengar bagus saat upacara dan peringatan Hari Guru.

Gue tahu, menjadi guru memang seharusnya bukan sekadar soal uang. Tapi gue juga manusia yang harus makan, membayar kebutuhan, membantu keluarga, dan memikirkan kehidupan beberapa tahun ke depan. Idealisme memang bisa membuat seseorang bertahan, tapi idealisme tidak bisa membayar semua tagihan. Kadang gue merasa bersalah karena memikirkan uang ketika berbicara tentang profesi guru, seolah-olah seorang guru harus rela miskin agar dianggap benar-benar tulus. Padahal menurut gue, memperjuangkan kesejahteraan guru bukan berarti kita kurang cinta pada pendidikan.

Yang paling melelahkan mungkin adalah ketika kita diminta menciptakan masa depan anak-anak, sementara masa depan kita sendiri masih terasa seperti teka-teki. Kita diminta mengajarkan mereka untuk bermimpi, percaya diri, dan berani menentukan masa depan. Tapi di dalam hati, mungkin ada guru yang bahkan sedang bingung bagaimana nasib dirinya tahun depan. Ironis sekali rasanya berdiri di depan kelas dan berkata, “Kejar cita-cita kalian,” ketika kita sendiri sedang berusaha mengejar kepastian hidup. Kadang gue bertanya, apakah negara ini sadar bahwa guru yang terus hidup dalam kecemasan juga manusia yang punya batas.

Belum lagi tuntutan pekerjaan yang semakin hari terasa semakin banyak. Guru tidak cukup hanya bisa mengajar, sekarang harus kreatif, inovatif, melek teknologi, memahami kurikulum, membuat administrasi, melakukan asesmen, memahami psikologi murid, dan masih banyak hal lainnya. Semua itu terdengar bagus di atas kertas, tapi dalam kenyataan kadang terasa seperti daftar tuntutan yang tidak pernah selesai. Setiap kali satu pekerjaan selesai, selalu ada pekerjaan lain yang sudah menunggu. Lama-lama gue merasa bukan sedang menjadi pendidik, tetapi sedang berusaha bertahan dari sistem yang terus meminta lebih banyak.

Kadang gue rindu pada hal yang sebenarnya sederhana, yaitu mengajar tanpa terlalu banyak beban di belakangnya. Gue mau masuk kelas dengan pikiran yang fokus pada murid, bukan pada laporan yang belum selesai atau administrasi yang harus segera dikumpulkan. Gue mau punya waktu untuk benar-benar memikirkan bagaimana cara membantu murid yang kesulitan belajar. Tapi kenyataannya, energi seorang guru sering habis sebelum sempat melakukan hal yang paling penting. Akhirnya gue bertanya, jangan-jangan sistem pendidikan kita terlalu sibuk mengukur pekerjaan guru sampai lupa memberikan ruang bagi guru untuk benar-benar mendidik.

Hal lain yang membuat gue berpikir adalah bagaimana masyarakat terkadang melihat pekerjaan guru dengan cara yang sederhana. Banyak orang hanya melihat guru datang ke sekolah, mengajar beberapa jam, lalu pulang. Mereka tidak selalu melihat waktu yang digunakan untuk menyiapkan materi, memeriksa tugas, membuat penilaian, menghadapi berbagai karakter murid, dan menyelesaikan pekerjaan lainnya. Kadang ada masalah murid yang ikut terbawa ke pikiran bahkan setelah jam sekolah selesai. Menjadi guru ternyata tidak selalu berhenti ketika bel pulang berbunyi.

Lalu muncul teknologi yang berkembang sangat cepat dan membuat semuanya terasa semakin tidak pasti. Sekarang siswa bisa mencari jawaban sendiri, menonton penjelasan dari siapa saja, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu mereka belajar. Gue tahu bahwa teknologi seharusnya membantu guru, bukan menggantikan guru. Tapi tetap saja, ada ketakutan kecil dalam diri gue tentang seperti apa profesi ini beberapa tahun lagi. Kalau semua orang semakin percaya bahwa teknologi bisa menjawab segalanya, apakah mereka masih memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan jawaban?

Mungkin yang tidak bisa digantikan dari seorang guru adalah hubungan manusianya. Seorang guru bisa melihat murid yang tiba-tiba diam, memahami anak yang sebenarnya sedang bermasalah, atau memberikan semangat ketika seseorang hampir menyerah. Mesin mungkin bisa memberikan jawaban yang cepat, tapi belum tentu bisa memahami tatapan mata seorang anak yang sedang kehilangan arah. Namun masalahnya, apakah hal-hal seperti itu cukup dihargai oleh sistem. Dunia sering lebih mudah menghitung angka daripada menghitung dampak kemanusiaan yang tidak terlihat.

Gue juga mulai sadar bahwa menjadi guru sering kali berarti siap menerima banyak harapan dari berbagai arah. Orang tua berharap guru bisa mendidik anak mereka dengan baik, sekolah berharap guru menjalankan tugas dengan sempurna, pemerintah berharap guru meningkatkan kualitas pendidikan, dan masyarakat berharap guru menjadi teladan. Semua orang punya harapan kepada guru, tapi jarang ada yang bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru. Seolah-olah guru harus selalu kuat karena profesinya memang dianggap sebagai profesi pengabdian. Padahal guru juga bisa capek, kecewa, bingung, marah, bahkan kehilangan arah.

Ada hari-hari ketika gue mempertanyakan apakah semua ini sepadan. Gue membayangkan teman-teman lain yang mungkin memilih jalan hidup berbeda, mendapatkan pekerjaan dengan jenjang karier yang lebih jelas dan masa depan yang lebih pasti. Sementara gue masih berdiri di sini, mencoba percaya bahwa apa yang gue lakukan memiliki arti. Kadang gue iri, bukan karena gue membenci pekerjaan gue, tetapi karena gue juga mau hidup tanpa terlalu banyak rasa takut terhadap masa depan. Gue mau sesekali merasa bahwa keputusan gue menjadi guru adalah keputusan yang aman, bukan hanya keputusan yang idealis.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika guru diminta untuk terus beradaptasi tanpa selalu diberikan dukungan yang cukup. Sistem berubah, kebijakan berubah, metode berubah, teknologi berubah, dan guru harus segera mengikuti semuanya. Kalau tidak bisa mengikuti, guru dianggap tertinggal. Kalau mengeluh, guru dianggap tidak mau berkembang. Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi bukan guru tidak mau berubah, tetapi guru terlalu sering diminta berlari tanpa diberi waktu untuk menarik napas.

Kadang gue merasa pendidikan di negara ini terlalu sering berbicara tentang kualitas murid, tetapi kurang membicarakan kualitas hidup gurunya. Kita ingin murid bahagia, kreatif, kritis, dan memiliki masa depan yang cerah. Tapi bagaimana semua itu bisa dibangun dengan kuat jika orang-orang yang mendampingi mereka sendiri masih berjuang dengan kecemasan hidup. Guru diminta menjadi sumber motivasi, sementara kadang dirinya sendiri sedang kehilangan motivasi. Guru diminta menjadi cahaya, sementara tidak jarang dia harus berjalan dalam gelap sendirian.

Dan mungkin ini yang paling membuat gue takut, yaitu kemungkinan bahwa suatu hari nanti gue benar-benar kehilangan rasa cinta terhadap profesi ini. Bukan karena gue tidak pernah mencintainya, tetapi karena terlalu lama mencintai sesuatu yang tidak selalu membalas dengan baik bisa membuat seseorang kehabisan tenaga. Gue takut rasa lelah berubah menjadi rasa tidak peduli. Gue takut masuk kelas hanya untuk menyelesaikan kewajiban, bukan lagi karena ingin benar-benar hadir untuk murid. Gue takut sistem yang seharusnya mendukung pendidikan justru perlahan membunuh semangat orang-orang yang masih ingin memperjuangkannya.

Tapi di sisi lain, gue masih bertahan sampai hari ini. Mungkin karena setiap kali ingin menyerah, selalu ada satu alasan kecil yang membuat gue berpikir bahwa pekerjaan ini belum sepenuhnya selesai. Mungkin itu ketika melihat murid akhirnya memahami sesuatu, ketika ada murid yang berubah menjadi lebih percaya diri, atau ketika mereka mengatakan terima kasih tanpa alasan yang besar. Hal-hal kecil itu memang tidak bisa membayar semua keresahan gue, tapi entah kenapa masih cukup untuk membuat gue datang lagi ke kelas keesokan harinya. Mungkin gue belum sepenuhnya kehilangan harapan.

Namun, bertahan dan mencintai pekerjaan bukan berarti gue tidak boleh memikirkan masa depan. gue juga gak mau terus hidup hanya dengan berharap. Gue mau suatu hari nanti guru bisa mencintai pekerjaannya tanpa harus mengorbankan seluruh hidupnya. Gue mau menjadi guru tanpa merasa bahwa memilih profesi ini berarti harus menerima ketidakpastian sebagai sesuatu yang normal. Gue mau negara ini berhenti hanya memuji guru ketika membutuhkan mereka, lalu melupakan mereka ketika berbicara tentang kesejahteraan dan masa depan. Karena kalau pendidikan memang dianggap penting, maka orang-orang yang menjalankan pendidikan seharusnya juga dianggap penting.

Mungkin keresahan ini tidak akan langsung menemukan jawabannya hari ini. Gue juga belum tahu apakah lima atau sepuluh tahun lagi gue masih akan berdiri di depan kelas yang sama. Bisa jadi banyak hal berubah, termasuk cara gue melihat profesi ini dan cara dunia melihat guru. Tapi untuk sekarang, gue hanya ingin jujur kepada diri sendiri bahwa menjadi guru memang tidak selalu mudah, indah, atau menjanjikan. Gue sedang belajar mencintai pekerjaan ini sambil tetap memperjuangkan hak gue untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, gue rasa keresahan seorang guru bukan berarti dia tidak bersyukur dengan pekerjaannya. Justru karena masih peduli, maka banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang muncul. Gue resah karena gue ingin pendidikan menjadi lebih baik, tetapi gue juga ingin kehidupan guru menjadi lebih baik. Gue mau terus memberikan yang terbaik kepada murid, tetapi gue juga tidak mau kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.

Gue tekankan sekali lagi bahwa: untuk sekarang, gue belum punya jawaban apakah gue akan menjadi guru sampai tua atau memilih jalan yang lain. Gue hanya tahu bahwa akhir-akhir ini gue semakin sering memikirkan masa depan dengan rasa cemas. Gue masih ingin mengajar, masih ingin berguna, dan masih ingin percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup seseorang. Tapi gue juga sedang belajar bahwa mencintai profesi tidak boleh membuat gue mengabaikan hidup gue sendiri. Mungkin menjadi guru adalah bagian dari hidup gue, tetapi gue tidak mau seluruh hidup gue habis hanya untuk bertahan dalam sistem yang tidak selalu tahu bagaimana cara menjaga gurunya.