Oleh Fitri Utami
Pernah nggak sih, lagi santai buka media sosial, tiba-tiba merasa hidup kita kurang? Melihat teman yang sudah punya pekerjaan impian. Melihat orang lain berhasil meraih prestasi. Melihat seseorang yang tampaknya punya kehidupan yang lebih menarik.
Lalu muncul pikiran kecil, “Kok mereka sudah sejauh itu, ya? Aku kapan?”
Padahal, sebelumnya kita baik-baik saja. Inilah salah satu tantangan hidup di era digital. Kita semakin mudah melihat perjalanan orang lain, tetapi sering lupa menikmati perjalanan diri sendiri.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan bab hidup kita dengan bab orang lain yang bahkan belum selesai kita baca.
Kita Sering Melihat Pencapaian, Bukan Perjuangan
Saat melihat keberhasilan seseorang, kita biasanya hanya melihat hasil akhirnya. Kita melihat saat mereka berhasil, tetapi tidak melihat berapa kali mereka gagal. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak tahu berapa banyak usaha yang mereka lakukan. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak tahu apa saja yang mereka perjuangkan di balik layar.
Karena itu, membandingkan hidup kita dengan apa yang terlihat bukanlah sesuatu yang adil.
Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang diberi jalan cepat, ada yang harus melewati perjalanan panjang. Ada yang menemukan kesuksesan lebih awal, ada pula yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk menemukan jalannya.
Dan itu semua tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah.
Ketika Kita Lupa Mensyukuri Apa yang Sudah Ada
Sering kali, rasa tidak cukup muncul bukan karena kita tidak memiliki apa-apa. Namun, karena kita terlalu fokus melihat apa yang belum kita punya. Kita lupa bahwa ada banyak hal yang dulu pernah kita doakan, tetapi sekarang sudah kita miliki.
Kesempatan belajar, keluarga yang mendukung, kesehatan, teman yang baik, kemampuan untuk terus berkembang, bahkan kesempatan untuk memperbaiki diri setiap hari adalah nikmat yang sering kali luput kita sadari.
Di sinilah kita perlu belajar qanaah.
Qanaah: Merasa Cukup Tanpa Berhenti Berusaha
Qanaah bukan berarti menyerah atau tidak memiliki impian. Justru, seseorang yang memiliki sifat qanaah tetap boleh punya target besar dan terus berusaha mencapai cita-citanya. Bedanya, tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai alasan untuk merasa gagal. Namun percaya bahwa setiap orang memiliki waktu terbaik yang sudah Allah atur.
Ada yang berhasil di usia muda. Ada yang harus mencoba berkali-kali sebelum mendapatkan apa yang diinginkan. Ada yang jalannya terlihat mudah. Ada yang harus melewati banyak tantangan.
Namun, bukan berarti salah satunya lebih berharga. Karena nilai seseorang bukan hanya dilihat dari seberapa cepat ia sampai, tetapi bagaimana ia menjalani prosesnya.
Melihat keberhasilan orang lain sebenarnya bukan sesuatu yang salah Kita bisa belajar dari mereka. Kita bisa menjadikan perjuangan mereka sebagai motivasi. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita kehilangan rasa syukur terhadap diri sendiri.
Daripada bertanya, “Kenapa aku belum seperti mereka?”
Coba ubah menjadi:
“Apa yang bisa aku pelajari dari mereka?”“Apa langkah kecil yang bisa aku lakukan hari ini?”
Karena setiap orang punya waktunya masing-masing, dan hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat.
Ada perjalanan yang memang membutuhkan waktu lebih lama karena di dalamnya ada banyak pelajaran yang perlu kita dapatkan. Maka, teruslah berusaha. Kejar impianmu. Tingkatkan kemampuanmu. Namun, jangan lupa berhenti sejenak untuk melihat betapa banyak hal baik yang sudah Allah berikan. Sebab, bahagia bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bahagia juga tentang memiliki hati yang mampu menerima, menghargai, dan mensyukuri apa yang sudah Allah titipkan. Karena terkadang, yang membuat kita merasa kurang bukan karena hidup kita kurang baik, tetapi karena kita terlalu sering melihat hidup orang lain.










Leave a Reply
View Comments