Oleh Anton Kuswoyo
Aku lahir dari keluarga sederhana, keluarga transmigran di pedalaman Kalimantan Tengah. Bapakku seorang petani, tetapi bukan petani tuleh yang hanya menggantungkan hidup dari sawah. Jika musim tanam selesai atau hasil panen tak mencukupi, beliau merantau ke berbagai daerah. Kadang menjadi buruh bangunan, kadang mendapat borongan membuat jalan desa. Dari beliau aku belajar satu hal: laki-laki tidak boleh takut meninggalkan kampung demi mencari nafkah yang halal.
Suatu hari bapak mengajakku ikut merantau, bertepatan liburan panjang sekolah. Beliau mendapat pekerjaan membangun jalan di sebuah desa pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Pujon. Perjalanan kami tempuh sehari semalam menggunakan bus air, menyusuri Sungai Kapuas yang luas dan berkelok-kelok seperti ular raksasa. Bus air adalah sebutan perahu besar bermesin diesel.
Malam itu aku hampir tidak bisa memejamkan mata. Suara mesin diesel terus bergemuruh. Geladak perahu bergoyang mengikuti arus sungai. Di kepalaku terbayang buaya-buaya besar yang konon banyak menghuni Sungai Kapuas. Sesekali rasa takut muncul, tetapi kulihat bapak tidur dengan tenang. Mungkin begitulah orang yang sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup.
Sesampainya di Desa Pujon, kami menempati sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Ketua adat desa yang membantu mencarikannya.
Mayoritas penduduk desa merupakan masyarakat Dayak. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak kupahami. Sebagian besar memeluk agama Kaharingan, sebuah kepercayaan yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya mereka.
Awalnya aku merasa asing. Namun semakin lama tinggal di sana, aku menyadari bahwa perbedaan bahasa, adat, dan keyakinan tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain.
Setiap hari kami bekerja membuat jalan desa. Semua dilakukan secara manual. Tanah diratakan dengan cangkul dan sekop, lalu ditutup batu-batu kerikil. Tidak ada alat berat yang mampu menjangkau desa terpencil itu. Jalan itu bukan sekadar menghubungkan satu tempat ke tempat lain, tetapi menjadi harapan agar kehidupan warga menjadi lebih mudah.
Pekerjaan itu jauh lebih berat daripada yang kubayangkan. Sejak matahari baru muncul hingga menjelang senja, kami terus bekerja di bawah terik yang seolah membakar kulit. Keringat mengucur tanpa henti, membasahi baju hingga seperti habis dicelupkan ke sungai. Telapak tangan mulai melepuh karena terlalu sering menggenggam cangkul dan sekop. Bahu terasa pegal memikul karung-karung kerikil, sementara kaki bengkak akibat terlalu lama berdiri dan keluar masuk lumpur. Kadang kami harus mengangkat batu bersama-sama sambil mengatur napas agar tidak roboh kelelahan. Debu beterbangan saat tanah mengering, bercampur dengan peluh yang mengalir ke wajah. Ketika malam tiba, rasanya seluruh persendian seperti dipukul-pukul. Bahkan untuk sekadar membalikkan badan di tempat tidur pun terasa sakit.
Namun, setiap kali melihat bapak tetap bekerja tanpa mengeluh, rasa lelahku berubah menjadi rasa malu. Beliau sudah puluhan tahun menjalani hidup seperti ini demi keluarga. Dari balik peluh yang bercucuran itu aku belajar bahwa mencari nafkah yang halal memang tidak pernah mudah. Rezeki tidak turun bersama hujan, tetapi harus dijemput dengan kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan.
Di tengah kesibukan bekerja, ada satu hal yang selalu menarik perhatianku.
Hampir setiap pagi datang seorang gadis belia membawa teko berisi teh hangat dan beberapa makanan ringan. Ia tidak pernah meminta bayaran. Ia hanya meletakkan semuanya, lalu duduk memperhatikan kami bekerja.
Wajahnya sederhana tanpa riasan. Rambutnya lurus sepinggang berwarna hitam pekat. Senyumnya tenang, seolah kehadirannya hanyalah bentuk kepedulian kepada orang-orang yang sedang bekerja membangun desa mereka.
Aku sering bertanya-tanya, mengapa ia begitu baik kepada kami.
Suatu hari seorang perantau asal Jawa yang telah lama menetap di desa itu bercerita.
“Banyak gadis di sini berharap mendapat suami orang Jawa,” katanya sambil tersenyum. “Mereka kagum pada orang Jawa sebagai pekerja keras.”
Lalu ia bercerita tentang dirinya sendiri. Dahulu ia tidak memahami adat setempat. Karena sering ngobrol berdua dengan seorang gadis desa, akhirnya ia dikenai hukum adat, yakni harus dinikahkan dengan gadis desa itu.
“Apa Bapak tidak pernah ingin pulang ke Jawa?” tanyaku.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Aku sudah memilih tinggal di sini. Kalau hati sudah diberi tempat untuk menetap, kampung halaman pun perlahan menjadi kenangan.”
Jawaban itu terus terngiang di kepalaku.
Selama hampir satu bulan kami bekerja, aku semakin memahami bahwa adat bukanlah sesuatu yang harus ditertawakan atau ditakuti. Adat lahir untuk menjaga nilai yang diyakini masyarakat. Tugas pendatang bukan menghakimi, melainkan menghormatinya.
Akhirnya pekerjaan kami selesai.
Pagi itu kami mengemasi barang-barang menuju dermaga. Bus air sudah bersiap berangkat meninggalkan desa itu.
Saat menaiki perahu, tanpa sengaja mataku bertemu dengan gadis yang selama ini selalu mengantar teh.
Ia berdiri sendirian di ujung dermaga.
Tangannya menggenggam erat ujung selendang. Matanya berkaca-kaca. Ketika mesin perahu mulai menderu dan tali tambat dilepas, air matanya perlahan jatuh.
Aku hanya mampu membalas dengan lambaian tangan.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada janji.
Tidak pula keberanian untuk menoleh terlalu lama.
Bus air terus menjauh. Sosoknya semakin kecil hingga akhirnya menghilang di balik tikungan Sungai Kapuas.
Di perjalanan pulang aku banyak merenung.
Merantau ternyata bukan hanya soal mencari penghasilan. Merantau mengajarkan bahwa di setiap tempat selalu ada orang-orang baik yang mungkin tak akan pernah kita temui lagi. Ada budaya yang harus dihormati, ada persahabatan yang tak memerlukan bahasa yang sama, dan ada perasaan yang cukup disimpan sebagai kenangan.
Bapak pernah berkata, “Ke mana pun kita pergi, bawalah nama baik. Harta bisa habis, pekerjaan bisa selesai, tetapi kebaikan akan selalu tinggal di hati orang lain.”
Kini aku mengerti maksud perkataan itu.
Jalan yang kami bangun mungkin suatu hari akan rusak dimakan waktu. Namun pelajaran yang kudapat selama merantau akan tetap menjadi jalan yang menuntunku sepanjang hidup. (*)










Leave a Reply
View Comments