Oleh Fitri Utami
Bidet itu sebenarnya sudah bocor sejak seminggu lalu. Awalnya cuma setitik air yang menetes pelan. Gangguan kecil yang rasanya bisa ditoleransi satu hari lagi, lalu satu hari lagi, lalu satu hari lagi. Sampai akhirnya bocornya membesar dan semakin tak terkendali. Sama seperti banyak hal dalam hidup.
Lalu ada AC yang berisik setiap kali dinyalakan. Suaranya mengganggu, seperti sedang berusaha memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana. Aku tidak tahu apa masalahnya. Bahkan hipotesisku pun asal-asalan. Tapi aku tahu satu hal: kalau tidak diurus, masalah itu tidak akan hilang dengan sendirinya.
Jadi hari libur ini aku tidak pergi ke mana-mana. Tidak ada agenda menarik. Tidak ada kafe baru. Tidak ada jalan-jalan. Hanya aku, bidet yang bocor, AC yang berisik, dan daftar urusan dewasa yang entah sejak kapan menjadi tanggung jawabku.
Di tengah-tengah itu aku baru sadar, mungkin inilah bentuk paling nyata dari hidup mandiri.
Bukan tentang bisa makan sendirian di restoran. Bukan tentang bisa bepergian tanpa teman. Bukan juga tentang foto-foto estetik yang membuat kemandirian terlihat keren. Hidup mandiri adalah ketika ada sesuatu yang rusak, dan tidak ada sosok yang secara otomatis akan membereskannya untukmu.
Tidak ada orang yang akan tiba-tiba muncul sambil berkata, “Udah, sini aku urus.”
Kamu yang harus mencari nomor tukangnya. Kamu yang harus menjelaskan kerusakannya. Kamu yang harus meluangkan waktu menunggu. Kamu yang harus mengeluarkan uangnya. Kamu yang harus memastikan semuanya selesai. Terdengar sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele itulah aku merasa menjadi dewasa.
Sudah tujuh tahun sejak pertama kali merantau untuk kuliah. Tujuh tahun belajar bahwa kehidupan ternyata dipenuhi oleh hal-hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Cara pindahan kost. Cara bernegosiasi dengan tukang. Cara merakit lemari portable dengan petunjuk yang membingungkan. Cara memasang papan kayu di dinding, dan menerima kenyataan bahwa ternyata terpasang terbalik.
Lucunya, sebagian besar kemampuan itu tidak lahir dari keberanian. Tapi dari keadaan. Karena tidak ada pilihan lain.
Dan mungkin itu yang sering luput dari pembicaraan tentang kemandirian. Kita menganggap orang mandiri adalah mereka yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Padahal semakin lama hidup, aku justru merasa kemandirian bukan tentang itu.
Kemandirian adalah ketika kita tetap bergerak meski tidak tahu caranya. Menelepon tukang sambil gugup karena takut terdengar bodoh. Membuka video tutorial sambil berharap masalahnya sesederhana yang terlihat di layar. Mengambil keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah terasa heroik, tetapi harus tetap dilakukan.
Kadang aku masih merasa plonga-plongo. Masih sering berharap ada orang dewasa lain yang lebih dewasa untuk dimintai bantuan. Lalu aku tersenyum karena menyadari satu hal yang sedikit menyebalkan: Orang dewasa yang selama ini kucari itu ternyata adalah diriku sendiri.
Versi yang belum sempurna. Versi yang masih sering salah pasang, salah kira, dan salah paham. Tapi versi yang selalu muncul setiap kali ada yang bocor, rusak, atau berantakan.
Dan mungkin, setelah tujuh tahun, itulah yang paling kusyukuri dari hidup jauh dari keluarga. Bukan karena aku jadi bisa melakukan semuanya sendiri. Tapi karena aku jadi tahu bahwa ketika hidup menaruh masalah kecil di depan pintu, aku tidak lagi menunggu seseorang datang menyelamatkan.
Aku akan menghela napas, mencari cara, lalu mulai membereskannya satu per satu, meski sering sambil bingung, meski sering sambil mengeluh. Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.










Leave a Reply
View Comments