Oleh Fitri Utami
Di ujung hari yang menggigil pelan, aku belajar memungut diri sendiri— yang tercecer di antara doa-doa yang belum sempat sempurna diaminkan.
Langit tak lagi sekadar biru, ia menjadi hamparan takdir yang diam-diam dituliskan, oleh tangan yang tak pernah salah menakar luka dan bahagia.
Aku berjalan tanpa banyak tanya, sebab pada akhirnya aku tahu— tidak semua harus kupahami, sebagian hanya perlu kuimani.
Dan ketika malam menurunkan sunyi, aku bersujud lebih lama dari biasanya, menitipkan lelah yang tak pandai bercerita, pada Dzat yang Maha Mendengar bahkan yang tak terucap.
Sebab kini aku mengerti, pulang bukan tentang siapa yang menunggu, melainkan tentang hati yang kembali tunduk— pada-Nya, yang tak pernah pergi.










Leave a Reply
View Comments