Oleh Thifla Thuwaffa Isqy
Jam dinding menunjukan tengah malam, waktu Kania dan jiwa “filsuf”nya bekerja tanpa diminta. Ia menuangkan renungannya tentang makna kehidupan, “Apa itu arti hidup? Mengapa kita ada di muka bumi ini?,“ tulisnya di buku catatan. Akhir-akhir ini ia merasa jauh lebih melankolis dibanding biasanya. Mungkin karena usianya sudah memasuki fase dewasa awal, “Apa aku udah tua ya? Ah enggak deh, baru umur 23 juga.”
Kania menepis pikirannya sendiri. Lagipula, penelitian Cambridge terbaru menunjukan otak manusia masih dalam kategori remaja hingga usia 32 tahun Itu artinya Kania masih remaja, kan? hihihi. Rupanya, rasa kantuknya lebih kuat dibanding jiwa filsufnya, Kania terlelap dengan buku catatan didekapnya.
Kania Aghisna Kisa, seorang perempuan muda yang menjadi pekerja dengan gaji UMR Jakarta dan berusaha bertahan dengan pendapatannya dari bulan ke bulan. Kania membawa mimpi dari tanah kelahirannya untuk mengadu nasib di ibu kota, bukan karena tidak mau menemani orangtuanya, namun Kania merupakan tulang punggung keluarga. Dengan nominal UMR daerah, mana cukup menghidupi keluarganya dan membayar biaya pendidikan adiknya?
Kania punya hobi menulis, ya meskipun kemampuannya nggak sebagus penulis terkenal macam Dee Lestari atau fantasi yang megah seperti J.K Rowling dengan Harry Potter-nya. Tapi, dengan menulis, pikiran kusutnya dapat terurai dan menjadi hiburan gratis baginya. Seperti malam ini dan malam-malam sebelumnya, mungkin kalau ditotal ada 20 buku catatan yang sudah dihabiskannya.
Pagi itu, Kania berangkat ke kantor seperti biasa, menjadi “pepes manusia” dengan tas laptop yang siaga dipeluknya menjadi hal biasa. Jika kalian bertanya, mengapa Kania tidak tinggal saja di kosan dekat kantor? Jawabannya karena mahal, kos di dekat area perkantoran bisa menghabiskan 30 persen dari gajinya. Alhasil, Kania memilih kos di area pinggir kota dan naik kendaraan umum untuk menghemat.
Awalnya, Kania berpikir dapat menaiki kereta selanjutnya dengan penumpang yang lebih sedikit, jadi dia melewatkan setiap kereta yang dianggapnya penuh. Namun, ia makin gelisah karena waktunya semakin menipis dan ia harus segera ke kantor, alhasil ia menerabas bersama puluhan pejuang rupiah lainnya untuk naik ke gerbong yang penuh itu. “Sesak,” batinnya.
Perjalanan dari stasiun awal ke stasiun pemberhentiannya memakan waktu 40 menit, dengan transit di salah satu stasiun besar utama yang menjadi pusat persimpangan berbagai rute. Di sinilah kekuatan kakinya diuji, Kania harus berpindah peron dengan berdesakan bersama ratusan manusia lainnya. Persenggolan tak terelakan, tak jarang ada cekcok dan Kania juga akan menonton “drama” antar penumpang.
Sesampainya di stasiun tujuan, Kania akan berjalan kaki 1 Km menuju kantor. Di sekitar stasiun, Kania disambut oleh pedagang asongan mulai dari gorengan hingga masker wajah yang sempat langka saat masa Corona. Kania sadar harus membeli tissue wajah yang habis, dihampirinya bocah laki-laki berpakaian lusuh dengan tisu berjejer bertuliskan “Tisu = Rp5.000”.
“Adek, mau beli tisu satu ya”, ujar Kania sambil mengeluarkan uang Rp50.000 dari dompetnya.
Bocah tersebut menerima uang Kania dan menyerahkan satu tisu dengan senyum, sembari menghitung uang untuk kembalian Kania.
“Makasih Kak.”
“Kamu umur berapa?,” tanya Kania.
“10 tahun Kak”
“Udah berapa lama jualan disini Dek?.”
“Dua tahun Kak, bantuin ibu cari uang buat adek.”
“Adik kamu umurnya berapa?.”
“Empat tahun, tapi kata ibu, adek sakit ginjal, jadi disuntik terus dan butuh duit banyak.” pandangannya tertunduk.
Ah, Kania seperti melihat dirinya sendiri, tapi anak ini masih terlalu kecil untuk memikul tanggung jawab sebesar itu.
“Cepet sehat ya buat adik kamu, nggak usah kembalian dek, sisanya buat kamu dan adik kamu ya,” ucap Kania sambil beranjak pergi, bocah itu semringah sambil memegang uang tersebut. Meskipun pendapatannya tidak seberapa, ia selalu bersyukur dengan mengalokasikan dana untuk bersedekah.
Jalan kaki ke kantor cukup menyenangkan, selain hemat juga buat tubuh Kania sehat. Meskipun pemandangannya adalah kemacetan di jalan protokol utama, Kania anggap seperti jalan-jalan di showroom mobil. Tapi tidak dengan pagi itu, sirine motor gede Honda Gold Wing yang ditunggangi petugas menambah riuhnya bunyi klakson kendaraan, diikuti dengan mobil mewah yang melenggang setelah dibukakan jalan bak Nabi Musa membelah lautan.
“Emang darurat ya? Ambulans bukan, mobil pemadam kebakaran bukan. Siapa sih itu?,” geram Kania, ia tetap melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Naik ke lantai 30, Kania tiba di kubikel kerjanya. Jangan kira, pekerja di kawasan elit bergaji besar semua, toh Kania juga lulusan baru jadi memang masih merintis karir. Baru menyadarkan punggungnya di kursi, “Kan, kan. Lo harus lihat ini,” rekannya, Yani mengagetkannya.
“Nama gua Kania btw, ada apa sih?”
“Ini viral banget, tadi pagi ada mobil mewah yang trabas jalan macet, ternyata pejabat mau rapat, terus ternyata dia juga yang nolak usulan penambahan gerbong KRL dari Jepang, padahal industri kita juga belum mampu produksi kan”
Layar HP itu menunjukan video cuplikan rapat dan wawancara pejabat tersebut,
“Satu set kereta saja mahal sekali sekitar 150 miliar, tapi kualitasnya bagaimana? Apa sebaiknya tidak dipikirkan alternatif solusinya, misalnya produksi dalam negeri.”
Kania mengerutkan dahi, “apa maksud?”
Kemudian Yani memutar video wawancara pejabat tersebut.
“Bagaimana tanggapan bapak atas video Bapak tadi pagi yang viral?,” ucap seorang wartawan di video itu.
“Saya kira, patwal merupakan hal yang wajar ya, karena untuk efisiensi waktu, apalagi Jakarta macet, agar tidak telat agenda negaranya Mbak. Saya rasa masyarakat juga memahami hal itu,” pejabat tersebut tersenyum kecut.
Ah, itu mobil yang dilihatnya saat perjalanan menuju ke kantor, Kania mulai mengatur nafasnya, rasanya kepalanya seperti gunung berapi yang siap untuk meledak. Baru pagi tadi dia jadi pepes, lalu bertemu anak yang putus sekolah, dan sekarang? Sumber masalahnya muncul ternyata. Entah bagaimana dia dapat menahan gejolak amarahnya selama ini, tapi yang ia yakini ia hanya bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Tadi pagi gua lihat mobil itu Yan, ya gua doain deh biar masih ada nuraninya di pejabat itu. Yang penting kita tetep kritis dan terus bersuara ya, kalau masih nggak denger juga, coba suruh ke dokter THT Yan pejabat lo itu hahaha,” Kania berusaha mencairkan suasa.
“Ah bisa aja loh, BTW, jangan lupa Kan, minggu depan kita ada medical check up. Jangan capek-capek, inget Jangan bergadang loh!” Ucap Yani sambil memijat pundak Kania.
“Iya iya, ini bisa full massage nggak Yan? Haha”
“Yuuhh enak aja, bayar” Yani mengakhiri pijatannya sambil berlalu ke kubikelnya.
Kania lanjut bekerja hingga akhir hari, ia menuliskan catatan “MCU, next week” dan menempelkannya di mading pribadinya.
Pagi itu, Kania menyadari banyak kejadian dikotomi dalam satu waktu, pengadilan paling adil bukan dunia, tapi Hari Akhir. Allah tidak menciptakan dunia ideal menurut umat manusia, tapi Allah sudah menggariskan takdir paling baik bagi hamba-Nya yang berikhtiar dan tawakal. Bocah penjual tissue dan pejabat tak tau malu, akan jadi bahan tulisan Kania malam ini.
(Bersambung)










Leave a Reply
View Comments